Menuju konten utama

Istri Bergaji Lebih Tinggi: Harmoni dalam Ruang Kompromi

Rumah tangga yang harmonis lahir dari kepercayaan dan kompromi, bukan dari siapa yang bergaji lebih tinggi.

Istri Bergaji Lebih Tinggi: Harmoni dalam Ruang Kompromi
Header Diajeng Gaji Istri Lebih Tinggi. tirto.id/Quita

diajeng.id - Dalam banyak tradisi masyarakat yang dipengaruhi budaya patriarki, mengakar keyakinan bahwa laki-laki harus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Disadari maupun tidak, sebagian masyarakat modern masa kini masih melihat laki-laki sebagai "provider" alias pencari nafkah utama dan perempuan sebagai "caregiver" yang lebih banyak terlibat dalam kerja-kerja perawatan, seperti mengasuh anak, merawat keluarga, dan melakukan tugas-tugas domestik.

Dengan kuatnya pandangan tersebut, bagi sebagian orang, keluarga yang ditopang oleh perempuan sebagai pencari nafkah utama mungkin jadi terlihat tidak wajar.

Sebegitu dipandang tidak lumrahnya, sampai-sampai muncul stigma sosial atau anggapan bahwa relasi pada pasangan yang istrinya tulang punggung ekonomi tersebut kurang diminati, berkualitas lebih buruk, dan kurang stabil.



Demikian hasil survei terhadap lebih dari 2.400 responden di Canada dan Amerika Serikat dalam studi yang terbit di jurnal Sex Roles pada Februari 2025.

Studi ini juga menunjukkan bahwa pasangan yang istrinya merupakan pencari nafkah utama acap kali dipersepsikan lebih rentan bercerai.

Masih dari penelitian yang sama, disimpulkan bahwa artikel-artikel pemberitaan di media Inggris Raya, AS, dan Canada turut berkontribusi memperkuat stigma bahwa pernikahan berisiko goyah hanya karena perempuan berpenghasilan lebih besar. Melalui narasi media inilah perempuan bergaji lebih tinggi kerap digambarkan problematik.



Di balik pesimisme yang muncul dalam stigma terkait female breadwinner, statistik perempuan "provider" mustahil untuk diabaikan.



Melansir Forbes, di Amerika Serikat, diperkirakan 31-37 persen perempuan adalah pencari nafkah utama dalam relasi romantis, sementara 26 persen perempuan di Canada dan 31 persen perempuan di Inggris Raya memiliki gaji lebih tinggi daripada pasangannya.

Bagaimana dengan situasinya di Indonesia?

Melansir laporan Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) bulan Agustus 2024, sebanyak 14,37 persen pekerja atau sekitar satu dari sepuluh pekerja di Indonesia termasuk dalam kategori female breadwinner.

Dalam konteks ini, perempuan dikategorikan sebagai breadwinner jika mereka bekerja dan menerima pendapatan terbesar, termasuk menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam rumah tangga.

Persentase female breadwinner terbanyak, yaitu 40,77 persen, berstatus sebagai istri, diikuti 39,82 persen berstatus kepala rumah tangga dan 17,81 persen berstatus anak, cucu, atau menantu.

Pengalaman Irna dan Yanti

Meski kerap dianggap tidak lazim, pasangan dengan istri sebagai pencari nafkah utama tentu saja mampu membangun rumah tangga harmonis dan menjaga keberlangsungan pernikahan.

Awal Oktober ini, Diajeng berkesempatan mendengarkan cerita dari dua perempuan berdomisili di Jakarta yang berpenghasilan lebih besar dari suaminya, Irna dan Yanti.

Irna (41) mengaku sedari awal pernikahan dia dan pasangan sudah terbuka dan berkomitmen untuk tidak mempermasalahkan nominal gaji yang berbeda.

Sebab, lanjutnya, gajinya dan suami digabungkan untuk memenuhi kebutuhan bersama dan dialokasikan untuk tabungan masa depan.

Irna dan suami menyadari bahwa topik mengenai gaji istri yang lebih besar dari suami sering kali dianggap sensitif oleh sebagian orang.

"Karena itu, kami sepakat untuk menjaga privasi dengan tidak membicarakan detail nominal gaji kepada pihak luar, terutama keluarga besar. Bukan berarti kami menutup diri, tetapi lebih karena kami tidak ingin memunculkan pandangan miring atau penilaian yang bisa merendahkan salah satu di antara kami," jelas Irna.


Menurut Irna, tidak banyak yang berubah sejak pernikahannya 11 tahun yang lalu.

Irma tetap memandang suami sebagai kepala keluarga yang dihormati dan dicintai. Selama menjalani rumah tangga, keduanya kerap berdiskusi terbuka dalam menghadapi setiap masalah dan keputusan, sekecil atau sebesar apa pun, selalu diputuskan bersama.

"Sejak awal pernikahan, kami juga sepakat membuat komitmen penting: ketika sedang berselisih atau berdebat, sebisa mungkin kami tidak pernah menyentuh atau mempermasalahkan soal nominal gaji. Kami menyadari bahwa topik ini sangat sensitif dan berpotensi menyinggung perasaan satu sama lain," terangnya.

Dengan saling menjaga perjanjian, imbuh Irna, ia dan suami berusaha memastikan bahwa perbedaan pendapat tidak akan merusak rasa saling menghormati dan menghargai yang sudah dibangun sejak awal menikah.

Saat Diajeng menanyakan terkait pembagian tugas rumah tangga antara dirinya dan suami, Irna dengan tegas menyatakan tidak ada pembagian beban yang timpang.

Irna dan suami sepakat membagi porsi sesuai hobi dan skill, yang semua dilakukan dengan senang hati tanpa ada keterpaksaan.



"Karena sejak awal kami berkomitmen untuk berbagi pekerjaan rumah tangga secara adil. Kebetulan jadwal kerja suami saya lebih fleksibel dibandingkan dengan saya, sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sementara itu, saya harus masuk kantor setiap hari dan biasanya baru pulang cukup larut malam," ucapnya.

Dengan kondisi tersebut, Irna menyatakan bahwa suaminya bisa mengambil peran lebih besar di dapur.

Selain memasak untuk kebutuhan sehari-hari, suami juga menyiapkan bekal yang bisa dibawa Irna ke kantor setiap pagi. Sementara itu, Irna lebih banyak mengurus kebersihan rumah.

"Hal ini sangat membantu saya, karena meskipun saya sibuk dengan pekerjaan, saya tetap bisa menikmati makanan rumah yang sehat dan terjaga kualitasnya. Saya, karena memang suka aktivitas bersih-bersih, lebih bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan rumah. Bagi kami, pembagian ini bukan sekadar soal siapa yang mengerjakan apa, tetapi lebih kepada saling mendukung sesuai dengan situasi dan kelebihan masing-masing," tutur Irna.

Terkait urusan domestik lainnya, seperti memperbaiki barang-barang kecil yang rusak dan masih bisa ditangani sendiri seperti mengganti bohlam, memasang paku, membongkar atau merakit lemari, serta mengurus hewan peliharaan, ia dan suami melakukan bersama-sama secara bergantian agar adil.

"Sedangkan untuk kebutuhan belanja rutin, kami juga membaginya agar lebih praktis. Saya biasanya mengurus belanja barang-barang nonbahan makanan, seperti perlengkapan kebersihan rumah, kamar, atau kamar mandi. Sementara suami saya yang lebih paham soal kebutuhan dapur bertugas berbelanja bahan makanan untuk stok di rumah,"

"Dengan begitu, semua urusan domestik tetap terkelola dengan baik tanpa ada salah satu pihak merasa lebih terbebani," tukas Irna.

Tak jauh berbeda dengan Irna, Yanti (44) menuturkan, selama pernikahan yang sudah berjalan 19 tahun, ia dan suami pada intinya merasa ikhlas dengan keadaan dan selalu besyukur kepada Tuhan.

Menjadi tulang punggung keluarga, menurut Yanti, bukanlah perkara atau masalah besar.

"Tetap bersyukur kepada Allah karena di antara kami berdua masih ada yang bekerja di kondisi sekarang ini. Sebelumnya, saya pernah tidak bekerja dan hanya suami yang bekerja, dan pernah dua-duanya bekerja dengan penghasilan suami lebih besar," cerita Yanti.

Perempuan yang menjabat sebagai Direktur Utama di sebuah perusahaan swasta ini menyebutkan, jabatan bagus dan bergengsi di kantor bukan berarti lebih penting dari statusnya sebagai istri di rumah.

"Suami sebagai kepala atau pemimpin keluarga tetap harus dihormati dan saya menghargai keputusan yang diambilnya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama," terang Yanti.


Menanggapi pertanyaan perihal pembagian tugas rumah tangga, Yanti mengaku, suamilah yang selama ini menjalani peran tersebut.

"Suami berinisiatif menjalankan peran tersebut dan senang mengerjakannya tanpa terpaksa," ucapnya.

Yanti melanjutkan, tidak ada kesepakatan khusus di antara mereka, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan⁠.

"Lebih kepada kesadaran masing-masing untuk bisa berperan optimal dan apabila ada keputusan yang perlu diambil, dilakukan secara diskusi," pungkas Yanti.

Cara Menyikapi Kondisi Keuangan di Rumah

Co-founder layanan kesehatan mental Amanasa, Rininda Mutia, M.Psi., Psikolog mengatakan, perbedaan pendapatan antara suami dan istri adalah hal yang lumrah, baik ketika gaji suami lebih besar atau istri yang lebih besar.

Namun hal tersebut akan menjadi masalah ketika kondisi rumah tangga orang lain dijadikan parameter untuk keluarga sendiri karena setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda.

1. Saling Menghargai

Prinsipnya, sebut Rinanda, siapa pun yang memiliki pendapatan lebih besar, tetap harus saling menghargai satu sama lain.

"Pembagian tanggung jawab dalam rumah tangga juga perlu diperhatikan. Misalnya, jika saat ini, istri yang harus lebih banyak bekerja di luar rumah daripada suami, harapannya, suami juga mengambil tanggung jawab untuk pekerjaan di dalam rumah (domestik), yang mungkin selama ini, stereotip pekerjaan domestik adalah tanggung jawab istri saja," ujar.

Menghargai seberapa pun pendapatan pasangan yang diberikan untuk keluarga, lanjutnya, bisa menjadi salah satu kunci agar rumah tangga tetap harmonis.

2. Diskusi Terbuka

Apabila pasangan memiliki pendapatan yang lebih besar dan ada pihak yang merasa insecure dengan keadaan tersebut, ini juga perlu disampaikan.

"Utarakan secara asertif seperti 'Aku merasa kurang berkontribusi secara finansial untuk keluarga dan hal ini membuatku merasa malu'. Begitu pula jika beban ganda yang dirasakan istri yang harus bekerja memenuhi kebutuhan rumah tangga dan juga bertanggung jawab penuh tugas domestik."

Rininda melanjutkan memberi contoh, "Utarakan seperti, 'Aku sepertinya terlalu lelah jika setelah bekerja seharian, kemudian aku harus membereskan rumah sendirian. Bagaimana jika kita mulai membagi pekerjaan rumah? Atau mungkin kita bisa mendelegasikan sebagian pekerjaan rumah kepada orang lain, seperti cuci baju dengan laundry? Bagaimana menurutmu?'"

"Jika sebenarnya masih kurang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, diskusikan tanpa menyudutkan, tapi ajak mencari solusi bersama," sarannya.

Menurut Rininda, mendengarkan pendapat pasangan adalah langkah awal memahami sudut pandang pasangan.

Kadang-kadang, kita merasa sudah cukup mengenal pasangan, sehingga menjadi terlalu cepat juga menilai sudut pandang pasangan tanpa mendengarkan lebih lanjut.

Sebaiknya, selalu libatkan pasangan mengenai keputusan-keputusan finansial di dalam keluarga.

"Jangan merasa berhak memutuskan sendiri keputusan rumah tangga meskipun saat ini mungkin pendapatan kita lebih besar dari pasangan. Sebaiknya setiap keputusan rumah tangga didiskusikan bersama dan diputuskan dengan kesepakatan bersama," kata Rininda.

3. Keterbukaan Finansial

Rininda menyatakan, keterbukaan finansial adalah hal yang penting dalam rumah tangga.

Terdapat istilah financial infidelity, yakni sengaja menutupi atau tidak jujur soal keuangan kepada pasangan.

"Terkadang yang jadi masalah bukan nominalnya, tetapi karena ketidakjujurannya yang membuat pasangan kecewa dan marah. Sebaiknya dari awal menikah, pasangan bisa saling jujur mengenai kondisi finansial masing-masing," terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa financial infidelity bisa berujung pada perpisahan jika tidak teratasi dengan baik.

"Memang jika tidak terbiasa terbuka dengan pasangan hal ini jadi sulit dilakukan. Kita bisa meminta bantuan profesional seperti financial planner dan psikolog untuk mengurai masalah ini jika bingung mulai dari mana," katanya.

4. Hubungi Bantuan Profesional Jika Menemui Kebuntuan Masalah

Rininda juga mengingatkan beberapa tanda masalah keuangan yang dapat memengaruhi relasi dan emosi dalam rumah tangga.

"Awalnya, enggan untuk membahas finansial dengan pasangan, ada rasa tidak nyaman yang muncul. Lama-lama setiap mau membahas keuangan keluarga suasana menjadi tegang dan masing-masing sudah dalam mode defensif," terangnya.

Pada tingkat lanjut, sambungnya, setiap pembahasan mengenai keuangan keluarga pasti berujung pada pertengkaran hebat dan saling menyalahkan satu sama lain.

"Jangan tunggu sampai kondisi memburuk untuk meminta bantuan profesional karena pada tahap ini luka yang ada dalam relasi biasanya sudah banyak. Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin mudah memperbaiki relasinya," pungkas Rininda.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno & Sekar Kinasih

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno & Sekar Kinasih
Editor: Sekar Kinasih