diajeng.id - Setelah mendengar curhatan dari teman, apa kamu merasa sangat lelah, baik fisik maupun emosional?
Salah seorang pengguna Threads belum lama ini meminta saran di unggahannya karena sedang mengalami hal tersebut.
"Warga thread yang psikolog, kasih tahu dong gimana menetralisir efek negatif dari curhatan org?? Dengerin curhatan org tuh nguras energi banget, apalagi yang dicurhatin adalah hal yang berulang2 dan tema nya itu2 aja selama bertahun2. Sedangkan kita cuma bisa mendengarkan tanpa bisa ngapa2in. Tolong saya 🙌 ," tulis akun @bpk.kocheng.
Kita semua mungkin punya teman atau kolega yang cenderung hanya menghubungi saat sedang dilanda masalah, entah itu drama perselingkuhan yang rumit, kesulitan ekonomi yang mencekik, masalah kesehatan, hingga keluhan tanpa akhir tentang politik kantor.
Sebagai teman yang baik, kita tentu ingin menunjukkan empati. Namun, tanpa sadar, kita sering membiarkan diri kita menjadi "tong sampah emosional" yang menyerap semua stres tersebut, sampai-sampai malah energi kita sendiri yang terkuras habis.
Dilansir SELF, mendengarkan keluh kesah sebenarnya adalah hal yang wajar dan bisa memperkuat ikatan persahabatan jika dilakukan dalam porsi yang sehat.
Lantas, bagaimana cara kita tetap menjadi teman yang suportif tanpa harus mengorbankan kesehatan mental kita?
Jadi Teman Suportif Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental
Salah satu kunci utamanya datang dari perspektif psikiatri.
Dalam sebuah wawancara di Youtube, Dr. Sue Varma menjelaskan bahwa orang yang terus-menerus mengeluh sering kali merasa tidak berdaya dan tidak memiliki kendali atas hidup mereka.
Dalam upaya untuk memutus rantai negativitas ini, Dr. Varma menyarankan sebuah pendekatan yang mengubah empati menjadi pemberdayaan. Strategi yang bisa kita gunakan adalah dengan mengajukan pertanyaan reflektif.
Dr. Varma menyarankan agar kita bertanya langsung kepada mereka, "Apa ada aspek dari situasi yang mengganggumu ini yang sebenarnya bisa kamu kendalikan?"
Langkah Praktis Menghadapi Teman yang Selalu Curhat Negatif
Namun, ingatlah untuk memvalidasi perasaan mereka terlebih dahulu sebelum memberi solusi. Sebab, biasanya orang hanya perlu merasa didengar sebelum mereka siap untuk bertindak.
Selain strategi komunikasi tersebut, laman VeryWell Mind menyarankan untuk menetapkan batasan atau boundaries yang tegas. Menjadi teman yang baik bukan berarti kamu harus berperan sebagai terapis atau selalu siap sedia 24 jam.
Jika temanmu terbiasa menelepon larut malam atau mengeluh berjam-jam, kamu berhak membatasi waktu tersebut.
Katakan dengan sopan, "Aku punya waktu 10 menit untuk mendengarkan, setelah itu aku harus menyelesaikan pekerjaan lain."
Dengan cara ini, kamu memberi sinyal bahwa dirimu peduli, tetapi kamu juga memiliki prioritas hidup yang harus dijaga.
Dalam beberapa contoh situasi, cara terbaik untuk menetralisir energi negatif adalah dengan mengubah suasana pertemuan.
Aktivitas seperti ini memaksa pikiran untuk tetap berada di masa kini dan meminimalisir kesempatan untuk terus-menerus merenungkan masalah yang sama (rumination).
Terakhir, jangan lupakan pentingnya perawatan diri atau self-care setelah energi kita terkuras.
Setelah mendengarkan cerita yang berat, lakukanlah sesuatu yang membuat kamu merasa relaks dan bahagia, mungkin dengan membaca buku yang inspiratif, mandi air hangat, atau sekadar melakukan meditasi singkat.
Tujuannya adalah agar residu negatif dari percakapan tadi tidak mengendap dan merusak suasana hatimu sepanjang hari.
Menjaga jarak emosional bukan berarti kita tidak peduli dengan teman kita. Dengan menjaga energi kita sendiri, kita tetap bisa jadi pendengar yang berkualitas pada saat yang benar-benar dibutuhkan.
Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih