Menuju konten utama

Mengapa Carl Jung Jadi "Self-Help Guru" Idola Gen Z di TikTok?

Meski ide Jung terasa membebaskan, kita harus sadar bahwa konsepnya lahir dari pergulatan psikologis rumit alih-alih sekadar konten self-help di TikTok.

Mengapa Carl Jung Jadi
Header diajeng Psikiater Carl Jung. tirto.id/Quita

diajeng.id - Psikiater Carl Gustav Jung (1875–1961) mungkin merupakan salah satu tokoh tak terduga dari masa lalu yang sukses mendulang popularitas di kalangan anak muda era digital sekarang.

Buah pemikirannya tentang dunia psikologi manusia kini mengalami kebangkitan luar biasa di kalangan Gen Z.

Melalui platform video semacam TikTok, kutipan buku dan konsep Jung seperti Arketipe, Shadow Work, dan Individuasi, telah diangkat menjadi konten viral.

Buku-buku Jung dipromosikan sebagai panduan esensial bagi self-help modern, menawarkan bahasa yang kaya untuk menavigasi krisis eksistensial dan pencarian makna yang mendalam.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Gen Z, yang dikenal melek akan keadilan sosial dan kesehatan mental serta haus akan autentisitas, menemukan resonansi kuat dalam pandangan Jung tentang spiritualitas, mitos, dan kompleksitas batin manusia.

Carl Jung berhasil melampaui dinding akademik untuk mengambil peran baru sebagai "Self-Help Guru" bagi generasi muda.

Lebih dari orang tua yang membagikan petuah-petuah tentang psikologi, ia menyajikan kerangka kerja untuk memahami diri seutuhnya.

Profil Singkat Carl Jung

Dalam situs VeryWell Mind, dituliskan Carl Jung lahir di Swiss pada 1875 dari keluarga yang cukup religius.

Meski Jung tidak tumbuh menjadi sosok yang sangat agamis, ia justru terpesona pada simbol-simbol, mimpi, dan hal-hal yang terasa “lebih besar dari diri manusia”.

Sedari kecil, Jung cenderung menyimpan dunia batinnya sendiri. Jiwanya dipenuhi imajinasi dan sarat mimpi, dua faktor penting yang kelak mengarahkan minatnya pada studi psikologi.

Saat kuliah kedokteran, Jung memutuskan untuk menyelami psikiatri. Ia tertarik pada hubungan antara psikis manusia dan hal-hal yang dianggap “mistis”.

Jung kemudian bekerja di rumah sakit jiwa di Zürich, dibimbing psikiater terkenal Eugen Bleuler, dan fokus meneliti skizofrenia serta psikosis.

Kombinasi pengalaman pribadi terkait mimpi dan spiritualitas, disokong dengan bekal ilmu kedokteran serta riset klinis, berperan membentuk gagasan-gagasan Jung yang terkenal sampai hari ini.

Menariknya, Jung adalah jenis ilmuwan yang tidak hanya melihat manusia sebagai makhluk biologis, tetapi juga makhluk pencari makna.

Inilah yang membuat cara berpikirnya relevan di era modern, terutama bagi generasi yang sedang mencari jati diri.

Pemikiran Carl Jung

Jung dikenal sebagai tokoh yang merintis psikologi analitis, yaitu pendekatan yang mempelajari hubungan antara dunia sadar manusia dan dunia bawah sadar yang lebih luas.

muncul gagasan-gagasan yang hari ini sering dikutip di mana-mana.

Arketipe

Menurut Jung, kita semua menyimpan pola “peran batin” yang diwariskan dari generasi ke generasi, seperti memori kolektif manusia. Ia menyebutnya Arketipe.

Beberapa contoh Arketipe yang sering dibahas:

  • Persona, yaitu “topeng” yang kita pakai saat tampil di hadapan orang lain.
  • Bayangan (shadow), sisi gelap yang sering kita sembunyikan.
  • Anima/ Animus, merujuk pada unsur feminin dalam laki-laki dan unsur maskulin dalam perempuan.
  • The Self (Diri), pusat diri kita yang akan muncul ketika sadar dan bawah sadar sudah menyatu.
Buat Gen Z, konsep Arketipe dapat menjelaskan mengapa manusia bisa memiliki sisi gelap, punya banyak versi diri, atau merasakan konflik batin yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika sederhana.

Ekstrovert dan Introvert

Jung adalah tokoh yang memperkenalkan konsep dua tipe kepribadian ini.

  • Ekstrovert; energi keluar, suka berbicara, ekspresif
  • Introvert; lebih kontemplatif, pendiam, suka menyimpan dunia batinnya
Hari ini, istilah itu sudah sangat umum dipakai, bahkan jadi identitas sosial yang marak dibahas dalam konteks sehari-hari.

@philosophicallines

Letters Vol. 1, Pages 169-170 | your soul & subconscious know better than you do #psychology#philosophy#carljung#intuition#literature#booktok

♬ original sound - sl0w3D_mus1c1903

Ketidaksadaran Kolektif

Ini adalah salah satu ide Jung yang paling filosofis. Menurutnya, manusia tidak hidup hanya dalam pengalaman individu.

Di bawah kesadaran pribadi, ada “kesadaran bersama” yang menghubungkan seluruh manusia lintas zaman.

Ruang tersebut mewadahi mitos, simbol, dan pengetahuan purba yang terus mewarnai hidup manusia modern, tanpa kita sadari.

Ide ini memberi perasaan bahwa manusia tidak sendirian dalam pencarian makna. Ada sesuatu yang lebih luas, lebih tua, dan lebih dalam yang ikut hidup dalam diri kita.

Mengapa Pemikiran Jung Diminati Anak Muda Sekarang?

Fenomena Jung di TikTok, seperti dilansir Psychology Today, sebenarnya muncul sebagai jawaban atas kebutuhan emosional generasi hari ini.

Banyak anak muda yang menganggap psikologi modern terlalu “teknis”.

Psikologi hari ini dipandang terlalu banyak mengulas tentang gejala, diagnosis, dan metode pemulihan, tapi jarang memberi ruang pembicaraan tentang makna.

Nah, konsep-konsep dari Jung menawarkan sesuatu yang hampir hilang: yakni kedalaman.

@jennykdmd

Jung bridging the gap between the 3D and 5D one book at a time #carljung#spiritualawakening

♬ original sound - Jenny Grows

1. Rasa haus akan kedalaman psikologis

Psikologi arus utama banyak fokus pada “mengelola gejala”: pikiran negatif, kecemasan, mood.

Meski penting, hal-hal tersebut sayangnya tidak selalu mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan batin yang lebih eksistensial, semacam, "Kenapa aku mengulang pola yang sama? Kenapa aku merasa tidak autentik? Kenapa kesuksesan justru terasa hampa?"

Jung mengajak kita melihat bagian-bagian diri yang tersembunyi, “bayangan” yang mungkin selama ini kita tolak atau kita anggap tidak ada.

Ide Jung bahwa manusia dapat menemukan diri yang lebih utuh bisa jadi terasa sangat menyentuh hati generasi yang sedang bergulat mencari identitas.

2. Shadow Work muncul sebagai reaksi dari “diri yang terkurasi”

Kita hidup di era persona sosial.

Di Instagram atau TikTok, semua orang seperti punya "versi diri" yang ideal. Namun begitu, semakin kita membangun persona, ada risiko semakin kita kehilangan kontak dengan diri yang sebenarnya.

Shadow Work dapat mengajak kita untuk melihat bagian yang tidak tampil di kamera: rapuh, takut, iri, marah.

Di sini, Jung seperti memberikan izin kepada anak muda untuk tidak melulu tampil sempurna. Singkat ada, ada energi pembebasan dari upaya mengakui sisi gelap.

3. Jung menawarkan sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri

Akses terapi kesehatan mental dengan psikolog profesional atau psikiater tidaklah mudah. Meski bisa didapat dengan asuransi kesehatan program pemerintah, prosesnya cukup berliku dan keberadaannya belum merata di setiap daerah.

Shadow journal, konten TikTok, e-book self-help pun bisa jadi semacam “jalan alternatif” untuk memahami diri tanpa harus menginjakkan kaki ke dalam ruang terapi.

Tidak bisa dimungkiri, memahami diri dengan cara mandiri demikian tentu mengandung risiko, terutama bagi yang punya trauma.

Namun, bagi banyak Gen Z, pilihan tersebut terasa seperti ruang aman pertama untuk mencoba menjelajahi diri.

4. Jung memberi kerangka untuk memahami diri sebagai manusia utuh

Yang paling membuat Jung relevan adalah keyakinannya bahwa manusia bukan hanya kumpulan gejala, tapi satu kesatuan yang terdiri dari sisi sadar, bawah sadar, dan bahkan pola-pola yang diwariskan secara kolektif.

Pandangan Jung tersebut memberi rasa makna, seolah-olah hidup kita terhubung dengan sesuatu yang lebih luas.

Pada intinya, minat Gen Z terhadap Jung menunjukkan bahwa generasi ini bukan hanya mencari “tips mental health”, tapi ingin memahami:

  • siapa diriku,
  • dari mana luka batin datang,
  • apa makna yang hilang,
  • dan bagaimana menjadi diri yang autentik.
Di dunia yang berlangsung serba cepat dan sangat terkurasi, Jung datang seperti suara lama yang mengingatkan: di balik persona, ada diri yang lebih dalam menunggu untuk ditemukan.

Tetap Perlu Hati-Hati dengan Pemikiran Jung

Meski Shadow Work dan ide-ide Jung terasa membebaskan, kita tetap harus waspada bahwa konsep Jung lahir dari pergulatan psikologis yang rumit, alih-alih sekadar tips self-help yang disimplifikasi di TikTok.

Dinukil The Conversation, beberapa psikoterapi yang dianggap “Jungian” sebenarnya juga ada dalam terapi lain yang tidak selalu berangkat sepenuhnya dari pemikiran Jung.

Shadow Work, misalnya, tidak hanya membongkar luka, tapi juga membawa pemahaman baru yang membuat kita lebih kuat.

Dalam situasi tertentu, menghadapi sisi gelap tanpa dukungan profesional justru berisiko membuat diri sendiri kewalahan. Bahkan, Jung sendiri memahami risiko ini.

Dengan kata lain, gagasan Jung memang terdengar relevan dalam upaya pencarian diri, tetapi tidak semuanya harus diambil sebagai jalan satu-satunya.

Yang penting, proses mengenal bayangan dilakukan dengan kesadaran, pendampingan, dan tidak sekadar demi konten atau tren.

Artikel lainnya seputar Gen Z juga bisa dibaca lewat tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih