diajeng.id - Apa kamu pernah merasa kesal saat terlambat datang ke rapat penting, lalu menyalahkan jalanan yang macet atau bahkan pelayanan kasir yang lambat di mini market?
Mengalihkan kesalahan kepada satu hal atau bahkan menyalahkan orang lain sebenarnya adalah reaksi manusiawi yang sering tidak kita sadari.
Meski merupakan kebiasaan buruk, reaksi ini juga bisa diterangkan sebagai mekanisme yang kompleks untuk melindungi diri sendiri.
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa kita memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain atau suatu objek, di antaranya:
1. Mekanisme Pertahananan Diri
Menurut artikel di Psychology Today berjudul "Why Some People Will Always Blame Others", alasan utama mengapa kita suka menyalahkan orang lain adalah karena itu berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism).Lebih spesifik lagi, para ahli menyebutnya sebagai proyeksi atau defleksi.
Defleksi adalah proses bawah sadar yang bertujuan untuk melindungi ego kita dari perasaan tidak menyenangkan seperti rasa bersalah, malu, atau kecemasan. Maka dari itu, kita jadi lebih mudah menunjuk orang lain, keputusan yang kelak berdampak negatif ke diri kita sendiri dan orang yang disalahkan itu.
Memang betul, setiap kali kita melakukan kesalahan, mengakui tanggung jawab bikin merasa lemah. Dengan "melemparkan" kesalahan tersebut kepada orang lain, kita menciptakan pelarian cepat dari rasa bersalah yang bisa menimbulkan rasa aman sesaat.
Menyalahkan orang lain jadi taktik yang mudah, effortless bahkan, untuk mempertahankan citra diri bahwa kita tidak memiliki cacat atau perlu memperbaiki sesuatu.
2. Berkaitan dengan Regulasi Emosi
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dorongan untuk menyalahkan sangat erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi.Orang yang kesulitan mengelola perasaan negatif cenderung lebih sering menggunakan proyeksi sebagai cara untuk menenangkan dirinya.
Bagi mereka, menyalahkan orang lain adalah cara efektif untuk mengurangi perasaan negatif yang mereka rasakan sendiri, seperti amarah atau rasa malu, setidaknya dalam jangka pendek atau hanya sesaat.
Sebaliknya, individu yang memiliki regulasi emosi yang baik cenderung tidak terpengaruh oleh emosi negatif saat harus mengakui pilihan atau kesalahan mereka.
Jadi, jika ada yang terus-menerus menunjuk orang lain yang bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri, hal itu sebenarnya datang dari sosok yang jiwanya sangat rapuh dan penuh kerentanan.
3. Jebakan Perfeksionisme dan Kesalahan Atribusi
Mengkambinghitamkan orang lain juga sering ditemukan pada mereka yang memiliki kebutuhan tinggi untuk menjadi sempurna atau perfeksionis. Ada semacam keniscayaan irasional bahwa, "Aku itu harus sempurna. Jika tidak, maka aku pasti jadi orang gagal atau tidak berharga lagi."Kondisi ini bisa terjadi karena kegagalan yang dilakukan dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri. Menyalahkan pihak eksternal pun jadi satu-satunya cara untuk tetap merasa berharga dan bertahan dalam hal melindungi diri.
4. Fundamental Attribution Error
Tulisan Ana Gonzales "Why We Blame Others" di blognya menyebutkan, sering menyalahkan orang lain sebenarnya membuat kita terjebak dalam apa yang disebut fundamental attribution error atau kesalahan atribusi fundamental.Kita cenderung menilai kesalahan diri sendiri berdasarkan situasi (misalnya, "Aku terlambat karena macet."), akan tetapi menilai kesalahan orang lain berdasarkan karakter mereka (misalnya, "Dia terlambat karena dia malas.")
Meskipun menyalahkan orang lain bisa memberikan sensasi lega walau hanya sesaat, perilaku ini kelak harus dibayar dengan harga yang mahal.
Sebab, dengan menjadikan orang lain sebagai pihak yang bertanggung jawab, kita sebenarnya sedang melepas kendali dan kekuatan kita sendiri.
Kita jadi merasa tidak berdaya untuk mengubah keadaan karena merasa bukan kita penyebab masalahnya. Akibatnya, pertumbuhan pribadi terhambat, hubungan dengan orang lain pun rusak.
Simak juga artikel lainnya seputar relasi di sini.
Editor: Sekar Kinasih