Menuju konten utama

Perempuan, Laki-Laki: Sama-Sama Emosional dan Dramatis

Orang yang memiliki "kebutuhan akan drama" sering bertindak impulsif, selalu playing victim, dan berpikir bahwa orang lain mau menjatuhkan mereka.

Perempuan, Laki-Laki: Sama-Sama Emosional dan Dramatis
Header Diajeng emosi laki laki perempuan. foto/istockphoto

diajeng.id - Selama ini kita sering mendengar istilah "Drama Queen" untuk merujuk pada karakter perempuan yang suka bereaksi sangat berlebihan dan emosional. Faktanya, akhir-akhir ini kita juga sering menemukan ada laki-laki yang suka mendramatisasi sesuatu.

Pada puncak musim bola Piala Dunia 2026 sekarang, kita bisa menemukan kembali diskusi lama tentang pemain yang sering kedapatan melakukan "diving" atau pura-pura kesakitan di lapangan, seperti Neymar, Cristiano Ronaldo, Luis Suárez.

Selain itu, beberapa waktu silam, sempat viral video yang merekam momen pertengkaran seorang perempuan dengan pasangannya di sebuah kafe. Semula keduanya tampak biasa saja, hingga kemudian si lelaki melakukan aksi tak terduga dengan menumpahkan segelas minuman kopi ke kepala dan wajahnya sendiri.

Drama pertengkaran sepasang kekasih ini pun langsung mengundang diskusi menarik di media sosial tentang sosok laki-laki yang dianggap reaktif dan emosional.

Dari contoh di atas, terlihat bahwa laki-laki pun bisa bereaksi berlebihan dan lebih "drama". Anggapan bahwa perempuan lebih sering mendramatisasi keadaan tidaklah benar sepenuhnya, karena nyatanya yang suka "drama" tidak memandang gender, baik laki-laki atau perempuan sama saja dalam hal emosional.

Sebuah studi di jurnal Personality and Individual Differences (2016) oleh para peneliti di University of Texas terhadap 500 responden menguatkan anggapan tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tingkat need for drama (kebutuhan akan drama) yang sama.

Itu artinya, seseorang yang cenderung melakukan atau mendramatisasi keadaan tidaklah ditentukan oleh jenis kelamin, tapi didasarkan pada kepribadiannya.

Riset: Orang dengan NPD Lebih Cenderung "Drama"

Orang-orang yang memiliki "kebutuhan akan drama" sering kali bertindak impulsif, selalu merasa menjadi korban (playing victim), dan berpikir bahwa orang lain ingin menjatuhkan mereka.

Jadi, jika ada orang yang suka membesar-besarkan masalah, pembahasannya bukan lagi pada jenis kelamin perempuan atau laki-laki, tetapi karena karakternya mereka.

"Orang yang tingkat NPD (gangguan kepribadian narsistik)-nya tinggi melihat dunia seolah-olah berputar pada mereka, yang kemungkinan itu membuat mereka jadi reaktif terhadap penghinaan yang dirasakan," tulis studi tersebut.

Temuan ini juga diperkuat oleh studi gabungan dari University of Michigan dan Purdue University pada 2021, dan telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature.

Penelitian yang melacak emosi positif dan negatif peserta selama 75 hari lewat survei daring menemukan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami gejolak emosi yang naik-turun dengan pola yang jauh lebih mirip daripada berbeda.

Para peneliti juga tidak menemukan bukti bahwa perempuan lebih emosional karena siklus hormon. Gejolak emosi yang dialami seseorang, menurut mereka, disebabkan oleh banyak faktor, bukan hanya pengaruh hormonal saja.

Anggapan yang menyatakan bahwa perempuan lebih emosional kemungkinan muncul karena laki-laki sejak kecil lebih sering diajarkan untuk menyembunyikan perasaannya, sementara perempuan lebih diterima ketika mengekspresikan emosi.

Dengan kata lain, yang cenderung suka drama maupun bertindak emosional, studi ilmiah menunjukkan ini bukan soal gender, baik laki-laki atau perempuan sama saja bisa dramatis dan bisa merasakan gejolak emosi.

Jadi, jika kita terus-menerus mempersepsikan perempuan lebih dramatis dan "Drama Queen", konsekuensinya juga bisa berbahaya. Lalu, apa saja bahaya yang bisa terjadi? Jurnal J Exp Soc Psychol tahun 2023 merangkum penjelasannya di bawah berikut.

Dampak Buruk terhadap Persepsi "Perempuan Lebih Drama"

Perempuan yang sering dianggap melebih-lebihkan rasa sakit dan laki laki yang dipersepsikan cenderung meremehkan masalah bisa memengaruhi ekspektasi orang lain terhadap rasa sakit itu sendiri, bahkan sebelum mereka benar-benar mengungkapkan keluhannya.

Dampaknya, ketika perempuan benar-benar mengeluh sakit atau nyeri, keluhannya tersebut bisa dianggap kurang serius atau disepelekan sebagai perasaan emosionalnya saja, sementara laki-laki lebih dipercaya saat mengeluh tentang sakitnya.

Selanjutnya, akan timbul kecurigaan yang kemungkinan besar akan memengaruhi penilaian dan keputusan dalam layanan kesehatan, misalnya saat menentukan terkait seberapa serius kondisi pasien atau penanganan yang bisa diberikan.

Penelitian menunjukkan bahwa bias pada stereotip gender, seperti perempuan suka mendramatisasi rasa sakit dan laki-laki bisa menahan sakit, adalah penyebab dari anggapan itu muncul. Ketika seseorang semakin percaya pada stereotip tersebut, maka semakin besar pula kecenderungannya menganggap perempuan bereaksi berlebihan terhadap rasa sakit, sementara laki-laki cenderung menahannya.

Peneliti menyimpulkan bahwa mengurangi kepercayaan terhadap stereotip gender dapat membantu mengurangi bias dalam menilai rasa sakit, sehingga penanganan pasien pun akan menjadi lebih adil dan akurat.

Artikel terkait lainnya soal bias gender juga bisa dicek di sini.

Baca juga artikel terkait BIAS GENDER atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih