Menuju konten utama

Rasa Malu yang Sehat: Menjaga Batas di Era Oversharing

Di era kemudahan berbagi cerita pribadi di ruang digital, kemampuan merawat rasa malu yang sehat bisa jadi bentuk kedewasaan dan cara melindungi diri.

Rasa Malu yang Sehat: Menjaga Batas di Era Oversharing
Header Diajeng Pentingnya Rasa Malu. tirto.id/Quita

diajeng.id - Media sosial mempermudah kita untuk membagikan cerita tentang aktivitas sehari-hari, termasuk emosi dan berbagai konflik yang kita alami.

Tidak ada yang keliru dari keputusan membagikan cerita tentang diri kita di media sosial. Apapun alasannya, mengapresiasi diri sendiri atau berbagi kebahagiaan, semua alasan untuk berbagi cerita di ruang digital itu valid.

Namun begitu, beberapa kali, sebagian dari kita mungkin terlalu terbawa suasana sehingga tak sadar telah menceritakan detail-detail tentang keseharian yang sepertinya tidak perlu disampaikan di medsos sosial, atau oversharing.

Situasi di atas tentunya semakin menimbulkan keheranan apabila dilakukan pejabat dan keluarganya, atau figur publik yang menjadi sorotan masyarakat luas terutama kaum muda.

Selain oversharing yang tidak penting, unggahan mereka acap kali jatuh ke dalam kategori pamer kemewahan, bahkan sampai tahap terlihat norak dan tidak pantas karena tidak menunjukkan kepekaan terhadap publik.

Perilaku oversharing mengingatkan bahwa pada satu titik, rasa malu yang sehat perlu dikelola sebagai mekanisme pertahanan emosional yang mendasar.

Di tengah hiruk pikuk keterbukaan tanpa filter, melumrahkan kembali dan mengelola fungsi rasa malu yang sehat bisa jadi semacam kompas moral dan benteng dari kesejahteraan diri.

Memang betul, selama ini kita diajari bahwa malu bukanlah emosi yang “baik” sehingga perlu dihindari.

Dikutip Scientific American, malu adalah sensasi tidak nyaman yang kita rasakan di ulu hati ketika merasa tidak punya tempat berlindung yang aman dari tatapan orang lain yang seakan menghakimi.

Sebagian besar pengalaman kita tentang malu datang dari situasi yang tidak menyenangkan: dimarahi, dipermalukan, atau dibuat merasa “tidak cukup baik”.

Apabila rasa malu melekat terlalu kuat, ia bisa berubah menjadi beban psikologis.

Di satu sisi, rasa malu membantu kita memahami batas dan norma.

Tentang "Budaya Malu" dari Jepang

Di titik ini, penting untuk memahami bahwa rasa malu tidak selalu bersifat merusak. Ada bentuk malu yang sehat, istilahnya healthy shame, yang dapat membantu kita bertumbuh sebagai manusia.

Dalam sejarah masyarakat Jepang, seperti dilansir The Lexicon, rasa malu bukan sekadar emosi, tetapi bagian dari cara hidup.

Gagasan yang diperkenalkan oleh antropolog AS, Ruth Benedict, pada 1946 ini disebut “budaya malu”.

Konsep "budaya malu" banyak dikritik, tentu saja, karena mencerminkan produk Orientalisme yang menggunakan lensa orang Eropa Barat dan Amerika Utara dalam menggambarkan budaya masyarakat Asia sebagai "liyan" misterius dan eksotis, bahkan terlalu sederhana.

Di balik itu, pendekatan "budaya malu" bisa jadi salah satu pertimbangan untuk memahami bagaimana masyarakat Jepang membangun etika sosialnya.

Akar tradisi malu ini dapat ditelusuri dari ajaran Konfusianisme yang menekankan harmoni dan koreksi diri.

Pengaruh terbesarnya datang dari era Samurai dan kode Bushido, yang menempatkan kehormatan, harga diri, dan reputasi sebagai nilai utama para pejuang.

Warisan itu masih terasa hingga kini. Jepang sejak lama menjunjung tinggi konsep wa, harmoni sosial, yang membuat kebutuhan kelompok lebih diutamakan daripada keinginan pribadi.

Di banyak konteks keseharian masyarakat Jepang, tindakan seseorang tidak hanya melekat pada dirinya sendiri, tetapi juga memengaruhi relasi dalam keluarga, komunitas, bahkan tempat kerjanya.

Maka itulah, rasa malu berfungsi sebagai pengingat agar seseorang tidak mengganggu keseimbangan bersama.

Dampaknya pada kehidupan modern terlihat dalam budaya menahan diri, menghindari sorotan, dan kecenderungan menyembunyikan emosi agar tidak merepotkan orang lain.

Contoh di atas memang tidak selalu bermakna baik untuk pengembangan diri secara personal atau individu.

Di sisi lain, sampai hari ini, kita mengenal banyak karakter dalam masyarakat Jepang yang bernapaskan kontrol diri yang kuat.

Misalnya, tecermin dalam tradisi seni dan media populer Jepang, tentang tokoh-tokoh yang menjaga martabatnya, cerita-cerita yang menonjolkan pengorbanan demi kelompok, hingga estetika minimalis yang menyiratkan kesederhanaan dan kontrol diri.

Menurut Psychology Today, malu yang sehat adalah bagian dari fungsi sosial kita. Ia membantu kita untuk menyadari ketika kita telah melampaui batas, menyakiti orang lain, atau bertindak tidak sesuai dengan nilai yang diyakini.

Rasanya tidak nyaman, betul, tetapi di sanalah letak manfaatnya.

Malu memberikan sinyal agar kita mengambil jeda, memperbaiki diri, meminta maaf, atau kembali ke jalur yang benar.

Dalam bentuk ini, malu justru membuat kita lebih bertanggung jawab dan lebih selaras dengan prinsip moral kita sendiri.

Rasa malu yang sehat juga merupakan fondasi bagi empati.

Anak-anak yang belajar memahami dampak tindakannya, misalnya ketika ia membuat temannya sedih dan kemudian diajarkan untuk meminta maaf, artinya sedang mengembangkan kemampuan penting untuk berhubungan dengan orang lain.

Tanpa kemampuan merasa malu secara sehat, seseorang bisa tumbuh tanpa kepekaan, tanpa kemampuan menyesali kesalahan, dan sulit membangun hubungan yang hangat.

Jika rasa malu yang destruktif dapat membuat kita terbenam dalam ketakutan dan perasaan tidak layak, malu yang sehat akan mengarahkan kita pada perubahan dan perbaikan.

Rasa malu bukan musuh, kecuali ia dimanfaatkan orang lain untuk mengeksploitasi.

Sepanjang dikelola dengan benar, rasa malu justru menjadi penanda moral, pengingat batas, dan bagian penting dari empati dan hubungan antar manusia.

Dalam dunia yang semakin gemar mengumbar segalanya, kemampuan untuk merawat rasa malu yang sehat mungkin justru menjadi bentuk kedewasaan yang kita butuhkan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih