Menuju konten utama

Bagaimana Jika Quiet Quitting Diterapkan ke Keluarga Sendiri?

Pendekatan ini membantu kita untuk menjaga agar hubungan keluarga berjalan lancar tanpa mengorbankan kesehatan mental diri sendiri.

Bagaimana Jika Quiet Quitting Diterapkan ke Keluarga Sendiri?
Header Diajeng Family Quiet Quitting. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Selama ini istilah quiet quitting diasosiasikan dengan bentuk resistensi alias protes terhadap tekanan industri kerja.

Dalam laman Self dijelaskan bahwa quiet quitting merupakan istilah yang populer pada awal tahun 2020-an untuk mendeskripsikan standar rendah atau seminimal mungkin dalam bekerja. Praktik ini menjadi salah satu cara yang dianggap dapat mengurangi kelelahan tanpa harus meninggalkan seutuhnya situasi kerja yang tidak nyaman.

Ternyata, quiet quitting juga perlahan mulai diterapkan dalam konteks keluarga, misalnya dengan menjaga jarak atau berkomunikasi secukupnya dengan ayah, ibu, atau saudara.

Apa Itu Quiet Quitting dalam Keluarga?

Quiet quitting dalam keluarga tidak berbeda konteksnya dengan kondisi di pekerjaan. Kamu tetap hadir untuk keluarga dan tidak memutus hubungan dengan mereka, hanya membuat jarak.

β€œIni adalah langkah mundur tanpa membuat pernyataan besar,” kata Aaron P. Brinen, PsyD, terapis di Vanderbilt University Medical Center.

Quiet quitting bisa dilakukan ketika setiap interaksi dengan keluarga membuatmu terluka. Dengan mengambil sedikit jarak, kamu berarti telah melindungi diri dari tekanan yang membuat lelah atau stres berkelanjutan.

Cara ini juga memberimu kesempatan untuk bersantai dan melakukan apa pun yang kamu inginkan tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalmu.

"Jika kamu terus hadir untuk berinteraksi dan hasilnya negatif, kamu akan melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil yang berbeda,” ujar Brinen.

Apabila tidak bisa mengambil tindakan menjauh secara langsung, kamu bisa melakukannya secara bertahap, misalnya dengan mengurangi frekuensi pertemuan, membatasi hal-hal pribadi yang dibagikan, atau tidak lagi merasa harus selalu terlibat dalam setiap urusan keluarga.

Tujuan Quiet Quitting di Keluarga

Tujuan dari quiet quitting bukan untuk menghukum atau menghindari keluarga. Dengan strategi ini, kamu berusaha menciptakan batasan yang sehat saja. Ketika kamu sudah siap, kamu dapat mengomunikasikan kebutuhanmu dengan cara yang lebih tenang dan konstruktif.

Dalam konteks yang lebih luas, mengambil jarak dari sebagian tuntutan keluarga juga bisa dipandang sebagai bentuk self-care dan self-advocacy.

Artinya, seperti dilansir the Bump, orang-orang yang memutuskan untuk quiet quitting keluarganya mulai menyadari bahwa mereka tidak harus selalu hadir di setiap acara, memenuhi setiap ekspektasi, atau memikul semua tanggung jawab tambahan yang sebenarnya menguras energi.

Bagaimana jika quiet quitting dalam konteks keluarga ini diterapkan dari lensa kita sebagai pihak orang tua?

Jika merujuk pada perspektif Lauren Barth dalam artikel "What if We All Just Agree to 'Quiet Quit' Parenting?", ada satu nuansa penting yang membedakan "quiet quitting parenting" dari sekadar melakukan pembiaran atau menjauhkan diri dari keluarga.

Barth tidak mengajak orang tua untuk mengurangi kasih sayang atau mengabaikan tanggung jawab terhadap anak. Sebaliknya, ia mengajak orang tua untuk berhenti melakukan berbagai hal tambahan yang acap kali lahir dari tekanan sosial, ekspektasi yang tidak realistis, atau keinginan menjadi orang tua yang "sempurna".

"Aku tidak menyarankan kita meninggalkan tanggung jawab kita; aku bahkan tidak mengisyaratkan bahwa kita hanya melakukan hal-hal minimal di rumah," ujar Barth.

Barth juga menyoroti bahwa banyak orang tua tanpa sadar terus menambah pekerjaan untuk dirinya sendiri. Padahal, hal-hal tersebut belum tentu memberikan manfaat yang sebanding bagi anak.

Keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik terkadang berubah menjadi kebiasaan melakukan segalanya secara berlebihan, sampai-sampai kebutuhan pribadi terus dikesampingkan.

"Seperti karyawan yang stres karena merasa telah terlalu lama bekerja terlalu keras, orang tua (ibu) juga mengalami kelelahan yang hebat di rumah," imbuhnya.

Rasa lelah tersebut, menurut Barth, terakumulasikan dari berbagai mental load dan beban fisik, seperti mengambil keputusan untuk keluarga, menjadi sopir pribadi anak ke sekolah, sampai menyiapkan makanan setiap hari.

Kadang-kadang, muncul pula perasaan bersalah atas hal-hal di luar kendali, seperti bersaing dengan orang tua lainnya saat berkumpul di komite sekolah, menjadwalkan janji temu untuk acara sekolah, hingga mencoba membuat setiap momen masa kanak-kanak selalu istimewa bagi anak-anak kita.

Yang jadi masalah, kamu bahkan tidak mendapat kompensasi apa pun dari semua yang dikerjakan dan dipikirkan secara berlebihan itu.

Alih-alih memaksakan diri hingga kelelahan, pendekatan quiet quitting mengajak kita untuk berani mengakui kapasitas diri, memprioritaskan kesejahteraan diri, dan menetapkan batasan yang sehat.

Quiet quitting sejatinya tidak membuat kita jadi anggota keluarga yang kurang peduli. Pendekatan ini justru membantu kita untuk menjaga hubungan keluarga tetap lancar tanpa mengorbankan kesehatan mental atau kondisi emosional diri sendiri.

Simak juga artikel seputar orang tua dan anak di sini.

Baca juga artikel terkait KELUARGA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih