diajeng.id - Pedro Pascal terlihat gelisah ketika menghadiri Comic Con 2024 dalam rangka promosi film Fantastic Four (2025).
Pada mulanya, aktor berusia 50 tahun tersebut tersenyum, sebelum tiba-tiba mendekat pada Vanessa Kirby dan menyentuh lengan lawan mainnya itu.
Dengan sekilas pandang, Vanessa tanpa ragu langsung menggengam tangan Pedro.
Interaksi keduanya hanya berlangsung beberapa detik, akan tetapi sentuhan singkat tersebut sepertinya dapat membantu Pedro kembali menguasai panggung.
Potongan video tersebut viral di TikTok dan sontak menjadi meme. Beberapa akun mencoba menggabungkan kolase-kolase video serupa, menampilkan interaksi canggung Pedro dan artis-artis lainnya yang telah lalu.
Reaksi warganet tentang perilaku “touchy” Pedro pun cukup beragam.
Ada yang menuding tindakan tokoh utama di serial populer The Last of Us (2023) itu berlebihan, apalagi dilakukan pada perempuan, dan bisa jadi membuat yang disentuh maupun yang melihatnya, tidak nyaman.
Yang lain tidak menganggapnya sebagai masalah. Perilaku Pedro terlihat lumrah dari lensa budaya masyarakat Amerika Latin, dia berasal dari Santiago, Chile, yang cenderung hangat dan luwes dalam bersosialisasi.
Di luar itu, ada yang mengaitkan perilaku tersebut dengan kondisi kesehatan mental sang aktor, sebuah mekanisme untuk membantunya mengatasi kecemasan atau kegelisahan.
@diisspunk I think unless you have never expirienced anxiety, don’t comment. Because you wouldn’t understand how bad it can get. “Oh but I have the worst level of anxiety and I don’t find comfort in other people-“ I’m sorry, but did it ever cross your little brain that not everybody copes with anxiety the same way as you do. like sorry to burst your bubble man but there are different ways 🤷🏽♀️🤷🏽♀️ #pedropascal#pedropascaledit#pedropascaltiktok#anxietydisorder#anxietyawareness#anxiousattachment#anxioushabits#fyp#fypシ゚
♬ suara asli - ˢᵃᵈⁿᵉˢˢ - ˢᵃᵈⁿᵉˢˢ
Saat melihat bagaimana Pedro menyikapi sentuhan dari orang terdekat, aku jadi teringat premis film drama romantis 5 Feet Apart (2019).
Dua tokoh utama dalam film tersebut menderita cystic fibrosis. Penderita cystic fibrosis, agar terhindar dari potensi tertular infeksi penyakit, perlu menjaga jarak dari manusia mana pun, setidaknya enam kaki atau sekitar hampir 2 meter.
Dalam rasa sakit yang sama, keduanya lantas jatuh cinta tanpa mampu berdekatan, apalagi bersentuhan.
Menyakitkan, tentu saja. Sebab, bagi kedua tokoh utama, sentuhan yang tidak pernah bisa dilakukan itu harusnya jadi pengukuhan atas hubungan mereka.
"Sentuhan, bentuk komunikasi pertama yang dimiliki manusia. Rasa nyaman, aman, dan terlindungi semuanya hadir dalam belaian lembut jari-jari tangan… Kita perlu sentuhan dari orang-orang terkasih, nyaris sama besarnya dengan kebutuhan kita akan oksigen,” bunyi dialog menyentuh dari film tersebut.
Ini persis dengan ketika aku menerima dan menuntut pelukan dari ibuku sendiri.
Aku paham betul bahwa kedua tangan yang merengkuhku dengan penuh kehangatan itu adalah ruang aman, tempat aku selalu bisa kembali ketika merasa senang maupun susah.
Sentuhan dari ibu adalah caraku untuk mengatasi ketakutan dan ketidakpastian serta memenuhi kebutuhan atas apresiasi.
Mungkin pada satu titik ia dapat disetarakan dengan momen ketika Pedro Pascal merasa perlu menggengam tangan Vanessa demi meraih ketenangan di gemerlap lampu panggung.
Sebelum menonton video Pedro, aku tidak pernah memikirkan betul-betul bagaimana sentuhan berpengaruh dalam caraku menjalani hari-hari.
Namun, setelah kutelusuri lebih lanjut, aku sadar bahwa perasaan hangat yang timbul dari interaksi skin-to-skin bersifat universal.
Hasil penelitian oleh Netherlands Institute for Neuroscience yang rilis 2024 lalu mengonfirmasi keyakinanku bahwa sentuhan dapat membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mental.
Pada level tertentu, sentuhan mampu mengurangi rasa sakit, kecemasan, depresi, hingga tingkat stres pada manusia dewasa.
Tidak peduli apakah itu hanya berupa pelukan singkat atau pijatan dari terapis dalam durasi lama, seluruh sentuhan berharga dan berdampak.
Oleh karena itu, sentuhan penuh kasih sayang yang terjadi dalam kelompok terdekat memiliki efek positif kaitannya dengan kedalaman emosional sebuah hubungan.
Kekurangan sentuhan sosial (social touch) dapat menjadi indikasi bahwa terdapat keterputusan hubungan sosial yang memicu pandemi kesepian.
Aku mencoba renungi ulang mengenai kaitan kesepian dan kurangnya interaksi dengan sesama manusia usai memahami apa yang dialami oleh Pedro Pascal.
Di sesi wawancara dengan Men’s Health yang rilis Juli kemarin, Pedro mengaku bahwa pengalaman isolasi selama pandemi COVID-19 telah membuat komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya jadi semakin menantang, lebih memerlukan usaha.
Pandemi membuat kita semua—Pedro, aku, dan kamu—membatasi diri dengan sentuhan.
Selama pandemi lalu itulah, Pedro mengakui, berinteraksi dengan orang lain menjadi cara efektif untuk membantu meredakan kecemasan yang dialaminya.
Cobaan ini, sebut di antaranya, kritikan yang muncul dari dalam dirinya sendiri sampai pengawasan tiada henti dari mata warganet yang terkadang di luar nalar.
“Aku harus kembali pada apa yang selalu menjadi kenyamanan dalam hidupku, yaitu terlibat dalam hubungan, persahabatan, percakapan, dan pengalaman yang dibagikan bersama,” ujar Pedro.
Mungkin, itu juga yang kita butuhkan. Menjalin kembali benang-benang yang terlanjur putus dalam upaya kita menjauhkan diri dari relasi sosial dengan berbagai alasan.
Refleksi ini tentu bukan caraku mengatakan bahwa kita boleh bersentuhan dengan siapa pun pada waktu kapan pun.
Tetap saja, sentuhan adalah lingkar personal yang dibagikan terbatas kepada orang-orang terdekat yang kita yakini tidak akan pernah menyakiti. Bukan sembarang orang.
Simpelnya, bagiku, kenyamanan sentuhan punya batas dan tujuan jelas.
Namun, saat menyadari bahwa orang-orang bisa sangat menghakimi kebutuhan seseorang akan sentuhan hangat dari pihak lain yang dipercayainya, aku tergelitik dengan kenyataan betapa jenis interaksi ini menimbulkan beragam persepsi.
Jika satu pelukan erat atau genggaman tangan yang kukuh dapat membantu kita mengatasi hal-hal berat dalam hidup, barangkali ini saatnya menghubungi orang tercinta.
Andai pun belum bisa terwujud, bolehlah sentuhan hangat bisa dimulai dari memeluk diri sendiri.
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih