diajeng.id - Saat menjalani kencan pertama, alih-alih bertukar cerita seputar film favorit atau hobi olahraga, kamu dan pasanganmu mengomentari setiap orang yang lewat dan mengeluhkan pilihan model pakaian atau perilaku mereka yang tidak sejalan dengan prinsip kalian.
Tanpa disadari, kesamaan membicarakan sisi negatif dari setiap hal malah membuat kalian menjadi semakin dekat. Fenomena tren kencan di kalangan Gen Z ini disebut "grim-keeping".
Grim-keeping, seperti dijelaskan Vice di artikel berjudul "Gen Z Is Sharing Misery on Dates With ‘Grim-Keeping’", merujuk pada tren menjalin relasi romantis yang disatukan oleh kesamaan pasangan pada hal-hal yang tidak disukai dan dibenci, alih-alih hal yang disukai.
Dalam konteks itu, negativitas bersama pasangan ini bertransformasi menjadi bahasa cinta baru.
Pertanyaannya, bagaimana bisa kebencian yang sama membuat kita terhubung secara sosial? Penulis Emma Beddington dalam tulisannya di The Guardian mengaitkan fenomena ini dengan riset sosial tahun 2006.
Riset tersebut menemukan bahwa orang melihat potensi pertemanan yang jauh lebih besar pada orang lain yang memiliki opini negatif yang sama, dibandingkan opini positif yang sama.
Kedekatan Instan yang Berisiko Toksik
Masih menurut artikel di Vice, menjalin hubungan asmara lewat hal-hal yang menjengkelkan dapat memicu kedekatan dengan cepat.
Umumnya, kita memiliki lebih banyak hal yang disukai daripada yang tidak disukai. Akibatnya, menemukan orang lain dengan ketidaksukaan yang sama relatif lebih jarang. Maka ketika ternyata ada orang yang membenci hal yang juga kita benci, kecocokan tersebut rasanya mengejutkan sekaligus memuaskan.
Ketika kamu mengeluh hal-hal yang membuatmu kesal kepada pasangan, misalnya saat mengobrol santai pagi-pagi hari atau pada hari libur, kamu akan menerima tanggapan antusias dan berapi-api yang tentunya terasa menyenangkan.
Meski begitu, kamu juga perlu waspada. Hubungan yang dibangun di atas fondasi kebencian dan penghakiman terhadap orang lain sangat rentan runtuh seiring waktu.
Koneksi semacam ini lahir dari ketidakpuasan bersama, alih-alih nilai hidup yang sehat. Kita harus berhati-hati agar tidak menjadi pembenci yang terlalu menghakimi dan mempermalukan orang lain hanya demi merasa cocok dengan pasangan.
Pemberontakan Autentisitas yang Dangkal
Dinukil HuffPost, tren ini disukai Gen Z dengan alasan merupakan salah satu bentuk pemberontakan terhadap kehidupan media sosial yang terlalu dikurasi dan terlihat sempurna.
Berbagi kekesalan dan kebencian tentang hal-hal kecil, seperti gaya hidup influencer atau orang yang bertepuk tangan saat pesawat mendarat, dianggap sebagai "pamer autentisitas" (authenticity flex) yang terasa superfisial alias dangkal.
Yang perlu diingat, berfokus pada ketidaksukaan berisiko membuat kita mengabaikan sisi positif pasangan.
Lebih penting lagi, kesamaan dalam membenci hal sepele sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai inti kehidupan (core values) seperti keluarga, karier, keuangan, dan keadilan sosial.
"Jika kekesalan dan kebencian pada hal-hal yang tidak kamu sukai itu diterima dengan baik sejak awal, maka kamu telah meletakkan dasar untuk diterima apa adanya," kata Monica Lynne, pakar seks dan hubungan.
Namun, hal itu saja tidak cukup untuk membangun hubungan yang langgeng. "Kekurangannya adalah hal ini berfokus pada perkara sepele dan negativitas," ujar Lynne.
Sisi Evolusi dan Bahaya Ketergantungan
Laman Psychology Today menjelaskan bahwa secara evolusioner, manusia diprogram memprioritaskan identifikasi ancaman demi bertahan hidup.
Kita juga menggemari mentalitas "kita versus mereka" karena sebagai makhluk sosial, kita merasa lebih aman menghadapi ancaman bersama sekutu. Selain itu, mengeluh memang jauh lebih mudah daripada mencari solusi karena manusia cenderung malas.
Hal ini juga perlu diwaspadai, karena menghabiskan terlalu banyak waktu dalam energi negatif dapat menarik orang-orang yang sangat pesimistis atau bahkan penuh kebencian ekstrem.
Ada pula risiko lain yang membuatmu bisa terjebak dalam fase mengeluh tanpa akhir (blame-game) alih-alih fokus pada penyelesaian masalah pribadi.
Selain itu, kamu juga bisa berakhir hanya menjadi "layanan bantuan darurat" atau terapis bagi pasanganmu, yang menciptakan dinamika hubungan dependen yang tidak sehat.
Terakhir, kalau ada orang yang suka membicarakan keburukan orang lain di depanmu, ada risiko bahwa kamu juga akan menjadi bahan keluhannya yang suatu saat dibicarakan dengan orang lain.
Gunakan momen mengeluh bersama ini untuk membuka obrolan yang lebih mendalam mengenai nilai, keyakinan, dan gairah hidup yang sesungguhnya agar hubungan kamu tidak berakhir suram seperti namanya.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih