diajeng.id - Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan setiap manusia dan mustahil dipisahkan dari kesehatan ragawi atau fisik.
Novia Dwi Rahmaningsih, M.Psi., Psikolog menyatakan, kondisi mental yang sehat membantu kita memahami kemampuan diri, mengelola emosi, membangun hubungan sosial, hingga memiliki empati, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.
"Kemampuan-kemampuan dan potensi diri ini yang akan menjadi sumber daya kita untuk mengatasi tekanan hidup sehari-hari," ujar Novia dalam sesi diskusi "Kesehatan Mental Jurnalis" di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Tekanan mental adalah salah satu tantangan besar pada jurnalis. Jurnalis termasuk dalam profesi dengan tingkat stres tinggi karena harus bekerja cepat, akurat, dan responsif terhadap berbagai peristiwa yang sering datang tiba-tiba.
Jurnalis: Salah Satu Profesi dengan Tingkat Stres Tinggi
"Jurnalis adalah profesi dengan tingkat stres yang sangat tinggi. Menurut penelitian, profesi ini termasuk dalam 10 besar pekerjaan stres tertinggi," kata Novia.
Tuntutan deadline, persaingan kerja, hingga sulitnya membagi waktu dengan keluarga menjadi tekanan sehari-hari yang banyak dialami pekerja media.
"Konflik perannya tidak hanya di dalam hati, tetapi juga di luar. Dengan keluarga, dengan teman, dengan pasangan, dengan anak, mungkin. Nah, kemudian kondisi stres sehari-hari ini akan semakin parah ketika lembaganya, tempat teman-teman jurnalis bernaung, kurang memberikan support untuk mengelola stresnya," ucap Novia.
Selain tekanan rutin, jurnalis juga rentan menghadapi situasi krisis dan pengalaman traumatis. Liputan tentang kekerasan, bencana, konflik, hingga isu sensitif dapat memicu trauma sekunder.
Tidak sedikit jurnalis yang juga menghadapi intimidasi, kekerasan verbal di media sosial, hingga ancaman langsung akibat pemberitaan yang dibuat.
Novia menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan kondisi yang hitam-putih, melainkan sebuah spektrum yang terus berubah.
Kita bisa berada dalam kondisi sehat, mulai tertekan, mengalami kelelahan mental, hingga gangguan yang lebih serius. Maka dari itu, penting bagi setiap individu untuk mengenali kondisi dirinya sendiri tanpa menghakimi.
Mekanisme Atasi Stres
Novia menekankan bahwa stres tidak selalu buruk.
Stres muncul ketika tuntutan yang dihadapi terasa lebih besar dibanding kemampuan atau sumber daya yang dimiliki seseorang. Dalam konteks ini, kemampuan coping atau cara mengatasi stres menjadi hal penting untuk dipelajari.
Novia melanjutkan, ada dua cara utama dalam mengelola stres, yaitu mengelola emosi dan mencari solusi untuk problem.
Mengelola emosi dilakukan dengan menyadari perasaan yang muncul, seperti sedih, marah, atau takut, lalu mengekspresikannya dengan cara yang sehat tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.
Setelah emosi lebih tenang, kita baru bisa berpikir jernih untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
Sebaliknya, menghindari masalah justru dapat memperburuk kondisi mental. Misalnya memendam emosi, lari dari tekanan kerja, atau mencari pelarian lewat kebiasaan tidak sehat.
Gangguan Mental yang Sering Dihadapi Jurnalis
"Gangguan mental yang paling banyak ditemui oleh jurnalis adalah rasa cemas, kecemasan berlebih. Lalu, yang kedua, ada depresi, juga psikosomatis. Kalau psikosomatis ini sebetulnya bentuk kecemasan, tapi biasanya kita tidak sadar. Kalau kita cemas, lalu kita tekan secara tidak disadari, ya ini mekanisme bawah sadar. Akhirnya munculnya kecemasan itu di reaksi fisik," papar Novia.
Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat memicu burnout, kecemasan berlebih, depresi, dan gangguan psikosomatis. Nah, apabila jurnalis mengalami peristiwa trauma (seperti persekusi, ancaman, dsb) atau trauma sekunder (misal meliput bencana, kekerasan, dsb), mereka rentan mengalami PTSD atau gangguan stres pascatrauma.
"Reaksi fisiknya biasanya pindah-pindah, kadang pusing, kadang asam lambungnya naik, kadang tiba-tiba deg-degan. Nah itu bisa jadi psikosomatis," kata Novia.
Novia juga mengingatkan pentingnya manajemen waktu dan beraktivitas dengan mindful. Selain itu, dukungan sosial di lingkungan kerja juga penting. Jurnalis membutuhkan ruang yang aman untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain.
Menurutnya, meminta bantuan kepada orang terdekat atau tenaga profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental agar tetap seimbang di tengah tekanan pekerjaan yang tinggi.
Artikel seputar kesehatan mental lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih