diajeng.id - Selama ini kita mengira hanya ibu, atau dominan ibu, yang terdampak dari proses mengandung dan melahirkan anak.
Faktanya, ayah juga terdampak dengan pengalaman fatherhood ini. Ya, laki-laki dewasa yang menjadi ayah juga akan mengalami banyak perubahan, bukan hanya tentang tanggung jawab ke anak, tetapi perubahan dalam konteks fisiologis.
Menurut penelitian terbaru, otak laki-laki akan mengalami pemrograman ulang yang cukup drastis untuk menghadapi persiapan tuntutan dalam merawat bayi yang baru lahir, termasuk perubahan hormonal pada tubuhnya.
Apa yang Terjadi pada Otak Ayah Setelah Punya Bayi?
Hal tersebut bahkan terjadi sejak bayi belum lahir. Berdasarkan temuan para ahli, laki-laki akan mengalami perubahan hormonal yang signifikan sejak pasangannya hamil.
Artikel BBC yang berjudul "Dad brains: How Fatherhood Rewires the Male Mind" menuliskan, saat sang istri hamil, hormon testosteron dan vasopresin pada calon ayah, yang sering dikaitkan dengan agresivitas laki-laki, cenderung menurun, sementara kadar prolaktin dan oksitosin yang terkait dengan pengasuhan dan ikatan emosional justru meningkat.
Jadi tak hanya ibu baru, ayah juga jadi mengalami adaptasi dan ikatan yang kuat pada anaknya.
Menariknya, semakin sering seorang ayah merawat bayinya, semakin besar penurunan kadar testosteron tersebut. Ini adalah sifat biologis alamiah yang menunjukkan bahwa laki-laki yang biasanya kompetitif juga bisa menjadi ayah yang penuh perhatian pada anaknya.
Temuan Riset 2022: Fenomena "Penyusutan" Otak
Pada tahun 2022, penelitian yang dipublikasikan oleh tim dari University of Southern California (USC) dan peneliti di Spanyol mengungkapkan fakta tentang perubahan pada otak ayah baru, di mana ada bagian-bagian otak yang mengalami penyusutan.
Melalui pemindaian MRI sebelum dan sesudah kelahiran, ditemukan adanya pengurangan volume materi abu-abu (gray matter) pada korteks serebral. Meskipun terdengar negatif, penyusutan ini sebenarnya adalah bentuk plastisitas otak yang positif.
Otak melakukan pemangkasan pada jalur saraf tertentu untuk membuat sistem saraf menjadi lebih efisien dalam memproses informasi yang relevan dengan bayi.
Riset tahun 2022 ini juga menemukan beberapa perubahan yang lebih halus terjadi pada otak ayah dibandingkan dengan yang dialami ibu saat pertama kali memiliki anak, bahkan perubahannya hampir setengah dari perubahan yang dialami ibu.
Faktor sosial, budaya, dan psikologis berkaitan erat dengan perubahan otak yang terjadi pada seorang ayah.
Hasil riset juga menunjukkan, para ayah di Spanyol yang memiliki cuti melahirkan lebih panjang lebih memiliki kemurahan hati dan empati, dibandingkan para ayah di Amerika Serikat.
Temuan Riset 2026: Pola Dinamis dan Pertumbuhan Area Baru
Memasuki tahun 2026, ilmu pengetahuan memberikan gambaran yang lebih detail dan dinamis.
Penelitian terbaru dari RWTH Aachen University di Jerman menunjukkan bahwa perubahan otak ayah tidak hanya berupa penyusutan, melainkan sebuah pola perubahan yang bertahap.
Dalam 12 minggu pertama pascapersalinan, otak laki-laki akan mengalami penyusutan secara bertahap. Terjadi pengurangan materi abu-abu di berbagai lobus, yakni parietal, temporal, frontal, dan oksipital.
Kemudian, antara minggu ke-12 hingga ke-24, beberapa bagian otak justru mengalami pembengkakan volume. Ini menunjukkan adanya pola perubahan yang dinamis pada otak untuk membantu menyempurnakan keterampilan pengasuhan bagi anak.
Salah satu area yang tumbuh adalah left anterior cingulate cortex, yang bertanggung jawab atas antisipasi tugas dan pembagian perhatian. Inilah bagian yang membantu ayah untuk selalu waspada terhadap kebutuhan bayi yang belum bisa berbicara.
Area amigdala, yang mengatur rasa takut dan kewaspadaan, juga menunjukkan konektivitas yang lebih kuat, membantu ayah tetap siaga demi keselamatan anaknya.
Riset 2026 juga menegaskan konsep "jaringan otak parental" (parental brain network), sebuah sirkuit saraf yang mendukung kemampuan pengasuhan manusia secara universal.
Bahkan ini juga bisa terjadi ayah tunggal yang menjadi pengasuh utama. Aktivitas di amigdala mereka ditemukan sebanding dengan apa yang terlihat pada ibu.
Ini membuktikan bahwa otak laki-laki memiliki kapasitas laten untuk mengasuh yang akan aktif jika dipicu oleh pengalaman pengasuhan langsung.
Dilansir Science Alert, menjadi ayah adalah salah satu tahapan hidup paling krusial dalam hidup seorang laki-laki, yang setara dengan masa remaja dalam hal perubahan otak.
Secara biologis, laki-laki sangat fleksibel dan adaptif. Hal ini membuktikan bahwa peran pengasuhan anak adalah warisan evolusi yang dimiliki oleh semua orang tua, tanpa memandang jenis kelamin.
Artikel lainnya seputar orang tua dan anak bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih