diajeng.id - Membaca bukan hanya sekadar kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luang, tetapi ini menjadi sebuah jendela yang bisa membuka cara pandang baru terhadap kehidupan.
Ada banyak jenis bacaan, satu di antaranya adalah buku fiksi anak yang sering kali dianggap sederhana atau hanya cocok untuk usia belia.
Padahal, di dalamnya sering tersimpan pesan mendalam yang relevan bagi pembaca dari segala usia di balik alur cerita yang ringan dan tokoh-tokoh yang penuh imajinasi.
Melalui kesederhanaan inilah, nilai-nilai seperti kasih sayang, persahabatan, keberanian, hingga empati dapat tersampaikan dengan cara yang paling tulus dan menyentuh hati.
Rekomendasi Buku Fiksi Anak Terbaik untuk Melatih Empati
Diajeng merekomendasikan sejumlah buku fiksi anak dari berbagai belahan dunia yang tidak hanya populer, tetapi juga layak disebut “wajib dibaca” lintas generasi.
Setiap judul yang dipilih menghadirkan pelajaran hidup yang mampu menyentuh sisi emosional pembaca sekaligus memperkaya kepekaan sosial.
Dengan membaca dan menghayati buku-bukunya, pembaca dapat menemukan kembali keindahan dalam berempati, serta mengingat bahwa kadang, kearifan terbesar justru hadir dari kisah-kisah yang sederhana:
1. Taman Tanpa Aturan (Indonesia)
Buku terbitan tahun 2023 ini berisi kumpulan cerita pendek dengan total 24 kisah karya Noor H. Dee yang diterbitkan Marjin Kiri. Tokoh Utama dari setiap ceritanya adalah anak-anak.Tema yang diangkat juga beragam, menyangkut kritik sosial dan kemanusiaan. Terdapat empat judul cerita yang menarik untuk direnungi, yakni Bocah Itu Memanjat Langit Malam, Taman Tanpa Aturan, Perang Hebat Dua Negara, dan Orang-orang Bawah Tanah.
Cerita Taman Tanpa Aturan menggambarkan keresahan orang dewasa terhadap kehidupan anak-anak bila dibiarkan tanpa batasan.
Kekhawatiran itu kemudian diwujudkan dalam bentuk aturan-aturan yang mengikat, yang mungkin akan menjadi sekolah, kursus, ataupun lembaga serupa. Untuk membuktikan kegelisahan mereka, para orang dewasa pun membuat percobaan dengan sebuah taman khusus.
2. Madogiwa no Totto-chan (Jepang)
Merupakan buku cerita anak-anak yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi dan menjadi best seller di Jepang pada tahun 1981.Buku ini kemudian mengeluarkan edisi berbahasa Inggris, The Little Girl at the Window, pada tahun 1984 dengan perjemahnya Dorothy Britton.
Mengisahkan seorang anak perempuan, dipanggil Totto-chan, yang dikeluarkan dari sekolah negeri karena dianggap tidak dapat menyesuaikan dengan ritme belajar di sana.
Sang ibu kemudian menyekolahkan ia di sekolah Tomoe Gakuen yang tidak membatasi kebebasan berekspresi murid-murid dengan kebutuhan khusus.
Di sekolah barunya, Totto-chan menjalin persahabatan dengan kepala sekolah Bapak Sosaku Kobayashi, yang memberikan kemerdekaan kepada murid-murid untuk belajar apa pun yang mereka gemari dan mengembangkan kreativitas sesukanya.
Berlatar era Perang Dunia II, di Tomoe Gakuen, Totto-chan belajar banyak hal, terutama terkait nilai-nilai pendidikan dan budi pekerti, sembari berupaya memahami perbedaan dan keunikan setiap teman-temannya.
3. Pippi Långstrump (Swedia)
Buku yang ditulis Astrid Lindgren ini masuk dalam daftar 100 karya sastra terbaik sepanjang masa pilihan 100 penulis dari 54 negara dalam survei Norwegian Book Clubs dan Norwegian Nobel Institute. Buku ini pertama kali terbit tahun 1945.Pippi Långstrump atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Pippi si Kaus Panjang, menceritakan kehidupan orang anak perempuan berusia 9 tahun di sebuah rumah penuh warna bernama Villa Villekulla.
Pippi tinggal sendirian, ditemani oleh seekor kuda yang bisa dia angkat dengan satu tangan dan monyet kesayangannya, Tuan Nilsson.
Pippi menciptakan petualangan seru dari kisah-kisah sederhana seperti memanggang kue jahe langsung di lantai dapur, mempermainkan polisi yang berusaha membawanya ke panti asuhan, menjamu pencuri yang berniat merampok isi rumahnya, mempermalukan pemain sirkus Adolf si Perkasa di hadapan pemirsa sirkus, dan melawan anak yang melakukan perundungan pada sahabatnya.
Bertubuh kuat, berjiwa berani dan baik hati, Pippi menjadi simbol imajinasi dan kemerdekaan diri anak yang tak lekang oleh waktu.
Lindgren sang penulis menyaksikan bagaimana totalitarianisme dan kekerasan berlangsung selama Perang Dunia II.
Melalui Pippi dan karya-karya lainnya, dia berharap generasi muda belajar agar tidak terlena dalam konformitas, apalagi sampai menyalahgunakan kekuasaan.
4. Favole al telefono (Italia)
Favole al telefono, baru-baru ini diterjemahkan dengan judul Dongeng Telepon oleh Noura Books, adalah sebuah buku kompilasi cerpen karya penulis Italia Gianni Rodari, pertama kali diterbitkan di Italia pada tahun 1962.Tokoh utama cerita ini adalah Bianchi, sales obat-obatan dari Varese.
Pekerjaan Bianchi menuntutnya bepergian keliling Italia dan hanya bisa pulang ke rumah untuk beremu keluarganya setiap hari Minggu.
Meski begitu, setiap malam tepat pukul sembilan, Bianchi selalu menelepon putrinya untuk membacakan dongeng sebelum tidur.
Dongeng yang diceritakan hanya cerita singkat atau pendek-pendek, alasannya karena biaya telepon mahal, kecuali jika hari itu ia mendapat keuntungan besar.
Walau singkat, total 67 dongeng Bianchi sangat memikat, bahkan sampai membuat operator telepon berhenti bekerja sejenak hanya untuk mendengarkannya.
Ada cerita tentang anak yang mempertanyakan bobot tetes air mata, apakah bobotnya lebih berat pada anak-anak yang menangis karena kelaparan? Ada kisah tentang planet yang semua isinya termasuk bangunan dan barang bisa dimakan, bus yang mengantar penumpangnya ke padang rumput wangi agar sejenak terbebas dari rutinitas keseharian, dan berbagai cerita surealis lainnya.
Rodari, yang tumbuh dewasa di bawah pemerintahan Fasisme, diketahui selalu berupaya menyampaikan kritik sosial melalui dunia-dunia imajiner dalam kisah-kisahnya sehingga pembaca terdorong untuk mempertanyakan status quo.
5. Le Petite Prince (Prancis)
Le Petite Prince atau The Little Prince (Pangeran Kecil) ditulis oleh penulis Prancis Antoine de Saint-Exupéry, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Perancis di Amerika Serikat oleh Reynal & Hitchcock pada April 1943.Isinya mengisahkan tentang petualangan seorang pangeran muda yang mengunjungi berbagai planet, termasuk Bumi.
Tema-tema yang diangkat dalam buku ini tentang kesepian, persahabatan, cinta, dan kehilangan. Meskipun ditulis dalam gaya buku anak-anak, The Little Prince membuat pengamatan tentang kehidupan, orang dewasa, dan sifat manusia.
The Little Prince adalah karya paling sukses Saint-Exupéry, dengan penjualan sekitar 140 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya salah satu buku terlaris dalam sejarah.
Buku ini pun telah diterjemahkan ke lebih dari 505 bahasa dan dialek di seluruh dunia, menjadikannya karya terjemahan kedua paling banyak diterbitkan sepanjang masa, setelah Bible.
The Little Prince telah diadaptasi ke berbagai bentuk seni dan media, termasuk rekaman audio, drama radio, panggung live, film, televisi, balet, dan opera.
6. The Little Black Fish (Iran)
Buku karya Samad Behrangi ini merupakan kumpulan kisah anak-anak yang ceritanya terkenal.Menariknya, buku ini dianggap sebagai alegori politik dan pernah dilarang di Iran pada masa pra-revolusi (sebelum Revolusi 1979).
Kisah ini disampaikan lewat suara seekor ikan tua kepada 12.000 anak dan cucunya. Ia menceritakan tentang perjalanan seekor ikan hitam kecil yang berani meninggalkan sungai tempat tinggalnya untuk menjelajahi dunia.
Dalam perjalanannya menuju laut, ia melewati air terjun dan mengikuti aliran sungai hingga ke laut, ia juga bertemu dengan beberapa hewan lain, termasuk seekor kadal yang suka membantu dan burung pelikan yang menakutkan.
Akhir kisahnya menunjukkan bahwa keberanian dan rasa ingin tahu bisa menjadi warisan berharga bagi generasi setelahnya.
7. Momo (Jerman)
Momo, yang juga dikenal sebagai The Grey Gentlemen atau The Men in Grey, adalah novel fantasi karya Michael Ende yang diterbitkan pada tahun 1973.Buku ini memenangkan Penghargaan Sastra Remaja Jerman pada tahun 1974.
Novel ini mengangkat tema tentang konsep waktu dan cara manusia memanfaatkannya dalam masyarakat modern.
Kisah Momo sendiri diangkat dari kehidupan manusia sehari-hari. Momo merupakan gadis cilik yang hidup di sebuah kota besar modern di selatan Eropa.
Ia berjuang sendiri melawan pasukan menakutkan yang disebut gerombolan tuan kelabu saat sedang beraksi, yakni mendesak semua orang untuk semakin banyak menghemat waktu.
Momo hanya punya senjata sekuntum bunga dan ia selalu ditemani seekor kura-kura, tetapi ia berhasil menang melawan pasukan tuan kelabu.
8. The Hobbit (Inggris)
The Hobbit, atau There and Back Again, adalah novel fantasi anak-anak karya penulis Inggris J. R. R. Tolkien yang terbit pada tahun 1937.Buku ini dinominasikan untuk Carnegie Medal, dan dianugerahi hadiah dari New York Herald Tribune untuk kategori fiksi anak-anak terbaik.
The Hobbit merupakan buku yang menghadirkan kisah klasik penuh kehangatan sekaligus petualangan epik.
Cerita berawal dari Bilbo Baggins, seorang Hobbit sederhana yang lebih nyaman tinggal di rumah daripada bertualang ke luar. Namun, hidupnya berubah saat ia diajak oleh penyihir Gandalf dan sekelompok kurcaci untuk menghadapi perjalanan berbahaya melawan naga Smaug.
Dalam perjalanan itu, Bilbo bertemu tokoh-tokoh ikonik seperti Gollum dan menemukan cincin misterius yang kelak menjadi pusat legenda di kawasan Middle-Earth.
Ditulis dengan imajinasi luar biasa, buku ini menghadirkan kisah tentang keberanian, persahabatan, dan bagaimana seorang “pahlawan kecil” bisa membuat perbedaan besar.
Ingin tahu rekomendasi buku cerita maupun dongeng terbaik lainnya, silakan klik di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih