Menuju konten utama

Suka Googling Gejala Penyakit? Waspadai Cemas Berlebih

Meski jago memberi informasi, Google tidak kenal kita secara personal, apalagi tahu riwayat kesehatan, gaya hidup, alergi, atau kondisi emosional kita.

Suka Googling Gejala Penyakit? Waspadai Cemas Berlebih
Header Diajeng Sebaiknya Jangan Googling Gejala Penyakit. tirto.id/Quita

diajeng.id - Kita hidup di zaman ketika hampir semua pertanyaan bisa dijawab dalam hitungan detik.

Cukup ketik di kolom pencarian Google, “Bagaimana cuaca hari ini”, “Berapa jarak Bumi ke matahari", "Bagaimana cara menurunkan berat badan", sampai "Siapa artis tercantik di dunia”, jawabannya akan tersedia sebelum mata sempat berkedip.

Mesin pencari, umumnya Google, menjadi tempat pertama bagi sebagian besar orang untuk bertanya ketika rasa ingin tahu muncul, dari hal remeh, serius, hingga yang bersifat sangat pribadi.

Menurut situs Link Assistant, sekitar 29 persen pertanyaan yang paling banyak dicari orang di mesin pencari Google umumnya dimulai dengan kata "bagaimana".



Pendek kata, pertanyaan ini menunjukkan si penanya butuh informasi kuat tentang hal yang dia butuhkan.

Di tengah kebiasaan ini, ada satu jenis pertanyaan yang semakin sering diajukan, yakni tentang kesehatan.

Misalnya, saat flu tak kunjung sembuh, ketika mata perih, atau dada sedikit nyeri, banyak dari kita tanpa pikir panjang langsung membuka Google dan mengetik “penyebab flu tidak kunjung sembuh" atau “nyeri dada pertanda apa”.

Dorongan untuk tahu cepat membuat kita mencari jawaban secara instan, seolah-olah Google bisa menggantikan dokter.



Mencari tahu tentang gejala penyakit di internet bukanlah langkah yang bijaksana, meski tidak sepenuhnya keliru.

Informasi yang kita temukan di Google sering kali terlalu umum, dan mungkin terdengar menakutkan apabila konteksnya adalah penyakit kritis atau kronis.


Satu gejala ringan bisa saja dikaitkan dengan puluhan kemungkinan, mulai dari flu biasa hingga penyakit serius seperti kanker.

Alih-alih menenangkan, hasil pencarian justru berisiko menimbulkan kecemasan berlebihan, atau istilahnya cyberchondria, kecenderungan merasa semakin sakit setelah membaca informasi medis di internet.

Google memang hebat dalam memberikan informasi, tetapi ia tidak mengenal kita secara pribadi.

Google tidak tahu riwayat kesehatan dan gaya hidup kita, jenis alergi apa saja yang kita miliki, atau kondisi emosional yang pernah kita lalui.

Itulah sebabnya diagnosis mandiri melalui internet berisiko menyesatkan.



Dr. Radha melalui laman BBC mengungkapkan, ketika "Dokter Internet" menyebutkan kemungkinan penyebab suatu gejala, kita cenderung memilih penjelasan yang paling mengkhawatirkan.

"Ini menyebabkan kecemasan dan kekhawatiran, yang juga berdampak pada kesehatanmu. Supaya tidak cemas dan khawatir, tanya ke dokter langsung. Kalau kepikiran dengan yang kamu baca di internet, perlihatkan situs webnya kepada dokter," ujar Dr. Radha.

Dengan menerima mentah-mentah informasi dari Google atau internet, terlebih tanpa latar belakang keilmuan medis, kita berisiko menciptakan diagnosis yang keliru.



Dampaknya fatal, kata Dr. Radha. Salah satunya, kita jadi menunda-nunda pergi ke dokter. Bukan tidak mungkin, kondisi sudah telanjur parah ketika akhirnya kita memutuskan cek langsung ke dokter.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dengan kemudahan akses Google di sekali klik?

Dr. Radha menyarankan untuk memilih situs web yang dapat dipercaya, misalnya yang berada di bawah naungan lembaga kesehatan pemerintah.

Selain itu, penting diingat, tubuh kita sangatlah kompleks. Dokter perlu menempuh pendidikan bertahun-tahun agar dapat membuat diagnosis yang tepat untuk setiap gejala kesehatan yang dialami manusia.

Bertanya ke "Dokter Internet" tidaklah salah, tapi penting untuk menjadikan informasi itu sebagai bahan diskusi dengan dokter, alih-alih diagnosis instan atau kesimpulan final.

Karena pada akhirnya, bukan “Dokter Internet” yang mengenal tubuh kita, melainkan diri kita sendiri.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih