Menuju konten utama

Haus Validasi: Mengapa Kita Selalu Butuh Pengakuan Orang Lain?

Apa arti istilah haus validasi, apa penyebabnya, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan seseorang? Simak penjelasannya di artikel ini.

Haus Validasi: Mengapa Kita Selalu Butuh Pengakuan Orang Lain?
ilustrasi. Haus Validasi: Mengapa Kita Selalu Butuh Pengakuan Orang Lain? foto/istokcphoto

diajeng.id - Pernahkah kamu merasa senang ketika mendapat pujian, tetapi tiba-tiba meragukan diri sendiri saat tidak mendapatkan respons yang diharapkan? Misalnya, kamu terus memeriksa jumlah likes di media sosial atau merasa cemas ketika seseorang tidak segera membalas pesan.

Perasaan seperti ini bisa berkaitan dengan istilah yang belakangan sering muncul, yaitu haus validasi. Lantas, apa arti istilah tersebut, apa penyebabnya, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan?

Arti Haus Validasi

Dalam artikel "Compulsive Validation Seeking: Signs and How to Stop" yang dirilis ReachLink, dijelaskan bahwa haus validasi adalah kondisi ketika seseorang sangat membutuhkan pengakuan, persetujuan, atau penerimaan dari orang lain untuk merasa berharga dan yakin terhadap dirinya sendiri.

Lalu, kebutuhan akan validasi menjadi berlebihan ketika seseorang terus-menerus mengandalkan respons eksternal untuk meyakini bahwa dirinya layak, diterima, atau tidak melakukan kesalahan.

Keinginan untuk dihargai sebenarnya tak salah dan merupakan hal yang wajar. Setiap orang tentu ingin didengarkan dan diapresiasi. Namun, masalah dapat muncul ketika penilaian orang lain menjadi satu-satunya tolok ukur untuk menentukan harga diri.

Akibatnya, seseorang bisa merasa percaya diri saat dipuji, tetapi langsung merasa tidak cukup baik ketika menerima kritik atau tidak mendapat perhatian.

Ciri-Ciri Orang Haus Validasi

Menurut ImPossible Psych Services, ada beberapa perilaku yang dapat mengindikasikan kebutuhan validasi berlebihan.

Ciri pertama yang bisa dilihat adalah, orang tersebut terus-menerus mencari pembenaran dan selalu meminta kepastian bahwa dirinya disukai atau membutuhkan pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan.

Kedua, terlalu mengandalkan respons media sosial, seperti likes dan komentar, untuk mengukur nilai dirinya sendiri.

Ciri ketiga, tidak siap ketika mendapat kritik atau penolakan. Orang dengan kecenderungan ini bisa mengubah pendapat, penampilan, atau perilakunya demi menyenangkan orang lain.

Selanjutnya, ia juga terlalu sensitif terhadap masukan sehingga komentar kecil terasa seperti menyerang dirinya pribadi. Serta ciri kelima, terlalu sering membandingkan pencapaian dan penampilan dengan orang lain, serta kesulitan menentukan pilihan secara mandiri.

Meski demikian, ciri-ciri tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan psikologis. Frekuensi, intensitas, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan.

Apa Penyebab Haus Validasi?

Masih melansir ReachLink, disebutkan bahwa kebutuhan akan pengakuan yang berlebihan dapat berkaitan dengan pengalaman masa kecil dan pola keterikatan emosional. Misalnya, seseorang yang terbiasa menerima kasih sayang hanya ketika berhasil atau memenuhi harapan orang lain mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya harus terus membuktikan kelayakan agar diterima.

Ada pula karena berdasarkan pengalaman, jadi mendapat kritik berlebihan, perhatian yang tidak konsisten, atau kebutuhan emosional yang kurang terpenuhi juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya.

Selain itu, rendahnya kepercayaan diri bisa membuat pengakuan dari luar terasa seperti sumber kepastian yang dibutuhkan untuk merasa aman.

Apa Dampak Haus Validasi?

Dari ulasan di situs Harbor Mental Health, ditekankan bahwa ketergantungan seseorang pada pengakuan eksternal dapat berkaitan dengan kecemasan, penurunan harga diri, dan kesulitan memahami kebutuhan diri sendiri.

Tak hanya itu, orang yang selalu haus validasi juga berisiko kehilangan keaslian dirinya karena terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.

Dalam hubungan, kebutuhan akan kepastian yang terus-menerus dapat memicu konflik dan membuat kedua pihak merasa lelah secara emosional.

Mendapatkan pengakuan dan menerima apresiasi dari orang lain memang bukan sesuatu yang salah, yang terpenting adalah belajar menghargai diri sendiri tanpa selalu bergantung pada penilaian orang lain.

Dengan mengenali kebutuhan emosional dan membangun kepercayaan diri dari dalam, seseorang dapat menjalani hubungan yang lebih sehat sekaligus merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.

Artikel terkait lainnya juga bisa dicek di tautan ini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih