diajeng.id - Era centil mewarnai lanskap hiburan dan ekspresi kreatif kaum muda Indonesia dalam beberapa tahun belakangan. Bersamaan dengan lahirnya HipDut (HipHop Dangdut), gaya centil mulai mendulang popularitas di kalangan perempuan.
Naykilla, salah satu penyanyi yang memelopori HipDut, berperan dalam kebangkitan gaya centil. Tidak hanya lagunya yang diterima baik oleh publik, Naykilla sering disoroti oleh pembawaan diri, terutama fesyen, yang centil dan ceria.
Gaya centil kerap menekankan penggunaan pakaian dengan kombinasi warna yang beragam. Dengan dipadukan aksesori berbentuk unik dan warna-warni, centil menyoroti ekspresi busana perempuan yang lebih eksploratif.
Selain itu, makeup dengan sentuhan glitter, tone warna metalik, dan eyeshadow warna-warni juga lekat dengan ekspresi centil.
Popularitas centil tidak berhenti di tata cara berpakaian dan berdandan. Centil juga bisa dimaknai sebagai istilah untuk mengekspresikan kepercayaan diri.
Dalam wawancara HerByUSS beberapa waktu lalu, aktris Meryl Streep dan Anne Hathaway diperkenalkan pada kata “centil”’ untuk mendeskripsikan perasaan mereka. Centil dipakai ketika kita bisa merasakan diri sendiri yang penuh kepercayaan dan penerimaan akan diri kita sesungguhnya.
Centil pun berkembang jadi sebuah budaya baru. Bisa kita sebut dengan “Centilisme”, subkultur ini menginspirasi perempuan untuk merasa merdeka dalam mengekspresikan diri.
Terlepas dari konsepnya yang terdengar abstrak, kebangkitan Centilisme bisa dilihat dari semakin banyaknya perempuan yang tampil percaya diri dengan gaya unik dan warna-warni.
Centil: Menjadi Diri Kita yang Sebenarnya
Perempuan sering berada di bawah tekanan untuk memenuhi standar atau ekspektasi masyarakat.
Kita pasti pernah berada di fase mengusahakan diri sendiri agar terlihat “cocok” di tengah orang-orang sekitar. Pada satu titik, mungkin kita juga pernah merasa terkekang dengan aturan sosial yang tidak tertulis tersebut.
Kesenangan perempuan kerap dikonotasikan secara negatif. Mainan boneka, masak-masakan, aktivitas bersolek, pilihan busana atau aksesori serbapink, bahkan sekedar mendengarkan lagu girlband, mudah sekali dicap remeh, disepelekan, atau dianggap lemah.
Selain itu, penampilan dan ekspresi gaya perempuan yang terlalu feminin rentan diasosiasikan dengan karakter yang “dangkal” dalam konteks intelektual.
Ingat film komedi-romantis Legally Blond (2003)? Sang tokoh utama berusaha mendobrak asumsi-asumsi bias gender tersebut.
Namun, di bawah kuatnya tekanan untuk diterima di masyarakat, dapat dipahami apabila beberapa perempuan memutuskan berusaha untuk menjadi berbeda. Ini terlihat jelas dalam tren “pick-me girl”.
Merasa malu memiliki hobi seperti perempuan kebanyakan atau bersikap seperti umumnya perempuan, perempuan-perempuan yang dijuluki “pick-me girl” akan berusaha menunjukkan bahwa mereka punya minat atau kesenangan yang “berbeda dari perempuan umumnya”, seperti hobi-hobi tomboy atau suka main game seperti anak laki-laki.
Dengan masuknya kita ke Era Centil, kita jadi punya kesempatan untuk mendekonstruksi pemaknaan “centil”.
Dari awalnya didefinisikan oleh KBBI sebagai “genit” atau sifat banyak tingkah untuk menggoda lawan jenis, kini centil menjadi ekspresi untuk menyesuaikan diri demi kepuasan diri sendiri.
Dalam konteks fesyen, bergaya dan berdandan centil juga merupakan bentuk power-dressing, penegasan posisi sosial lewat pakaian. Era Centil memungkinkan power-dressing yang tidak terbatas lewat jas dan blazer, tetapi juga melalui jepit warna-warni dan blus pink.
Kritik terhadap Centilisme
Salah satu tantangan dalam narasi Centilisme adalah melawan budaya konsumerisme di balik spirit hyper-femininity yang dikandung di dalamnya.
Demikian pandangan Kayleigh Timmer terkait hyper-femininity dalam tulisannya di jurnal Acta Academica: Critical views on society, culture and politics (2025).
Menurut Timmer, media sosial mengubah hyper-femininity dari sebuah ekspresi perlawanan feminis menjadi sekadar tren yang mudah dikonsumsi. Akibatnya, fenomena ini justru berisiko memperkuat sistem patriarki dan kapitalisme yang semula-mula ingin dikritiknya.
Pilihan busana dan makeup sebenarnya hanyalah salah satu cara untuk mengomunikasikan semangat pemberontakan dari Centilisme.
Dari situ, Centilisme memberikan ruang perempuan untuk menikmati hidup tanpa harus dibayang-bayangi tuntutan atau ekspektasi orang lain. Menjadi centil artinya berani menerima diri sendiri, baik kekurangan dan kelebihan kita.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih