diajeng.id - Baru-baru ini, tawaran “joki” untuk jasa membaca buku menyeruak di Threads dan sukses mencuri perhatian warganet.
Jasa membaca buku ini umumnya mencakup pembuatan rangkuman buku, anotasi buku, bahkan pembuatan konten foto atau video terkait buku yang dibaca, lengkap dengan coretan cantik nan rapi di lembarannya, dengan latar lokasi di kafe atau perpustakaan.
Diajeng Tirto berbincang langsung dengan Jessica (nama disamarkan), salah satu joki jasa baca buku berbasis di Jakarta, pada Selasa (6/10). Cukup merogoh kocek mulai dari Rp50 ribu, pelanggan sudah bisa menyerahkan urusan membaca buku kepadanya.
“Contohnya, kalau klien hanya ingin bukunya terlihat dibaca, aku cuma ngebuka-buka doang, aku baca gini-gini doang. Itu paling lima puluh ribu per buku. Tapi kalau bukunya semakin tipis, harganya semakin murah,” terang Jessica sambil memperagakan gerakan membuka halaman buku.
Ide bisnis jasa membaca buku lahir tanpa sengaja saat Jessica menemukan perdebatan di media sosial soal bookstagrammer luar negeri yang mengaku membaca 40 buku dalam sebulan.
Merasa klaim tersebut tak masuk akal, Jessica mencoba mencari tahu rahasia di baliknya sampai akhirnya mengenal istilah ghost reader.
Mirip dengan ghost writer, ghost reader bertugas membaca buku, merangkum bab demi bab, serta menandai poin-poin penting. Pengguna jasa ghost reader dapat menikmati ringkasan tersebut untuk dibaca ulang, dijadikan ulasan, atau bahan konten tanpa perlu meluangkan waktu membaca dari lembar pertama.
Apa sebenarnya yang mendorong lahirnya permintaan akan jasa joki baca buku ini?
Selain itu, jasanya kerap dimanfaatkan oleh para penerima endorsement yang kewalahan menuntaskan buku sponsor. Terkait kategori ini, Jessica wajib menyusun ringkasan secara presisi sesuai instruksi (brief) dari pihak pemberi kerja sama.
“Mungkin karena branding-nya itu yang dicari sama mereka. Dan mungkin klien nggak punya waktu karena bukunya sudah terlalu banyak, sedangkan dia pengen buku itu cepat dibaca. Atau mungkin itu buku endorse. Ada beberapa orang yang dapat buku-buku endorse, tapi buku nggak sempat dibaca. Nah, di situlah aku yang buat summary seperti yang si pemberi endorse ini mau,” tutur Jessica.
Jessica menerima permintaan membaca buku baik genre fiksi maupun nonfiksi. Perempuan berusia 32 tahun ini juga mengaku kebanyakan mendapat permintaan buku dari penulis terkenal atau buku-bukunya yang sedang tren.
“Kebanyakan dengan penulis terkenal, contohnya yang Higashino Keigo [novelis misteri asal Jepang]. Terus ada juga pernah satu buku yang dibaca sama member BTS, Namjoon. Dia baca Norwegian Wood [karya novelis Jepang Haruki Murakami]. Nah, itu viral banget, sampai ada klien minta, ‘Kak bisa nggak kamu summary-in buku ini?’” kata Jessica.
Tidak sekadar menawarkan jasa membaca dan merangkum buku, Jessica rupanya juga pernah menerima permintaan yang tak biasa, yaitu membacakan buku secara langsung untuk kliennya di sebuah kafe.
“Klien ini cuma pengen aku dongengin jatuhnya, storytelling. Di dalam satu buku ada beberapa cerita, tapi aku membacanya dengan ekspresi yang berbeda-beda di tiap chapter-nya,” kata Jessica.
“Merias” Buku Sesuai Permintaan Klien
Tingkat kerumitan pekerjaan Jessica selalu berbanding lurus dengan brief yang diajukan para kliennya.
Dari sekian banyak permintaan, menyusun ringkasan bab demi bab menjadi proses yang paling menyita energi.
Pada buku yang memiliki 20 hingga 30 bab, Jessica harus membedah setiap bagian dan menempelkan catatan ringkasan dengan di halaman terakhir setiap bab.
Selain merangkum isi buku, Jessica juga diminta menandai kalimat-kalimat yang relevan dengan kondisi sang klien. Prosedur ini mengharuskan klien untuk membuka diri dan menceritakan latar belakang pekerjaan atau kehidupannya.
Tanpa pemahaman mendalam tentang kepribadian pemesan, Jessica khawatir sentuhan personal darimua sendiri jadi mendominasi sehingga hasil pekerjaannya untuk seluruh klien terlihat seragam.
Jessica pernah dihadapkan pada situasi unik; dua klien berbeda menyerahkan judul buku yang sama dari serial novel Sherlock Holmes. Alih-alih menggunakan formula ringkasan yang selama ini menjadi pola kerjanya, Jessica memilih menggali ulang preferensi masing-masing individu.
“Walaupun ya, contoh, klien A sudah kasih bukunya Sherlock, terus dateng lagi klien B dengan chapter dari buku yang sama. Tapi mereka beda kepribadian, jadi itu harus dibedakan. Aku harus tanya ke klien, kamu maunya buku ini diperlakukan bagaimana? Kamu maunya buku ini aku anotasikan dalam bentuk apa? Sesuai preferensinya. Karena kalo nggak gitu, pasti hasil akhirnya akan sama, dan orang pasti akan tahu karyanya dari aku. Atau mungkin orang akan tahu itu dari satu sumber doang. Jadi harus terlihat berbeda,” jelas Jessica.
Melalui pendekatan kustomisasi ini, rekam jejak Jessica sebagai sosok di balik layar tidak akan tercium. Setiap ringkasan dari buku yang Jessica buat akan tetap memancarkan karakter serta representasi otentik dari pemilik buku aslinya.
Urusan joki buku tidak berhenti pada proses membaca isi cerita, tetapi juga “merias” fisik buku.
Jessica membeberkan, beberapa klien sengaja memintanya membuat buku terlihat agak lecek seolah-olah habis dibaca dengan satu tangan. Bahkan, warna sticky notes transparan pun wajib seragam dengan tema feed media sosial milik sang klien.
Melakoni bisnis sebagai joki baca buku, bagi Jessica, telah mendatangkan uang dan penghasilan ekstra. Pada waktu sama, Jessica mengakui lini bisnis jasa ini juga memberinya ruang yang nyaman untuk menjalankan hobi, tanpa dirinya perlu menguras kantong sendiri untuk membeli buku-buku baru.
Jessica terutama merasa sangat puas ketika menerima pesanan buku-buku impor yang harganya mahal. Inilah kesempatannya untuk menjelajahi literatur mancanegara yang belum pernah disentuh sebelumnya.
Tren Performative Reading
Kemunculan jasa baca buku seperti ditawarkan Jessica tidak lepas dari berkembangnya praktik membangun citra diri di media sosial. TikTok dan Instagram memungkinkan siapa pun untuk mengonstruksi dan menampilkan citra diri yang diinginkan, termasuk sebagai pencinta buku.
Melalui ulasan buku dalam format video maupun infografik atau sekadar foto “candid” yang memperlihatkan kita sedang membaca atau membawa buku, aktivitas membaca tidak lagi berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi juga sebagai cara kita membentuk dan mempertunjukkan persona intelektual yang berpotensi mendulang pengakuan dari audiens luas.
Pergeseran aktivitas membaca dari sekadar pengalaman pribadi menjadi konten digital ini mulai kentara sejak meledaknya BookTok pada 2021, komunitas pengguna akun TikTok yang mendedikasikan platformnya untuk berdiskusi dan merekomendasikan buku cerita atau novel populer, terutama dari genre romantis dan fantasi.
Di balik kontribusi kreator konten dalam menggerakkan industri buku, muncul kecenderungan ketika aktivitas membaca lebih banyak ditampilkan sebagai bagian dari pencitraan diri, misalnya melalui klaim seorang kreator yang telah membaca puluhan buku dalam sebulan, ketimbang menjadi ruang untuk membicarakan isi, gagasan, dan kualitas buku secara lebih serius.
Dalam konteks itulah, muncul istilah “performative reading” untuk mengkritik aktivitas membaca sebagai presentasi diri di depan publik; aktivitas membaca sengaja dibuat terlihat karena visibilitasnya ikut membentuk citra kita sebagai pembaca.
Di satu sisi, tidak ada yang keliru dari upaya membangun citra sosial melalui buku-buku yang kita koleksi dan baca. “Komodifikasi intelektual” sebenarnya juga bukan hal baru, kata Manavis.
“Namun, tren yang semakin dipercepat oleh media sosial ini secara terang-terangan mengukuhkan gagasan bahwa buku dapat diperlakukan sebagai aksesori, alih-alih karya seni,” tulis Manavis.
Yang dapat kita jadikan refleksi bersama kemudian adalah bagaimana jadinya kalau popularitas buku semakin ditentukan oleh daya tarik estetika dan citra intelektual yang mudah dikonsumsi di linimasa media sosial, alih-alih mutu literatur yang sesungguhnya?
Menurut antropolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Pujo Semedi, tren “performative reading” yang terjadi di era digital ini tidak muncul secara tiba-tiba. Di masa lalu, buku sudah digunakan sebagai aksesori untuk menampilkan citra diri yang intelek.
“Ada akar masa lalunya. Di rumah tangga kelas menengah atas, dulu orang suka menghiasi rumah dengan pajangan lemari koleksi buku, ensiklopedia biasanya, untuk menunjukkan bahwa mereka berasal dari kelompok sosial yang intelek, padahal bukunya tidak dibaca. Kemudian, di belakangan hari kita menyaksikan tren foto wisuda dengan background layar gambar deretan buku.”
Sementara jika dilihat secara struktural, Pujo mengatakan bahwa tren “performative reading” di medsos ini berkaitan dengan masyarakat yang mengalami krisis, atau penipisan, modal kultural.
“Tujuannya untuk menampakkan diri sebagai figur yang punya modal kultural banyak, cakap mengutip sana-sini dan piawai berkata itu-ini dengan referensi yang terdengar valid. Performative reading adalah upaya menegakkan klaim bahwa seseorang itu adalah bagian dari kaum bermodal kultural kuat, seperti para intelektual,” lanjut Pujo.
Performative reading, meminjam konsep simulacra dari Jean Baudrillard, adalah lagak hidup “seolah-olah” alias tiruan.
“Namanya saja tiruan, maka performative reading bukanlah reading betulan, tetapi reading-readingan, lagak hidup masyarakat pura-pura,” tukas Pujo.
Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) oleh Perpusnas mengungkapkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia pada 2025 sebesar 54,8 poin, masih tergolong rendah, dari nilai sempurna 100 poin.
Sementara skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 untuk kemampuan membaca anak Indonesia usia 15 tahun pada 2025 adalah 365. Meski naik 6 poin dari tahun sebelumnya, skor tersebut tetap berada di bawah rata-rata global OECD (466) yang skor tertingginya diraih oleh Singapura (535).
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih