diajeng.id - Pernah merasa kesal atau bahkan membenci orang lain atau sebuah hal tanpa alasan yang jelas?
Di tengah kekesalan itu, sampai-sampai muncul pertanyaan dalam hati, “Kenapa aku rasanya jadi benci sama semua orang?”
Uniknya, di balik rasa tidak suka tersebut, ada kalanya kita merasa "puas" saat menjadi hater. Melihat orang yang tidak kita sukai mengalami kegagalan atau mengomentari hal yang membuat kita jengkel, pada titik tertentu, bisa memberikan sensasi lega tersendiri.
Di balik manusiawinya pengalaman marah atau tidak menyukai sesuatu, sebenarnya apa yang menyebabkan kita bisa jadi hater dan "menikmati" momen tersebut?
Menurut situs National Violence Prevention Hotline, alasannya bisa berkaitan dengan stres, pengalaman ditolak, emosi yang belum tuntas, hingga depresi.
1. Stres Berkepanjangan dan Kelelahan Bersosialisasi
Stres yang berlangsung terus-menerus, tuntutan sosial, konflik, hingga terlalu banyak terpapar konten media sosial dapat membuat kita mengalami kelelahan emosional.
Akibatnya, interaksi yang sebenarnya sepele pun bisa terasa menguras energi dan membuat kita lebih mudah merasa terganggu atau kesal.
2. Pengalaman Ditolak atau Dikhianati
Pengalaman penolakan atau pengkhianatan di masa lalu dapat memengaruhi cara kita memandang hubungan sosial.
Ketika kita pernah dibuat terluka karena orang lain, otak bisa menjadi lebih waspada dan menganggap interaksi berikutnya sebagai sesuatu yang berpotensi membawa kekecewaan atau rasa sakit.
3. Kemarahan atau Kesedihan yang Belum Terselesaikan
Alasan lainnya berkaitan dengan emosi seperti kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan yang tidak tersalurkan. Akibatnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk lain, misalnya mudah tersinggung, frustrasi, atau menunjukkan sikap bermusuhan kepada orang lain.
Oleh karena itu, rasa “benci” yang muncul belum tentu benar-benar ditujukan kepada orang lain, tetapi bisa menjadi luapan dari emosi yang belum selesai diproses.
4. Depresi atau Kecemasan
Depresi dan kecemasan juga dapat memengaruhi cara kita mempersepsikan lingkungan sosial. Dalam kondisi tertentu, pertemuan dengan orang lain atau interaksi yang biasa-biasa saja bisa terasa mengganggu dan melelahkan.
Perubahan cara pandang ini kemudian bisa membuat kita lebih memilih menarik diri dari lingkungan sosial.
5. Evolutionary Mismatch
Sementara menurut Psychology Today, manusia modern hidup dalam kondisi yang berbeda drastis dari lingkungan tempat nenek moyang berevolusi. Perbedaan ini disebut evolutionary mismatch.
Di zaman lampau, ancaman terhadap manusia adalah predator atau kelompok lain yang membahayakan keselamatan. Kini, pada masyarakat modern, rasa terancam dapat muncul dari berbagai persoalan sosial dan perbedaan pandangan.
6. Perbedaan Ideologi dan Pandangan
Menurut Verywell Mind, perbedaan dalam keyakinan politik, agama, budaya, maupun nilai sosial dapat memicu rasa marah atau tidak suka terhadap orang yang dianggap memiliki pandangan berseberangan.
Kondisi ini dapat semakin kuat ketika muncul pola pikir “kita versus mereka”, sehingga kelompok dengan pandangan berbeda lebih mudah dianggap sebagai pihak yang berlawanan atau mengancam nilai yang kita yakini.
7. Rasa Percaya Diri yang Rendah
Verywell Mind juga menjelaskan bahwa rasa rendah diri dapat membuat kita merasa tidak cukup baik dibandingkan teman atau anggota keluarga lain.
Perasaan tersebut bisa memicu rasa tidak aman, iri, bahkan ketidaksukaan terhadap diri sendiri yang kemudian berkembang menjadi mudah tersinggung, cemas, atau sedih.
Dalam kondisi seperti ini, kita akan cenderung menghindari orang, tempat, atau situasi yang memunculkan perasaan negatif.
Apabila hal itu berlangsung terus-menerus, akan muncul rasa ketidaksukaan terhadap orang lain atau situasi sosial, meskipun alasannya bisa jadi tidak rasional.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih