diajeng.id - Saat menjalin hubungan dengan seseorang, apakah kamu pernah merasa hanya dihubungi saat dirinya sedang bosan, atau selalu jadi pilihan terakhir saat dia butuh teman? Mungkin kamu sedang jadi second choice. Rasanya tentu tidak mudah ketika kamu selalu berusaha hadir untuk seseorang, tetapi justru merasa tidak pernah benar-benar menjadi prioritasnya.
Dalam hubungan atau relasi percintaan, perhatian yang datang sesekali terkadang membuat kita bertahan, meski hati dipenuhi keraguan. Lantas, apa sebenarnya arti second choice dalam hubungan, apa saja cirinya, dan bagaimana cara menghadapinya?
Apa Itu Second Choice dalam Hubungan?
Secara sederhana, second choice adalah alternatif pilihan atau pilihan kedua saat pilihan yang utama tidak tersedia. Dalam hubungan asmara, istilah ini menggambarkan perasaan ketika seseorang menganggap dirinya hanya sebagai cadangan, bukan pasangan yang benar-benar diprioritaskan.
Lalu, second choice artinya dalam bahasa gaul apa? Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang hanya dicari ketika orang yang lebih diinginkan tidak bisa memberikan perhatian. Akibatnya, hubungan terasa berjalan satu arah karena salah satu pihak terus berusaha, sementara pihak lainnya tidak menunjukkan komitmen yang seimbang.
Ciri-Ciri Second Choice dalam Hubungan
Artikel berjudul "3 Signs You’re Someone’s Second Choice — Their Safety Net" di situs Medium menjelaskan, terdapat beberapa tanda yang bisa membuat seseorang merasa hanya menjadi pilihan kedua.
Tanda selanjutnya, pasangan sering menggunakan alasan waktu yang belum tepat. Ia mengatakan belum siap menjalin hubungan atau meminta kamu menunggu tanpa memberikan kejelasan mengenai masa depan.
Serta tanda ketiga, ada orang lain yang masih menjadi pusat perhatiannya. Kamu mungkin merasa harus bersaing dengan mantan pasangan atau kamu tahu ada seseorang yang diam-diam masih diharapkan oleh pasanganmu.
Meski demikian, tanda-tanda tersebut perlu dilihat sebagai pola perilaku, bukan bukti yang mutlak. Komunikasi terbuka tetap diperlukan untuk memahami situasi yang sebenarnya.
Dampak Menjadi Second Choice
Merasa hanya menjadi pilihan kedua dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Kamu mungkin mulai mempertanyakan harga diri, merasa tidak cukup baik, bahkan membandingkan diri dengan orang lain.
Dalam artikel Psychology Today, Aaron Ben-Ze'ev menjelaskan bahwa menjadi pilihan kedua dalam hubungan asmara memang dapat terasa menyakitkan karena seseorang merasa dianggap lebih rendah daripada alternatif pasangan lainnya.
Jika berlangsung terus-menerus, perasaan tersebut dapat membuat hubungan terasa melelahkan. Kamu sibuk mencari kepastian, sementara kebutuhan emosionalmu sendiri justru terabaikan.
Cara Menghadapi dan Berhenti Jadi Second Choice
Jika pasanganmu sering menunjukkan tanda-tanda di atas, maka langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah mengenali perasaan dan kebutuhanmu sendiri. Apakah kamu merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan kepastian dalam hubungan? Jika tidak, cobalah membicarakannya secara jujur dengan pasangan.
Selanjutnya, tetapkan batasan yang sehat. Kamu tidak harus selalu tersedia setiap kali pasangan membutuhkanmu, terutama jika ia tidak memberikan perhatian yang sama. Perhatikan juga tindakan nyata, bukan hanya janji atau kata-kata manis.
Masih menukil Psychology Today, Ben-Ze'ev juga mengingatkan bahwa pilihan yang dianggap ideal belum tentu merupakan pilihan terbaik untuk kehidupan jangka panjang.
Menjadi second choice bukan berarti kamu tidak layak dicintai. Kamu tetap memiliki nilai, terlepas dari keputusan seseorang untuk memilihmu atau tidak. Sebab, hubungan yang sehat bukan tentang terus berjuang agar diprioritaskan, melainkan tentang dua orang yang sama-sama ingin hadir, bertahan, dan membangun hubungan dengan kesungguhan.
Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih