Menuju konten utama
Cara Mencintai yang Berbeda

Aku Anxious, Dia Avoidant: Mungkinkah Hubungan Berjalan Sehat?

Karakter anxious umumnya memiliki kebutuhan tinggi akan kedekatan dan konfirmasi, sedangkan karakter avoidant sangat menghargai kemandirian dan kebebasan.

Aku Anxious, Dia Avoidant: Mungkinkah Hubungan Berjalan Sehat?
Header Diajeng Pasangan Anxious Avoidant. tirto.id/Quita

diajeng.id - Belum lama ini, sebuah unggahan di Threads memicu diskusi mengenai pola komunikasi dalam sebuah hubungan antara pasangan yang sangat bertolak belakang.

Pihak laki-laki cenderung tidak responsif karena merasa tidak perlu membalas setiap pesan ketika dicari kekasihnya, sedangkan pihak perempuan nonstop menghubungi dan bertanya tentang keberadaan si laki-laki.

Dinamika ini sangat melelahkan, tentu saja, karena masing-masing pihak tidak berangkat dari pemahaman yang sama.

Menariknya, pemandangan ini bukan sekadar isu terkait "kurang komunikasi". Tampak di sini adalah dinamika psikologis yang disebut Anxious-Avoidant Trap.

Di satu sisi, ada seseorang yang merasa terbebani oleh tuntutan kedekatan. Di sisi lainnya, ada seseorang yang merasa diabaikan alias "ditinggalkan" ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Namun, pertanyaannya, apakah pasangan dengan karakter yang bertolak belakang ini mustahil mencapai titik temu? Adakah cara lain untuk mengatasi konflik ini menjadi relasi yang sehat?

Memahami Si Anxious dan Si Avoidant

Dalam dunia psikologi, melansir Psychology Today, dinamika yang terlihat di Threads tersebut biasanya melibatkan dua gaya keterikatan (attachment styles) yang berbeda pada masing-masing pasangan, yaitu anxious (cemas) dan avoidant (menghindar).

Karakter anxious umumnya memiliki kebutuhan tinggi akan kedekatan dan konfirmasi. Mereka cenderung cemas, takut ditinggalkan, dan konsisten mencari kedekatan serta kepastian dari pasangan mereka.

Mereka biasanya akan merasa gelisah jika pasangan tidak segera membalas pesan. Ketiadaan balasan alias keheningan dari pasang sering diartikan sebagai tanda bahwa hubungan mereka sedang terancam.

Di satu sisi, karakter avoidant sangat menghargai kemandirian dan kebebasan.

Ketika emosi terasa terlalu intens atau pasangan menuntut perhatian lebih, orang dengan gaya keterikatan avoidant cenderung menghindar karena mereka acap kali merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional. Kemandirian atau otonomi lebih dihargai oleh mereka.

Lalu, mengapa karakter bertolak belakang ini saling tarik-menarik?

Masih mengutip dari Psychology Today, fenomena ini disebut sebagai gaya tarik yang tidak disadari.

Pihak yang anxious sering terpesona pada kemandirian dan ketenangan pihak avoidant, sifat yang sebenarnya ingin mereka miliki. Sebaliknya, pihak avoidant tertarik pada kehangatan dan kemampuan pihak anxious dalam mengekspresikan emosi.

Namun, daya tarik ini sering kali menjadi jebakan. Semakin pihak anxious mengejar untuk mendapatkan kepastian, maka pihak avoidant akan semakin merasa tertekan dan menjauh.

Siklus ini akan terus berputar sampai akhirnya menciptakan kelelahan emosional bagi kedua belah pihak.

Strategi Mengatasi Kegelisahan bagi Pihak Anxious

Kalau kamu termasuk pihak yang sering merasa gelisah dalam berkomunikasi, berikut beberapa strategi praktis dari situs Growing Self dan Reachlink untuk memutus siklus "kejar-kejaran" ini:

1. Berlatih "Self-Soothed" (Menenangkan Diri Sendiri)

Jangan jadikan respons pasangan sebagai satu-satunya sumber ketenangan.

Kalau pesanmu tak kunjung dibalas, letakkan smartphone-mu. Cobalah teknik pernapasan atau alihkan perhatian ke aktivitas lain selama 15-20 menit.

Berikan ruang bagi sistem sarafmu untuk tenang sebelum mengirim pesan tambahan yang mungkin membuat perasaanmu semakin tak karuan.

2. Ubah Kritik Menjadi Permintaan Langsung

"Kamu kok enggak pernah balas pesan aku, sih?"

Kalimat tersebut lumrah untuk kamu ucapkan, akan tetapi terdengar seperti "serangan" bagi pihak avoidant.

Maka, cobalah sampaikan kebutuhanmu dengan netral, misalnya, "Aku bakal lebih tenang kalau tahu kamu sudah sampai rumah dengan selamat. Lain kali, tolong kabari aku dengan teks singkat, ya?"

3. Berikan "Ruang Aman" bagi Pasangan

Penting untuk disadari bahwa pihak avoidant butuh waktu untuk memproses emosi. Memberikan mereka ruang bukan berarti kamu kalah atau ditinggalkan.

Sebaliknya, kalau kamu berhenti mengejar-ngejar, pasangan akan merasa lebih aman untuk kembali mendekat secara sukarela tanpa merasa terancam.

4. Fokus pada Kehidupan di Luar Hubungan

Perkuat koneksi dengan teman, keluarga, atau hobi. Memiliki sumber kebahagiaan lain di luar pasangan bisa membantu mengurangi tekanan emosional yang kamu bebankan pada hubungan. Dengan begitu, kegelisahan saat pasangan tidak responsif menjadi lebih terkendali.

Menjalani hubungan antara anxious dan avoidant memang menantang, akan tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk dijalani secara sehat.

Kuncinya bukan harus mengubah karakter pasangan. Fokuslah pada pemahaman bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan cinta dan membutuhkan rasa aman.

Simak juga artikel lainnya terkait relasi asmara di sini.

Baca juga artikel terkait RELASI ASMARA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih