diajeng.id - Belum lama ini, dokter anak yang aktif di media sosial, dr. Lucky Yogasatria, Sp.A, menerima komentar kasar dari seorang warganet tanpa konteks yang jelas.
Dalam akun Threads, dr. Lucky membagikan isi komentar tersebut, yang isinya mendoakan hal buruk untuk anaknya.
Tak tinggal diam, dr. Lucky meminta pemilik akun untuk meminta maaf, karena jika tidak, urusannya bakal diperpanjang.
Tak butuh waktu lama, warganet yang bersangkutan sudah meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya. Kejadian ini kembali membuka diskusi tentang dorongan orang-orang melontarkan ujaran kasar dan kebencian di media sosial.
Kenapa Orang Gampang Komentar Kasar dan Menyakitkan di Medsos?
Media sosial, entah itu X (Twitter), Facebook, Instagram, TikTok atau ruang obrolan lainnya di internet dapat diibaratkan lahan subur bagi siapa pun untuk menyampaikan komentar kasar, hinaan, sampai ujaran kebencian.
Apa sebenarnya yang membuat beberapa orang bisa menuliskan komentar kasar dan kejam, yang bahkan tidak relevan sama sekali, terhadap orang lain di media sosial?
Salah satu faktor pendorongnya tak lain adalah anonimitas. Kita bisa "bersembunyi" di balik akun-akun alter yang memang sengaja kita buat untuk melontarkan komentar sesuka hati.
Jika pun kita menggunakan akun asli, orang-orang yang kita komentari tidak berada di dekat kita secara fisik alias terpisah jarak.
Ditambah lagi, mengetik kalimat dari balik layar smartphone terasa seperti berbicara kepada diri sendiri, sehingga kita "lupa" bahwa ada manusia lain yang pasti membaca dan bereaksi atas komentarnya.
Selain itu, jarak fisik dan keterbatasan isyarat sosial langsung di ruang digital dapat mengurangi "sense of self-responsibility" alias rasa tanggung jawab pribadi.
Maka dari itu, orang lebih berani menggunakan bahasa yang kasar atau menyakitkan di kolom komentar medsos dibandingkan jika mereka berhadapan langsung dan melakukan tatap mata dengan lawan bicaranya.
Seperti disampaikan Dr. Sherry Turkle, psikolog dan dosen ilmu sosial sains dan teknologi di Massachusetts Institute of Technology, banyak orang lupa bahwa pada dasarnya mereka "bicara keras-keras" meskipun itu disampaikan secara tekstual melalui kecanggihan teknologi digital.
"Kalian mengeluarkan sesuatu [mengetik komentar di smartphone], tapi pada waktu sama kalian merasa tidak mengeluarkan apa pun," terang Dr. Turkle tentang betapa remeh sekaligus sangat berdampaknya hasil ketikan di gawai berukuran sekecil itu.
"Bagaimana jadinya kalau kalian bilang 'Aku benci kamu' lewat alat kecil ini? Ya, rasanya seperti mainan. Rasanya tidak ada konsekuensi," lanjut Dr. Turkle dikutip dari Wall Street Journal.
Inilah yang membuat sebagian orang merasa lebih bebas bertindak tanpa memikirkan konsekuensi emosional yang mungkin dialami orang lain.
Ujaran Kebencian di Medsos Berisiko pada Kesehatan Mental
Penelitian Pew Research di Amerika Serikat tahun 2021 menyebutkan sekitar 41 persen pengguna media sosial telah mengalami beberapa bentuk pelecehan secara daring, termasuk diejek, dipermalukan, pelecehan bersifat seksual, bahkan sampai dikuntit dan menerima ancaman akan disakiti secara fisik.
Melansir Psychology Today, tindakan melampiaskan kemarahan dan kebencian di ruang digital yang dilakukan secara terus-menerus dapat berdampak buruk pada kesehatan emosional dan kesejahteraan psikologis seseorang.
Perilaku tersebut juga dapat menyebar, disebut dengan penularan sosial. Ketika satu orang melihat komentar bernada kebencian atau agresif mendapat banyak perhatian, ia mungkin terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Kondisi ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang sering menampilkan konten sensasional atau provokatif karena mampu menarik lebih banyak interaksi.
Akibatnya, perilaku bermusuhan dapat terlihat sebagai sesuatu yang lumrah di komunitas daring tertentu, bahkan perlahan dianggap sebagai cara yang wajar untuk berpendapat atau mencari perhatian.
Pada akhirnya, komentar kasar dan sarat kebencian yang sering disampaikan orang lain memang bukan semata-mata karena media sosialnya saja, tetapi bisa terjadi lantaran sifat dasar manusia yang dipertemukan dengan lingkungan digital yang minim batasan, kontrol sosial, dan akuntabilitas.
Artikel lainnya seputar media sosial juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih