Menuju konten utama

Membangun Boundaries, Seni Menjaga Batasan Sehat dengan Teman

Batasan dalam pertemanan bukan seperti tembok yang memisahkan, melainkan pedoman untuk perilaku dan ekspektasi yang dapat diterima kedua belah pihak.

Membangun Boundaries, Seni Menjaga Batasan Sehat dengan Teman
Header Diajeng Batasan dengan Teman. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Kita semua pasti punya tipe teman yang sudah seperti keluarga sendiri.

Mereka adalah orang-orang yang kita percaya untuk memegang kunci rumah kita, mendengar rahasia paling suram tentang diri kita, atau sekadar datang tanpa diundang saat kita bersedih.

Namun, apa kamu pernah merasa kesal karena ada teman yang terus-menerus menuntut waktumu, mengkritik pilihan hidupmu, atau mengabaikan pendapatmu?

Di sinilah kita perlu paham bahwa kepercayaan, sebesar apa pun itu, tetap membutuhkan garis pembatas.

Apa Itu Batasan yang Sehat?

Laman Verywell Mind menuliskan, boundaries atau batasan dalam pertemanan tidak perlu dimaknai seperti tembok yang memisahkan. Dalam konteks ini, batasan dalam pertemanan merupakan pedoman untuk perilaku yang dapat diterima, ekspektasi, dan batasan pribadi.

Batasan ini akan memperjelas apa yang diinginkan dan apa yang bersedia kamu terima dalam sebuah hubungan. Tujuannya sangat positif, untuk melindungi identitasmu dan ruang pribadimu agar pertemanan tidak jadi upaya yang terlalu melelahkan.

Tanpa batasan yang jelas, kita sangat mungkin terjebak dalam rasa benci (resentment) atau kecemasan berlebih karena merasa terus dikuasai oleh kebutuhan dan permintaan dari orang lain.

Antara Loyalitas dan "Penyakit" Menyenangkan Orang Lain

Mengapa begitu sulit untuk bilang "tidak" pada teman?

Tulisan Terri Cole berjudul "Struggling to Set Boundaries With Friends? Try This" menjelaskan bahwa banyak dari kita terjebak dalam "Historical Handcuffs" alias "Borgol Sejarah".

"Historical Handcuffs" merujuk pada pertemanan yang sudah terjalin sejak kecil yang sebenarnya sudah tidak sejalan lagi dengan nilai-nilai kita saat ini. Namun begitu, kita merasa wajib mempertahankannya karena faktor investasi waktu yang telanjur sudah dikerahkan sedari lama.

Selain itu, ada kecenderungan people-pleasing atau keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain demi menjaga kedamaian dan ketenteraman relasi sosial.

Kita sering merasa bersalah saat menolak undangan atau merasa wajib selalu ada untuk teman, bahkan saat tangki emosional kita sudah penuh.

Padahal, pertemanan sejati seharusnya bersifat sukarela dan berangkat dari ketulusan atau kejujuran, alih-alih kewajiban yang memberatkan.

Cole menyarankan kita untuk mulai melakukan "inventaris pertemanan" yang fungsinya adalah untuk mengenali mana hubungan yang memberi energi dan mana yang malah menguras mental.

Membangun "Pagar" yang Menjaga

Bailey T. Hurley menawarkan sudut pandang praktis dalam tulisannya entang cara memulai batasan ini tanpa merusak hubungan.

Hurley menekankan bahwa kita bertanggung jawab penuh atas seberapa banyak kita memberi atau menerima dalam sebuah pertemanan.

Jika hatimu mulai merasa tidak nyaman terhadap sosok yang selama ini kamu anggap teman, hal itu adalah pertanda bahwa batasanmu sudah kabur.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi pemicu ketidaknyamanan tersebut. Misalnya, apa kamu merasa tidak dihargai saat teman mengambil keputusan sepihak atas namamu?

Setelah itu, ambillah tanggung jawab atas peranmu dalam konflik tersebut, seperti meminta maaf atas, misalnya, sikapmu yang pasif-agresif, alih-alih mengutarakan isi hati yang sesungguhnya.

Dalam contoh lain, kamu bisa menyampaikan apa adanya, misalnya, kamu tidak bisa menjemput temanmu di rumahnya karena jalanan yang macet bikin kamu stres atau arah jalan berlawanan yang terlalu jauh. Penjelasanmu wajar dan masuk akal untuk menjaga agar pertemanan kalian tetap berada di "jalur yang aman" dan tidak berubah menjadi kebencian.

Cara Berkomunikasi dengan Bijak

Saat tiba waktunya untuk bicara dengan temanmu, gunakanlah teknik komunikasi yang asertif atau tegas tetapi juga kalem.

Situs Verywell Mind menyarankan kita menggunakan "I-statement" atau pernyataan yang diawali dengan "aku" untuk menghindari kesan menyalahkan orang lain.

Kamu bisa memulai dengan menegaskan betapa dirimu menghargai pertemanan kalian, lalu sampaikan batasan yang telah dibuat dengan jelas, singkat, dan konsisten.

Misalnya, "Aku menghargai banget perhatian dan dukunganmu, tapi sekarang aku lagi pengen sendiri dulu untuk beresin masalah ini sebelum kita ngobrol-ngobrol lagi".

Pada esensinya, batasan yang tepat tidak bertujuan untuk mengontrol atau menyakiti perasaan orang lain. Mengatakan "tidak" kepada orang dewasa yang bertanggung jawab atas kebutuhan mereka sendiri mungkin bikin kita tidak nyaman. Namun, rasa tidak nyaman tersebut biasanya berlangsung sesaat saja. Pada hubungan yang sehat, penolakan demikian tidak akan menyebabkan luka permanen.

Batasan seperti itulah yang akhirnya menjadi "harta karun" emosional kita agar tidak "dicuri" pada waktu yang tidak tepat. Dengan begitu, pertemanan bisa bertahan lama sekaligus tetap memberikan ruang bernapas yang sehat bagi masing-masing pihak.

Artikel lainnya seputar pertemanan juga bisa dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait PERTEMANAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih