Menuju konten utama

Ketika Hanya Menjadi Second Choice dalam Relasi Asmara

Apa itu second choice dalam hubungan? Bagaimana ciri-ciri second choice serta apa saja dampak menjadi second choice? Simak penjelasannya di artikel ini.

Ketika Hanya Menjadi Second Choice dalam Relasi Asmara
Ilustrasi. Apa itu second choice dalam hubungan? FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Saat menjalin hubungan dengan seseorang, apakah kamu pernah merasa hanya dihubungi saat dirinya sedang bosan, atau selalu jadi pilihan terakhir saat dia butuh teman? Mungkin kamu sedang jadi second choice. Rasanya tentu tidak mudah ketika kamu selalu berusaha hadir untuk seseorang, tetapi justru merasa tidak pernah benar-benar menjadi prioritasnya.

Dalam hubungan atau relasi percintaan, perhatian yang datang sesekali terkadang membuat kita bertahan, meski hati dipenuhi keraguan. Lantas, apa sebenarnya arti second choice dalam hubungan, apa saja cirinya, dan bagaimana cara menghadapinya?

Apa Itu Second Choice dalam Hubungan?

Secara sederhana, second choice adalah alternatif pilihan atau pilihan kedua saat pilihan yang utama tidak tersedia. Dalam hubungan asmara, istilah ini menggambarkan perasaan ketika seseorang menganggap dirinya hanya sebagai cadangan, bukan pasangan yang benar-benar diprioritaskan.

Dilansir dari DC Counseling & Psychotherapy Center, perasaan menjadi pilihan kedua bisa muncul ketika seseorang masih memproses hubungan masa lalu dan akan memulai hubungan baru. Namun, tidak semua relasi seperti ini, di mana menjadikan seseorang sebagai pilihan cadangan. Terkadang, perasaan tersebut juga muncul karena ketidakpastian atau perbandingan dengan mantan pasangan.

Lalu, second choice artinya dalam bahasa gaul apa? Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang hanya dicari ketika orang yang lebih diinginkan tidak bisa memberikan perhatian. Akibatnya, hubungan terasa berjalan satu arah karena salah satu pihak terus berusaha, sementara pihak lainnya tidak menunjukkan komitmen yang seimbang.

Ciri-Ciri Second Choice dalam Hubungan

Artikel berjudul "3 Signs You’re Someone’s Second Choice — Their Safety Net" di situs Medium menjelaskan, terdapat beberapa tanda yang bisa membuat seseorang merasa hanya menjadi pilihan kedua.

Tanda pertama yang terlihat jelas adalah, perhatian pasangan tidak konsisten. Pasanganmu bisa sangat cepat berubah. Suatu saat bersikap sangat romantis dan memberikan harapan, tetapi tiba-tiba bisa menjauh ketika hubungan mulai terasa serius.

Tanda selanjutnya, pasangan sering menggunakan alasan waktu yang belum tepat. Ia mengatakan belum siap menjalin hubungan atau meminta kamu menunggu tanpa memberikan kejelasan mengenai masa depan.

Serta tanda ketiga, ada orang lain yang masih menjadi pusat perhatiannya. Kamu mungkin merasa harus bersaing dengan mantan pasangan atau kamu tahu ada seseorang yang diam-diam masih diharapkan oleh pasanganmu.

Meski demikian, tanda-tanda tersebut perlu dilihat sebagai pola perilaku, bukan bukti yang mutlak. Komunikasi terbuka tetap diperlukan untuk memahami situasi yang sebenarnya.

Dampak Menjadi Second Choice

Merasa hanya menjadi pilihan kedua dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Kamu mungkin mulai mempertanyakan harga diri, merasa tidak cukup baik, bahkan membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam artikel Psychology Today, Aaron Ben-Ze'ev menjelaskan bahwa menjadi pilihan kedua dalam hubungan asmara memang dapat terasa menyakitkan karena seseorang merasa dianggap lebih rendah daripada alternatif pasangan lainnya.

Jika berlangsung terus-menerus, perasaan tersebut dapat membuat hubungan terasa melelahkan. Kamu sibuk mencari kepastian, sementara kebutuhan emosionalmu sendiri justru terabaikan.

Cara Menghadapi dan Berhenti Jadi Second Choice

Jika pasanganmu sering menunjukkan tanda-tanda di atas, maka langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah mengenali perasaan dan kebutuhanmu sendiri. Apakah kamu merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan kepastian dalam hubungan? Jika tidak, cobalah membicarakannya secara jujur dengan pasangan.

Selanjutnya, tetapkan batasan yang sehat. Kamu tidak harus selalu tersedia setiap kali pasangan membutuhkanmu, terutama jika ia tidak memberikan perhatian yang sama. Perhatikan juga tindakan nyata, bukan hanya janji atau kata-kata manis.

Jika pasangan terus menunjukkan perilaku yang sama meskipun sudah diajak berkomunikasi, pertimbangkan kembali apakah hubungan tersebut masih baik untukmu.

Masih menukil Psychology Today, Ben-Ze'ev juga mengingatkan bahwa pilihan yang dianggap ideal belum tentu merupakan pilihan terbaik untuk kehidupan jangka panjang.

Menjadi second choice bukan berarti kamu tidak layak dicintai. Kamu tetap memiliki nilai, terlepas dari keputusan seseorang untuk memilihmu atau tidak. Sebab, hubungan yang sehat bukan tentang terus berjuang agar diprioritaskan, melainkan tentang dua orang yang sama-sama ingin hadir, bertahan, dan membangun hubungan dengan kesungguhan.

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih