Menuju konten utama

Koleksi Barang: Upaya Mencari Struktur di Dunia yang Tak Pasti

Kegiatan mengoleksi bisa melatih kemampuan berpikir strategis; waktu yang tepat untuk membeli, menunggu harga lebih murah, hingga negosiasi dengan penjual.

Koleksi Barang: Upaya Mencari Struktur di Dunia yang Tak Pasti
Header Diajeng Hobi Koleksi. foto/istockphoto

diajeng.id - Mengoleksi barang—dari komoditas antik, sepatu, aksesori, hingga merchandise grup musik atau art merch—bisa menjadi hobi yang memberikan kepuasan tersendiri, di samping juga salah satu bentuk aktualisasi diri.

Di kalangan penggemar K-pop, misalnya, mengoleksi photocard atau foto idol menjadi salah satu cara untuk mendukung grup favorit mereka. Kebiasaan ini dilakukan Fidiya (23) asal Jakarta yang mulai mengoleksi photocard dan album grup K-pop favoritnya sejak dua tahun terakhir.

“Sebenarnya sudah suka K-pop dari lama banget, tapi mulai koleksi merch di 2024 karena sudah mulai kerja part time. Setelah join fandom jadi tertarik beli album dan photocard, mau support comeback grup favorit aku juga dengan beli barang-barang itu,” ujar Fidiya.

Berbeda dari Fidiya, Nisa (23) asal Depok, mengoleksi alat tulis (stationery) karena kegemarannya melukis dan menggambar. Bagi Nisa, koleksi pulpen adalah hobi sekaligus upaya untuk memenuhi kebutuhan kreatifnya.

“Suka mengoleksi stationery sejak 10 tahun lalu, sebenarnya karena dipakai untuk gambar sih. Koleksinya berdasarkan fungsi, tapi nggak tentu juga. Kadang pengen punya semuanya aja, rasanya puas kalau punya beragam pulpen tersusun di meja,” begitu kata Nisa.

Sementara Karenina (23) asal Jakarta Utara, mengoleksi Sonny Angel bersama kakak perempuannya. Mereka terkesan dengan beragam desain figurin boneka anak laki-laki bersayap malaikat tersebut.

“Aku dan kakakku suka mengoleksi figurin, karena kebetulan aku suka liat keberagaman model, pakaian, topi bahkan warna kulit beragam di koleksi punya kami bersama,” jelas Karenina.

Di balik masing-masing kesenangan para kolektor, apa yang sebenarnya terjadi secara psikologis ketika kita merasa puas setelah mengoleksi barang favorit?

Kenapa Orang Mengoleksi Barang?

Mengutip penjelasan ahli saraf dan psikiater Shirley M. Mueller dalam artikel Psychology Today, mengoleksi barang bukan sekadar kegiatan mengumpulkan benda. Aktivitas ini juga melibatkan proses kognitif, emosional, dan sosial yang memberikan manfaat bagi kesehatan mental.

Salah satunya adalah membantu mengurangi potensi stres. Saat menyusun koleksi barang tertentu dan mengelompokkan benda tersebut berdasarkan jenisnya, kita dapat memusatkan perhatian secara penuh pada aktvitas tersebut.

Fokus ini membantu mengalihkan pikiran dari tekanan sehari-hari sekaligus menyisakan waktu untuk bersantai.

Kegiatan mengoleksi barang juga dapat melatih kemampuan berpikir strategis. Ketika mengoleksi barang, kita perlu mempertimbangkan waktu yang tepat untuk membelinya, menunggu harga yang lebih murah, hingga memikirkan cara bernegosiasi dengan penjual.

Mengoleksi barang dapat memberikan rasa puas melalui pencapaian kecil, seperti Fidiya dan Karenina, misalnya, yang berhasil mendapatkan photocard dan seri figurine yang sudah lama dicari-cari.

Setiap barang yang berhasil dikumpulkan memberikan sense of accomplishment—perasaan berhasil—dan bisa mendorong kita untuk membuat dan mencapai target berikutnya.

Di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan kesempatan untuk membuka hubungan sosial yang lebih luas. Biasanya, para kolektor melakukan proses bertukar informasi sebelum membeli barang. Setelah itu, mereka mulai berbagi pengalaman dan menjalin pertemanan berbasis minat serupa.

Dalam komunitas penggemar K-pop, aktivitas jual beli photocard dan album acap kali menjadi salah satu cara untuk berinteraksi dengan sesama penggemar dan memperoleh pengetahuan dari komunitas.

“Biasanya kan kita lewat GO (Group Order) kalau mau beli merch, nah dari situ, kita bisa kenalan sama orang-orang di fandom yang sama,” jelas Fidiya.

Interaksi dan pertukaran informasi di komunitas kolektor inilah yang kelak berkembang sebagai social knowledge atau pengetahuan sosial.

Seperti disampaikan Prof. Andrew Dillon dari School of Information di University of Texas at Austin dalam artikelnya di situs Art Basel pada 2024, menjadi seorang kolektor serius melibatkan kemampuan untuk “mengidentifikasi dan mengevaluasi target minat” sampai akhirnya kita bisa mengembangkan discernment, suatu kemampuan untuk memahami, melihat, dan menilai sesuatu dengan mendalam tentang barang koleksi kita.

Internet punya peran penting dalam meningkatkan pesatnya pertukaran informasi dan perkembangan sumber daya terkait pengetahuan barang koleksi, salah satunya yang dicontohkan Prof. Dillon tecermin dari forum jam tangan di Reddit yang kini memiliki lebih dari 1,9 juta anggota.

“Di luar aktivitas jual-beli jam tangan, kebanyakan pergerakan dalam forum ini melibatkan diskusi merek dan model, sejarah pembuatan jam tangan, perawatan dan perbaikan, riwayat personal terkait koleksi, dan perkembangan industri jam tangan,” tulis Dillon.

Teknologi internet mempermudah proses para kolektor untuk menambah pengetahuan terkait barang koleksinya, meski memakan waktu untuk mengasah pengetahuan tersebut. “Dalam hal inilah, mengoleksi barang menjadi landasan dari hasrat mendasar manusia untuk belajar dan memahami dunia,” tulis Prof. Dillon.

Mengoleksi untuk Memiliki Rasa Kendali

Mengutip penelitian C. Clark Cao, Merrie Brucks, dan Martin Reimann yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research (2024), keinginan untuk mengoleksi barang berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memiliki kendali atas lingkungan dan kehidupannya.

Di tengah situasi yang tidak menentu, kegiatan mengoleksi dapat memberikan semacam rasa keteraturan karena barang-barang yang saling berkaitan bisa membentuk satu kesatuan yang utuh.

Penelitian ini mencakup enam studi yang mengamati perilaku mengoleksi dalam berbagai konteks, mulai dari penggalangan dana untuk produk koleksi hingga karakter dalam video game. Tim peneliti juga mengamati bagaimana keinginan untuk memiliki kendali memengaruhi dorongan seseorang untuk menambah dan melengkapi koleksinya.

Kecenderungan tersebut diukur dengan kuesioner psikologis yang menilai seberapa besar keinginan seseorang untuk mengendalikan keadaan di sekitarnya. Peneliti juga mengamati perilaku mengoleksi dalam situasi yang dapat meningkatkan kebutuhan akan kendali, termasuk saat pandemi COVID-19.

Dalam salah satu studi, diketahui bahwa setelah pandemi COVID-19 merebak, proyek penggalangan dana untuk produk koleksi memperoleh lebih banyak dukungan. Temuan ini menunjukkan bahwa ketika orang merasa kehilangan kendali atas keadaan, kegiatan mengoleksi dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kembali rasa keteraturan.

Dorongan untuk menambah koleksi juga berkaitan dengan seberapa kuat kebutuhan kolektor akan rasa kendali dan seberapa dekat koleksinya dengan set yang lengkap. Seiring koleksi menunjukkan susunan yang jelas dan semakin mendekati set yang lengkap, penambahan barang-barang pun akan semakin berkesan karena kolektor berhasil melengkapi keseluruhan koleksinya.

Dalam studi yang melibatkan pemain video game Genshin Impact dengan sistem koleksi karakter, tim peneliti menemukan bahwa keinginan untuk memiliki kendali dapat mendorong pemain mendapatkan lebih banyak karakter, terutama ketika koleksi mereka sudah cukup dekat dengan tahap lengkap. Namun, pengaruh ini tidak mesti muncul ketika koleksi masih jauh dari selesai.

Struktur merupakan salah satu hal yang membuat kegiatan mengoleksi menjadi sesuatu yang berarti bagi kolektornya.

“Setelah pandemi COVID-19 dimulai, kami melihat peningkatan signifikan dan dukungan terhadap diadakannya penggalangan dana untuk produk koleksi. Inilah contoh nyata bagaimana orang menjadikan kegiatan mengoleksi sebagai cara untuk mendapatkan kembali rasa keteraturan,” ucap salah satu peneliti, Reimann, dikutip dari laman berita The University of Arizona.

“Struktur adalah sesuatu yang membuat kegiatan mengoleksi jadi bermakna. Ketika orang mengumpulkan satu set barang, baik piringan hitam, koin maupun novel Tolkien, mereka menciptakan bentuk kesatuan yang utuh. Hal itu memberi kepuasan tersendiri,” lanjut Reimann.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mengoleksi dapat menjadi salah satu cara untuk menghadapi situasi yang kacau atau tidak pasti. Meski begitu, kegiatan mengoleksi barang tentu bukan satu-satunya cara untuk mengatasi perasaan kehilangan kendali. Dalam kondisi tertentu, mengoleksi juga berisiko menjadi bentuk pelarian sementara, alih-alih membantu kita menghadapi persoalan yang ada di depan mata.

Dalam pengalamanmu sendiri, apa makna yang bisa diperoleh dari kegiatan mengoleksi barang?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih