diajeng.id - Apa kamu pernah menahan ucapan yang sudah berada di ujung lidah hanya karena takut kalimat atau pandanganmu dianggap aneh, berlebihan, atau tidak sopan oleh orang lain? Di sisi lain, ketika kamu memutuskan untuk menyampaikannya, kamu langsung jadi gelisah.
“Jangan-jangan nanti dia menilai aku sejelek itu...”
“Apa aku barusan salah omong, ya?”
“Sepertinya aku kelihatan bodoh...”
Kekhawatiran-kekhawatiran kecil semacam ini muncul begitu natural, seolah-olah menjadi bagian dari mekanisme kita bertahan hidup.
Hal ini pun pernah terjadi padaku.
Sewaktu ada rapat besar di kantor melalui aplikasi video, tanpa kusadari mikrofon dan kameraku menyala. Saat itu, aku sedang berada di kamar mandi. Ketika aku memencet tombol flush, suara guyuran air di kloset pun terdengar jelas.
Tentu saja, tidak mematikan kamera dan mikrofon bukanlah kesalahan besar. Namun, ketika aku menyadarinya, aku betul-betul merasa sangat malu.
Dikutip laman Psychology Today, rasa malu muncul ketika kita merasa melanggar standar, baik moral maupun sosial.
Kita jadi takut terlihat “buruk” di mata orang lain.
Meski tidak nyaman, emosi ini sebenarnya punya fungsi, yaitu mendorong kita jadi lebih peka, lebih berhati-hati, dan lebih mau memperbaiki diri.
Dalam dosis tertentu, kepedulian tentang pendapat orang lain justru membuat kita tumbuh.
Masalahnya, kebanyakan dari kita cenderung kebablasan.
Kita sering melebih-lebihkan seberapa buruk orang lain menilai kita, atau seberapa lama mereka mengingat kesalahan kecil yang kita buat di masa lalu.
Akibatnya, kita jadi terlalu menahan diri, kurang spontan, kurang berani, dan akhirnya malah berisiko kurang bahagia.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara mengelola pikiran agar berhenti untuk terlau peduli pada apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita?
Lalu Bagaimana Caranya?
Menurut studi di Journal of Personality and Social Psychology (2001), orang memang sering melebih-lebihkan tentang seberapa banyak, dan seberapa buruk, orang lain memikirkan tentang kegagalan dirinya.
Ini jadi suatu kecenderungan manusia yang sangat disayangkan karena berisiko membuat kita jadi terkekang, ragu-ragu, dan kurang bisa menjadi diri sendiri.
Manusia adalah makhluk sosial; oleh karenanya sebagian besar keseharian kita berkaitan dengan relasi dan persepsi-persepsi yang muncul dari situ. Hubungan yang baik pun menjadi semacam kebutuhan untuk bertahan hidup. Maka tidak heran kalau kita jadi punya kekhawatiran dianggap buruk oleh lingkungan sosial kita.
Hanya saja, ketika kecemasannya terlalu dominan, hubungan justru terganggu.
Terlalu sibuk mengukur apakah orang menyukai kita bisa membuat kita terlihat cemas, needy, atau tidak nyaman dengan diri sendiri. Bukan tidak mungkin, hal-hal inilah yang malah berisiko menjauhkan diri dari orang lain juga.
Diperlukan perubahan cara pandang atau orientasi kita terhadap orang lain. Cobalah fokus pada kebaikan, alih-alih pada kesan.
Apabila kita konsisten berbuat baik dan hadir dengan tulus untuk orang-orang yang kita sayangi dan hormati, dua hal akan terjadi. Pertama, mereka akan menyukai kita juga.
Kedua, bahkan jika niat baik kita disalahpahami, kita tahu bahwa kita bergerak dari tempat yang benar. Kesadaran itu memberi semacam ruang bernapas, sehingga kita tidak perlu terus-menerus mengawasi bagaimana kita dipersepsikan oleh pihak lain.
Perubahan cara pandang ini bukan sekadar penting untuk meredakan kecemasan sosial, tetapi juga menjadi bahan bakar untuk kebahagiaan dan keberhasilan.
Mereka yang senang memberi biasanya jauh lebih berhasil daripada mereka yang hanya fokus menerima.
Namun begitu, mungkin tugas kita bukanlah "mematikan" atau menghilangkan kekhawatiran itu, melainkan menempatkannya pada porsi yang sehat.
Ketika kita mulai bergerak dari niat baik, alih-alih rasa takut; dari keinginan untuk terhubung, alih-alih untuk terlihat sempurna; pelan-pelan suara di kepala yang selalu menghakimi akan mengecil dengan sendirinya.
Hati jadi lebih ringan, langkah lebih berani, semakin fokus pada kehadiran diri dalam dunia ini.
Mungkin pada titik itulah kita menyadari: pendapat orang lain memang penting, tetapi bukan kompas utama.
Yang lebih penting adalah siapa diri kita ketika tidak ada yang menonton, dan apakah kita bangga menjadi versi diri kita sendiri.
Editor: Sekar Kinasih