diajeng.id - Bagi sebagian dari kita, kehilangan sosok ibu adalah salah satu pengalaman paling emosional dalam hidup.
Ketika raga ibu tidak ada lagi di hadapan kita, rasa kehilangan yang muncul bisa jadi begitu besar sampai-sampai membuat hidup tidak lagi terasa sama.
Bagi kita yang telah dewasa, kepergian ibu bahkan dapat mengguncang cara kita memahami diri sendiri dan memaknai ulang posisi kita di dalam keluarga.
Mengapa Kehilangan Ibu Berdampak Begitu Besar?
Farina (41) mengaku sangat terpukul saat mengetahui kenyataan ibunya sudah tiada pada akhir 2025 lalu. Meski sudah menikah dan memiliki dua orang anak, sehari-hari Farina masih rutin berkomunikasi dengan sang ibu, mulai dari membicarakan anak-anak, menu masakan, sampai obrolan ringan lainnya.
"Mama, meski tahu aku udah punya keluarga sendiri, tapi ternyata paling perhatian, dan itu baru dirasakan banget setelah orangnya enggak ada," ujarnya kepada Diajeng.
Bagi Farina, kehilangan itu akan benar-benar terasa ketika ibunya sudah meninggal dunia. Rumah yang biasanya terasa "hidup"jadi terasa sepi tanpa suara serta kehadiran ibu.
Jika sudah tak kuat menahan rindu, Farina akan pergi menyendiri sementara dan menangis untuk melepaskan rasa rindu.
"Biasanya rindu akan lebih terasa kalau lagi sendiri, dan nangis jadi cara ampuh untuk menenangkan diri sambil ingat-ingat nasihat yang baik dari Mama, ingat senyumnya yang khas, dan paling kirim doa, karena cuma itu sekarang yang bisa dikasi buat Mama," tutup Farina.
Pengalaman Farina jamak dirasakan orang dewasa.
Menurut Psychology Today, sebagian besar orang dewasa akan terkejut dengan betapa kuatnya reaksi duka yang mereka rasakan setelah ibu mereka meninggal, bahkan jika hubungan dengan ibu sebelumnya tidak terlalu dekat.
Berdasarkan sebuah survei tahun 2015 yang dikutip dari laman VeryWell Mind, bagi sekitar 20-30 persen responden, kehilangan orang yang dicintai dianggap sebagai peristiwa paling traumatis dalam hidup mereka.
Dampak besar ini berakar pada teori ikatan kelekatan (attachment theory) yang dikemukakan oleh psikolog asal Inggris, John Bowlby. Anak-anak lahir dengan dorongan biologis untuk mencari kedekatan dengan pengasuh mereka. Hubungan tersebut umumnya terbentuk berdasarkan kasih sayang dan responsivitas.
Ibu sering kali menjadi "benang merah" yang berjalan di sepanjang hidup kita. Ibu cenderung akan selalu ada di sekitar kita dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Begitu ibu tiada, kita tiba-tiba merasa berada di urutan terdepan, merasakan tanggung jawab yang berat atas masa depan tanpa tempat utama untuk meminta saran atau afirmasi.
Dampak Psikologis dan Fisik pada Anak Dewasa
Kesedihan akibat kehilangan ibu tidak hanya menyerang pikiran, tetapi juga tubuh.
Secara psikologis, emosi yang muncul sangat kompleks, mulai dari syok, mati rasa (numbness), kesedihan yang mendalam, kemarahan, hingga rasa bersalah.
Bagi mereka yang memiliki kepribadian sensitif, rasa sakit ini bisa terasa lebih intens dan menyelimuti setiap aspek hidup mereka.
Dalam beberapa kasus, kehilangan yang mendalam dapat memicu risiko gangguan kejiwaan seperti gangguan depresi mayor, gangguan panik, atau PTSD, terutama jika kesedihan tersebut menetap secara intens lebih dari satu tahun, yang dikenal sebagai Prolonged Grief Disorder.
Langkah Menghadapi Masa Berduka dengan Sehat
Berduka adalah proses panjang yang tidak bisa dipaksakan.
Siti (59), seorang konselor di Yogyakarta, kehilangan sang ibunda tahun lalu karena sakit pada usia tua. Dalam upayanya memahami kedukaan, Siti memutuskan untuk memberikan dirinya ruang belajar tentang prosesnya.
"Saya belajar dari Elisabeth Kübler-Ross tentang tahap-tahap kedukaan. Pertama ada penolakan atau denial, kemudian rasa marah (anger), lalu tahap tawar-menawar (bargaining), selanjutnya adalah depresi (depression), sampai akhirnya kita bisa tiba pada titik penerimaan atau acceptance. Saya berusaha memahami proses kedukaan dengan cara tersebut, meski praktiknya tidak semulus atau semudah itu," tutur Siti pada Diajeng.
Siti menegaskan, tidak ada "peta jalan" yang pasti dalam memproses kedukaan. Namun, dalam pengalamannya, Siti mengingatkan pentingnya membangun support system yang bisa dipercaya dan memberinya kenyamanan.
Siti melanjutkan, "Mereka membantu saya menangis secukupnya apabila diperlukan. Kehadiran mereka juga membantu saya menerima kenyataan baru bahwa sekarang saya hidup tanpa sosok ibu."
Sementara itu, psikoterapis Julie Bjelland dalam situs resminya berpesan tentang pentingnya untuk mengizinkan diri untuk merasakan segala hal, alih-alih menekan emosi yang muncul. Merasakan sedih di satu waktu, kemudian mati rasa di waktu berikutnya, pada esensinya adalah realitas yang lumrah.
Jangan lupa untuk merawat diri (self-care). Di tengah perasaan sedih karena kehilangan, jangan lupa untuk memprioritaskan kebutuhan dasar seperti makan, hidrasi, dan istirahat.
Tidak ada salahnya juga melakukan aktivitas yang disukai ibu untuk mengenang hal-hal baik tentangnya, seperti memasak makanan favoritnya, berkebun, atau menonton film kesukaannya. Cara-cara ini sangat mungkin memberikan rasa koneksi yang menenangkan jiwa kita.
Atau, bisa juga membuat "kotak kenangan" yang berisi foto dan benda-benda berharga untuk membantu menjaga ingatan kepada ibu agar tetap hidup.
Apabila perasaan duka terasa terlalu berat untuk kamu tanggung sendiri, pertimbangkan untuk menghubungi profesional seperti psikolog atau konselor.
Dalam banyak pengalaman orang, rasa kehilangan dan kedukaan tidak pernah bisa benar-benar lenyap. Namun, seiring waktu, intensitas rasa sakitnya bisa berkurang dan berubah menjadi kenangan kuat yang mendorong kita untuk terus melanjutkan hidup.
Artikel menarik lainnya bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih