diajeng.id - Tren penggunaan kuteks atau cat kuku berwarna merah ernyata bukan sekadar pilihan estetika sehari-hari. Pemakaiannya juga bisa dimaknai sebagai "aset penampilan" penting dalam aktivitas di dunia kencan modern, yang disebut dengan istilah "red nail theory".
Sempat jadi tren viral di media sosial, teori ini memicu diskusi tentang bagaimana detail kecil pada penampilan perempuan dapat memengaruhi daya tarik romantis secara signifikan.
Melansir VeryWell Mind, istilah red nail theory pertama kali dicetuskan oleh kreator TikTok Robyn Delmonte (@girlbosstown).
Robyn mengamati setiap kali dirinya mengenakan kuteks merah, akan ada laki-laki yang selalu memberikan perhatian lebih atau melontarkan pujian. Sejak unggahan tersebut viral, banyak pengguna media sosial mencoba membuktikannya.
Kreator konten Taylor Donoghue melaporkan dirinya dihampiri empat laki-laki di tempat umum hanya dua hari setelah mengecat kukunya berwarna merah. Sementara Melisse Martineau mengaku menerima lima hingga enam ajakan kencan dalam rentang dua sampai tiga minggu setelah mengoleskan kutek merah di kukunya.
Tak hanya bagi perempuan lajang, mereka yang berpasangan pun melaporkan bahwa partner mereka menganggap kuku merah sebagai warna paling seksi.
Dalam istilah populer yang telah dikenal sejak lama, warna merah gelap ini juga kerap dijuluki "Fck Me" nails atau "Million dollar red", dengan shade populer seperti OPI Big Apple Red.
Sebagai penyuka cat kuku, Marina (43) mengaku dirinya menjadi lebih percaya diri ketika memoles kukunya dengan kuteks merah.
Single mom yang berprofesi sebagai pebisnis kue kering ini bahkan menyebut warna merah selain menjadi simbol percaya diri, juga sebagai lambang keberuntungan baginya.
"Kalau pakai merah itu, aku juga ngerasa keberuntungan kayak berpihak ke aku. Misalnya pas lagi pameran di suatu tempat, aku pakai baju merah, tas merah, plus kuteks merah, orang-orang itu kok banyak yang datang, terus mau beli kue-kue kering yang aku tawarin ke mereka," kata Marina.
Marina menambahkan, merah pun merupakan warna favoritnya hingga saat ini. "I love red," tukasnya.
Landasan Sains, Biologi Evolusioner, dan Sejarah
Daya pikat warna merah memiliki landasan ilmiah dan sejarah yang panjang.
Dari sudut pandang biologi evolusioner, pakar hubungan Dr. Wendy Walsh di artikel VeryWell Mind berjudul "Science Says the Best Way to Score a Date Is Your Manicure Color—No, Really" menjelaskan bahwa ketertarikan pada warna merah berakar dari sinyal biologis kesuburan pada primata.
"Semua primata lainnya telah berevolusi untuk memiliki sistem komunikasi seksual, biasanya dalam bentuk vulva yang membengkak dengan warna merah yang cerah,” ujarnya.
Sementara penelitian tahun 2008 oleh Andrew Elliot dan Daniela Niesta juga membuktikan fenomena "red-sex link".
Dalam eksperimen tersebut, seperti dipublikasikan The Cornell Daily Sun, laki-laki menilai perempuan yang menggunakan warna merah lebih menarik secara seksual. Para lelaki juga mengaku cenderung mengajak perempuan berbusana atau mengenakan aksesori merah untuk berkencan, serta bersedia mengeluarkan lebih banyak uang saat berkencan.
Secara historis, warna merah selalu identik dengan sensualitas dan keberanian. Hal ini terlihat pada karakter femme fatale di film klasik Hollywood Scarlett O’Hara dalam Gone with the Wind hingga Charlotte dalam The Woman in Red, yang menggambarkan lipstik merah sebagai simbol daya tarik dan godaan.
Ada pula teori psikoanalisis Freud yang menyebutkan bahwa laki-laki tertarik pada kuku merah karena secara tidak sadar mengingatkan mereka pada kuku ibu mereka di era 1990-an.
Proyeksi Kepercayaan Diri dan Tips Pengaplikasian
Terapis hubungan Dr. Melissa Cook juga membenarkan bahwa kuteks merah memang membuat laki-laki lebih tertarik saat digunakan oleh perempuan. Warna merah yang mencolok mendorong penggunanya tampil lebih yakin pada diri sendiri.
"Cat kuku merah menyiratkan kepercayaan diri, sisi feminin, dan sensualitas, yang dapat menarik lebih banyak perhatian dari lawan jenis," kata Melissa.
Agar Red Nail Theory bekerja maksimal sebagai aset penampilan, maka pemilihan warnanya juga perlu disesuaikan dengan nada kulit.
Pada kulit cerah, maka warna merah yang cocok adalah yang ber-undertone kebiruan (blue-based red). Lalu untuk kulit medium atau olive, akan lebih pas dipadukan dengan warna merah murni (true red).
Sementara untuk pemilik kulit gelap, warna kuteks yang membuatnya terlihat elegan adalah merah pekat seperti burgundy atau brick red. Kuteks merah terang cocok untuk dipakai musim panas atau dalam konteks di Indonesia pada saat siang hari yang terang, sedangkan merah teredam tepat untuk acara yang dingin atau formal.
Keterbatasan dan Realitas Kencan
Meskipun didukung penelitian, tetap ada keterbatasan pada tren ini. Masih mengutip VeryWell Mind, Dr. Wendy Walsh dan Dr. Melissa Cook menekankan bahwa warna merah memang menarik perhatian, akan tetapi tidak menjamin perhatian tersebut sesuai harapan.
Mengandalkan kuku merah semata berisiko menyederhanakan daya tarik dan memicu hubungan yang dangkal (superficial). Kuku merah mungkin dapat menjadi pembuka percakapan, tetapi autentisitas diri, kepribadian, dan kecocokan emosional adalah kunci utama hubungan yang bertahan lama.
Menggunakan kuteks merah bisa menjadi aset penampilan yang meningkatkan rasa percaya diri saat berkencan. Namun, ingat, kunci sukses kencan sejati tetap bersumber dari kepercayaan diri yang jujur dan koneksi antar individu yang nyata.
Artikel seputar tren kencan lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih