diajeng.id - Fantasi, terutama dalam hal kedekatan, keintiman, atau seksualitas, masih jadi topik pembicaraan yang tabu terutama ketika beririsan dengan pengalaman perempuan. Stigma pun bermunculan, seolah-olah hasrat dan imajinasi bukan bagian wajar dari keseharian perempuan.
Padahal, menjadi manusia berarti kita memiliki pandangan batin yang luas, termasuk kemampuan untuk membayangkan atau berimajinasi.
Sebagai perempuan, kita pun memiliki ruang imajinasi yang hidup. Arena tersebut bisa menjadi bagian dari cara memahami diri sendiri, keinginan, dan relasi yang didambakan.
Namun begitu, ada pula pandangan yang "melarang" fantasi seksual pada mereka yang telah berpasangan.
Steven Ing MFT di laman Psychology Today menuliskan, banyak orang merasa malu atau takut dihakimi, lalu muncul pikiran-pikiran seperti, “Kalau pasanganku punya fantasi, berarti dia tidak cinta aku lagi. Atau, jangan-jangan, aku tidak cukup baik bagi pasanganku yang punya fantasi."
Seiring itu, muncul ketakutan bahwa mereka yang memiliki fantasi seksual akan berselingkuh atau menerapkan imajinasi seksual tersebut di dunia nyata.
Faktanya, memiliki fantasi seksual itu wajar. Sama seperti kita bisa membayangkan hal-hal lain tanpa benar-benar melakukannya, fantasi seksual juga kepingan dari imajinasi.
Berfantasi menjadi salah satu cara otak kita mengeksplorasi ide, mengingat-ingat pengalaman menyenangkan, atau sekadar mencari rasa nyaman.
Penting juga untuk membedakan antara fantasi dan tindakan. Membayangkan sesuatu atau menyimpan fantasi tidak akan menyakiti siapa pun. Yang jadi masalah adalah ketika kita mengambil keputusan di dunia nyata yang berdampak pada masa depan kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita.
Imajinasi, termasuk yang bersifat seksual, menurut Ing, sebenarnya sehat. Setiap orang punya fantasi yang berbeda. Keunikan fantasi masing-masing pun bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Jika pun fantasi yang dimiliki oleh pasangan tidak melibatkan diri kita, bukan berarti ada yang keliru pada kita sendiri atau relasi yang dijalani bersama.
Upaya untuk menekan, melarang, atau menstigma hasrat berfantasi mungkin malah tidak akan membuahkan hasil. Alih-alih menyembunyikan fantasi tersebut dari pasangan, coba pertimbangkan untuk membicarakannya baik-baik dengan pasangan.
Dilansir Best Health Magazine, sejumlah studi dan contoh populer juga menunjukkan bahwa fantasi seksual pada perempuan adalah realitas yang umum yang memiliki pola-pola tertentu.
Misalnya, popularitas novel romantis erotis Fifty Shades of Grey karya E. L. James pada 2011 lalu menjadi cerminan bagaimana fantasi seksual terkait dinamika dominasi dan submisi dalam relasi beresonansi dengan banyak perempuan di berbagai belahan dunia.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Archives of Sexual Behavior (2012), sekitar 62 persen responden perempuan muda mengaku pernah memiliki fantasi seksual tentang “ravishment”, sebuah situasi ketika mereka "dipaksa" secara imajinatif.
Hal ini dijelaskan oleh tim peneliti melalui teori "sexual blame avoidance".
Menurut teori ini, ketika perempuan membayangkan pasangan laki-lakinya mengambil kendali, maka pihak perempuan merasa lebih “diizinkan” untuk mengeksplorasi hasrat seksual yang sebenarnya diinginkan, tanpa terlalu dibayangi rasa malu atau takut dianggap sebagai “perempuan nakal”.
Fantasi pun membantu perempuan untuk menikmati hasrat seksual tanpa rasa bersalah berlebihan. Dengan kata lain, fantasi menjadi ruang aman untuk berdamai dengan keinginan yang mungkin sulit diterima secara sosial.
Di sisi lain, ada pula perempuan yang pada dasarnya cenderung memiliki sikap lebih terbuka terhadap seksualitas.
Bagi mereka, fantasi tidak perlu dijustifikasi, apalagi disembunyikan, karena memang diterima dengan terbuka sebagai bagian dari kehidupan seksual yang sehat dan selaras dengan prinsip serta rasa percaya diri.
Meski begitu, fantasi tetaplah fantasi.
Fantasi seksual bisa jadi bermasalah ketika batas antara imajinasi dan kenyataan mulai kabur.
Misalnya, mengutip penjelasan psikolog Dr. Sherrie Sims Allen di situs Brides, muncul keterikatan emosional berlebihan alias obsesi terhadap sosok dalam fantasi tersebut. Kita perlu waspada, kata Dr. Allen, saat "situasinya berubah dari perasaan naksir yang lugu jadi obsesi penuh".
Tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai, lanjut Dr. Allen, adalah ketika kita lebih fokus berfantasi tentang orang lain saat sedang bersama pasangan, atau menggunakan fantasi sebagai pelarian dari masalah dalam hubungan tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalan.
Selain itu, masalah juga bisa muncul ketika kita mulai membandingkan pasangan nyata dengan sosok “ideal” dalam fantasi, lalu menuntut hal-hal yang tidak realistis.
Dalam kasus yang lebih serius, fantasi bahkan bisa dikembangkan jadi rencana nyata, atau malah rahasia yang sengaja disembunyikan dari pasangan.
Apabila fantasi seksual mulai terasa mengganggu atau tidak lagi memberikan rasa nyaman, sebaiknya cari bantuan profesional. Terapi, khususnya pendekatan perilaku kognitif, bisa membantu kita untuk memahami dan mengelola pikiran dengan lebih sehat.
Artikel lainnya seputar seksualitas juga bisa dibaca melalui tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih