Menuju konten utama

Slow Fade dalam Relasi: Lebih Menyakitkan daripada Ghosting?

Slow fade adalah taktik kekanak-kanakan dan pengecut. Menghindari percakapan sulit membuktikan bahwa seseorang tidak dewasa dalam mengelola perasaannya.

Slow Fade dalam Relasi: Lebih Menyakitkan daripada Ghosting?
Header diajeng Slow Fade. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Setelah tren ghosting ramai dibahas dalam dunia perkencanan modern, muncul istilah "slow fade", yaitu sebuah cara untuk mengakhiri hubungan pelan-pelan tanpa selalu ditandai dengan percakapan emosional atau pertengkaran hebat.

Slow fade juga bisa merujuk pada metode keluar dari hubungan pada tahap apa pun tanpa pernah berterus terang bahwa relasi tersebut telah berakhir.

Dinukil dari artikel di situs Feeld, perbedaan mendasar antara slow fade dan ghosting terletak pada prosesnya.

Apabila ghosting adalah pemutusan komunikasi secara total dan tiba-tiba tanpa peringatan, maka slow fade merupakan proses berlarut-larut yang bisa berjalan berminggu-minggu bahkan lebih.

Tanda-tanda yang diperlihatkan pelaku slow fade pun sangat jelas. Mereka mulai mengurangi intensitas mengirim pesan, membalas dengan jawaban yang semakin singkat (misalnya kalimat panjang kali lebar hanya dijawab dengan "OK" atau "Y"), tidak pernah lagi menyapa selamat pagi, atau bertanya bagaimana kabarmu hari ini, hingga munculnya berbagai alasan klasik untuk menghindari obrolan atau pertemuan.

Masih melansir Feeld, pakar hubungan Cate McKenzie menjelaskan bahwa banyak orang tumbuh tanpa memahami tentang cara mengatasi konflik, sehingga mereka cenderung memilih menghindar.

Sebagian pelaku slow fade juga keliru menganggap bahwa menghilang pelan-pelan terkesan lebih "sopan" atau "lembut" dibandingkan penolakan langsung.

Menurut Mc Kenzie, pelakunya juga bukan selalu berarti orang yang jahat. Mereka bisa jadi menghadapi situasi penuh tekanan, seperti perceraian atau memiliki orang tua yang sakit.

"Ada begitu banyak kemungkinan situasi yang sedang terjadi. Jadi, bukan berarti orang tersebut pasti jahat atau tidak memedulikan perasaan orang lain, setiap orang menghadapi situasi yang berbeda-beda," jelas McKenzie.

Slow Fade Lebih Kejam daripada Ghosting?

Meski pelakunya mengira tindakan ini lebih baik daripada ghosting, artikel berjudul "Why Fading Out of a Relationship Can Be Worse Than Ghosting" di Psychology Today mengungkapkan hal sebaliknya: slow fade bisa jadi lebih menyakitkan.

Ghosting, meskipun kejam, setidaknya memberikan batasan yang jelas karena komunikasi langsung terputus. Sebaliknya, slow fade menyisakan ketidakpastian panjang yang memicu kebingungan dan keraguan diri pada korban.

Ketidakpastian emosional ini menyerupai gaslighting yang membuat korban mempertanyakan kenyataan mereka sendiri dan merasa telah dipermainkan.

Akibatnya, luka emosional ini dapat merusak rasa percaya diri korban, memicu kecemasan, serta membuat mereka takut untuk bersikap terbuka atau terluka (vulnerable) di hubungan masa depan.

Mengapa Sebaiknya Tidak Melakukan Slow Fade?

Dilansir The Urban Dater, slow fade adalah taktik kekanak-kanakan dan pengecut. Menghindar dari percakapan sulit hanya membuktikan bahwa seseorang tidak cukup dewasa dalam mengelola perasaannya sendiri.

Ada beberapa alasan kuat mengapa kita sebaiknya tidak menerapkan slow fade kepada teman kencan atau pasangan.

Yang pertama, karena tindakan ini langsung menutup pintu rapat-rapat untuk hubungan yang selama ini pernah terjalin. Menghilang begitu saja akan mengakhiri peluang untuk mempertahankan hubungan baik atau pertemanan di masa depan.

Alasan kedua, sifat ini kekanak-kanakan. Apabila kita sudah berani mengajak orang lain untuk berkencan dan berhubungan serius, kita seharusnya juga cukup dewasa untuk berbicara secara terang-terangan jika ingin menyudahi hubungan tersebut.

Ketiga, menjadi pelaku slow fade juga menunjukkan jati diri seorang pengecut. Menghindari konfrontasi emosional atau pembicaraan yang rumit hanya demi kenyamanan diri sendiri adalah tindakan yang egois.

Selain itu, praktik slow fade juga bisa dianalogikan sebagai tindakan "penyiksaan" karena jelas-jelas telah menyiksa seseorang dengan ketidakpastian dalam jangka waktu yang lama.

Akan jauh lebih terhormat jika kita ingin mengakhiri hubungan dengan mengucapkan kalimat seperti, "Aku senang kita sudah saling mengenal, tapi aku merasa tidak mendapat kecocokan dari hubungan ini. Jadi, cukup sampai di sini, ya."

Langkah Bijak Menghadapinya

Jika kamu adalah korban dari pelaku slow fade, situs PureWow memberikan panduan tegas untuk menyelamatkan harga dirimu.

Langkah pertama adalah tidak perlu mencontoh dan menggunakan teks konfrontatif yang banyak beredar di media sosial. Menuntut penjelasan dari orang yang sengaja menghindar adalah kesia-siaan yang tidak akan mengubah situasi atau menumbuhkan kembali ketertarikannya.

Sebaliknya, cocokkan energinya (match his energy). Jika intensitas pesannya berkurang, berhentilah menghubunginya. Jika dia tidak lagi mengajak bertemu, pergilah bersenang-senang bersama teman-temanmu.

Tarik kembali energi emosional dirimu. Anggaplah dia memang tidak lagi tertarik, sehingga kamu dapat menyadari bahwa dia tidak seistimewa itu sejak awal.

Kemudian, ambil kembali kendali atas diri kamu sendiri dengan menyibukkan diri dalam berbagai aktivitas produktif dan menyenangkan, mengenal orang-orang baru, serta menetapkan batasan yang sehat dalam berkomunikasi.

Bersedih atas berakhirnya sebuah hubungan itu wajar. Silakan luangkan waktu yang cukup untuk bersedih. Nikmati proses patah hati tersebut sampai dirimu puas dan lega.

Setelah itu, segera alihkan energimu untuk fokus pada diri sendiri, sampai akhirnya mentalmu kembali siap untuk berkencan dengan orang yang benar-benar siap berkomitmen dan menghargai eksistensimu.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih