Menuju konten utama

Lelah Jadi Orang Dewasa: Bagaimana Cara Mengelola Emosi?

Salah satu penyebab terbesar kelelahan emosional adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Lalu, bagaimana cara mengelolanya?

Lelah Jadi Orang Dewasa: Bagaimana Cara Mengelola Emosi?
Header Diajeng Lelah Jadi Dewasa. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Ketika kita kecil, menjadi dewasa acap kali terdengar seperti impian atau sebuah pencapaian. Versi kanak-kanak kita kerap berasumsi bahwa sosok orang dewasa memiliki kemerdekaan untuk melakukan segala hal.

Namun, di balik itu, ada banyak tuntutan yang kian bertambah, dari pekerjaan, relasi sosial, kondisi finansial, keluarga, hingga ekspektasi terhadap diri sendiri.

Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa lelah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional.

Banyak orang dewasa menjalani hari-harinya sambil menahan overthinking, kecemasan, dan tekanan untuk terlihat “baik-baik saja”.

Apalagi, di media sosial, hidup orang lain tampak berjalan mulus, sementara diri sendiri kerap merasa tertinggal. Tanpa disadari, kondisi ini bisa memicu kelelahan emosional bahkan burnout.

Psikolog Niken Woro Indriastusi dalam sesi IG Live oleh KlikPsikolog, Senin (18/5/2026) membahas bagaimana tuntutan hidup dan ekspektasi yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi kesehatan mental.

Ini terlihat dari adanya tanda-tanda burnout, pengaruh pola asuh, hingga teknik sederhana untuk mengenali dan mengelola emosi. Hal-hal tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi dewasa tidak bisa dipisahkan dari proses belajar untuk memahami diri sendiri secara sehat.

Menjadi Dewasa: Bukan Sekadar Tambah Umur

Niken menjelaskan bahwa semakin bertambah usia, semakin banyak pula peran dan tanggung jawab yang harus kita jalani.

"Kita lupa bahwa sebenarnya saat kita lulus kuliah, kita berperan sebagai masyarakat. Secara sosial, sebagai seorang pekerja, di pekerjaan tersebut kita berperan sebagai individu yang punya hubungan dengan rekan kerja hingga atasan. Peran yang bertambah juga sebagai anak. Peran kita sebagai seorang individu juga, di mana perlu melakukan tugas perkembangan berikutnya. Nah, ini yang tidak disadari, karena di otak kita cuma satu mindset: lulus kuliah, kerja, sudah selesai. Padahal tuntutan perannya semakin besar," ujar Niken.

Sayangnya, banyak orang hanya fokus mengejar “tahap berikutnya” dalam hidup tanpa benar-benar sadar bahwa beban emosionalnya juga ikut bertambah. Akibatnya, rasa lelah sering dianggap hal biasa, lalu dipendam sendiri.

Padahal, jika terus berlangsung tanpa pengelolaan emosi yang sehat, kondisi ini bisa berkembang menjadi burnout atau kelelahan emosional.

"Itu karena tidak punya strategi coping, yang jadinya semakin menambah kelelahan secara emosi dan akhirnya, tidak sehat untuk menjalankannya. Bukan cuma tidak sehat, tapi lebih tidak stabil dalam menjalankan aktivitas harian, ditambah mungkin itu jadi menumpuk terus. Karena dari awal tidak disadari dan semakin menumpuk, semakin bertambah lagi beban emosionalnya," jelas Niken.

Ekspektasi yang Diam-Diam Membebani

Salah satu penyebab terbesar kelelahan emosional, lanjut Niken, adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Banyak orang berharap hidupnya segera “beres” setelah lulus kuliah atau mulai bekerja.

"Misalnya ingin pekerjaan yang langsung stabil, penghasilan yang cepat mapan, hubungan yang sehat, hingga keluarga yang harmonis," imbuhnya.

Tidak sedikit pula yang mulai membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain. Ketika realita tidak sesuai harapan, muncul rasa tertinggal, kecewa, bahkan merasa gagal.

Menurut Niken, kondisi ini sering terjadi karena seseorang lebih fokus pada gambaran hidup ideal dibandingkan memahami proses yang sedang dijalani.

"Ekspektasi-ekspektasi begitu muncul seiring kita bertambah dewasa," ucapnya.

Burnout Tidak Selalu Terlihat

Kelelahan emosional tidak selalu tampak jelas. Banyak orang tetap bekerja, bisa tersenyum atau tertawa, akan tetapi sebenarnya sudah sangat lelah secara mental.

Beberapa tanda burnout yang dibahas Niken antara lain:

  • bangun tidur tetap merasa lelah,
  • sulit menikmati aktivitas sehari-hari,
  • mudah marah dan sensitif,
  • menarik diri dari lingkungan sosial,
  • hingga mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala atau pegal di tubuh.
Bahkan, kualitas tidur juga bisa terganggu. Ada yang tidur terlalu lama karena merasa tidak punya energi, ada pula yang sulit tidur karena cemas menghadapi hari esok.

"Yang umum dirasakan sama teman-teman yang saya bantu: sakit kepala migrain padahal tidak punya riwayat sakit kepala. Pegal-pegal di bagian leher pundak, itu juga jadi salah satu tanda," terang Niken.

Belajar Mengenali Emosi Diri Sendiri

Niken menekankan bahwa banyak orang terbiasa menahan emosinya sendiri. Padahal, emosi yang terus dipendam justru bisa membuat seseorang semakin kelelahan.

"Selain keluhan fisiknya, hadir masalah emosional, jadi lebih sensitif 'irritable'. Mungkin yang sebenarnya, konotasinya atau kalimat yang disampaikan biasa saja, netral. Cuma karena kita mengalami kelelahan, akhirnya jadi langsung bereaksi, reaktif, dan juga efeknya bisa sampai ke sosial. Jadi menarik diri, tidak mau kemana-mana. Pengen di kamar atau di rumah saja," kata Niken.

Beberapa langkah sederhana yang disarankan oleh Niken di antaranya adalah:

1. Ambil Jeda Ketika Emosi Muncul

"Ambil waktu untuk jeda saat merasa tidak nyaman. Ibaratnya, stop, tunggu dulu sebelum kita bergerak melangkah berikutnya. Nah, pada saat waktu jeda itu, kita perlu untuk mengenali rasa sebuah emosi. Itu akan berkaitan sama kondisi fisik kita," papar Niken.

2. Kenali Sensasi pada Tubuh

Saat emosi muncul, coba kenali reaksi tubuh yang terjadi.

Misalnya saat marah, tubuh bisa memberi tanda seperti jantung berdebar, wajah terasa tegang, atau tangan tanpa sadar mengepal. Bahkan, sikap dan cara bicara kita juga bisa berubah menjadi lebih kasar atau menyakiti orang lain tanpa kita sadari.

"Penting untuk mengambil jeda sejenak. Kenali tubuh kita, sensasi fisik yang sedang dirasakan tubuh, sebelum bereaksi lebih jauh," ucap Niken.

3. Berikan Nama pada Emosi yang Dirasakan

"Jadi, secara sadar, kita tahu apa yang sebenarnya kita rasakan, baru kita bisa lebih mudah untuk meregulasinya," imbuh Niken.

Misalnya, akui bahwa, "Aku sedih/kecewa/marah.”

Dengan mengenali emosi, seseorang lebih mudah memahami dirinya dan tidak terus-menerus memaksa diri untuk terlihat kuat.

Tidak Harus Kembali Seperti Dulu

Salah satu pesan yang disampaikan dalam sesi ini adalah bahwa diri kita yang sekarang memang tidak akan sama seperti dulu. Tanggung jawab bertambah, peran berubah, dan energi juga ikut berubah.

Meski kita bisa saja merindukan dan berharap kembali menjalani hidup versi dulu yang terasa lebih ideal, faktanya setiap manusia berubah. Dalam proses menjadi dewasa, kita belajar menerima dan memahami diri versi sekarang dengan lebih baik.

Lumrah saja merasa lelah, gusar, atau mungkin sempat putus asa. Yang penting, jangan terus memikul beban emosional itu sendirian. Temukan koneksi dengan sahabat dan keluarga, cari bantuan pada profesional kesehatan mental jika diperlukan.

Simak juga artikel seputar kesehatan mental di sini.

Baca juga artikel terkait KELELAHAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih