diajeng.id - Pernahkah kamu merasa seseorang semakin menarik setelah mendengar cara berpikirnya, bukan sekadar melihat wajah atau penampilannya? Obrolan tentang buku, pemikiran kritis, atau pandangan hidup yang mendalam bisa membuatmu ingin mengenal seseorang lebih jauh. Bahkan, percakapan sederhana dapat terasa lebih menggugah daripada rayuan romantis.
Bagi sebagian orang, kecerdasan bukan hanya kualitas tambahan yang dicari dari pasangan, melainkan faktor utama yang memunculkan ketertarikan seksual. Kecenderungan ini dikenal dengan istilah sapiosexual.
Istilah tersebut semakin sering digunakan untuk menggambarkan orang yang tertarik pada kecerdasan atau cara berpikir seseorang.
Namun, apa itu sapiosexual sebenarnya? Apakah orang yang senang berdiskusi tentang berbagai hal otomatis termasuk sapiosexual? Lalu, apa perbedaan sapiosexual dengan sapiophile?
Apa Itu Sapiosexual?
Sapiosexual adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang merasakan ketertarikan seksual terutama karena kecerdasan orang lain.
Artinya, kemampuan berpikir, wawasan, rasa ingin tahu, dan cara seseorang menyampaikan gagasan dapat menjadi daya tarik yang lebih kuat daripada penampilan fisik.
Menurut WebMD dalam artikel "What Does It Mean to Be Sapiosexual?", kecerdasan menjadi faktor yang sangat penting dalam ketertarikan seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai sapiosexual.
Dalam konteks ini, kecerdasan bukan sekadar kualitas yang dianggap baik, tetapi dapat menjadi pemicu munculnya gairah seksual.
Meski begitu, sapiosexual tidak berarti seseorang sama sekali tidak memedulikan penampilan fisik. Penampilan tetap bisa menarik, tetapi kecerdasan menjadi faktor yang lebih dominan dalam membangkitkan ketertarikan seksual.
Ciri-Ciri Sapiosexual
Yang pertama, ia menyukai percakapan yang mendalam. Orang yang sapiosexual biasanya menikmati percakapan yang membuat mereka berpikir. Mereka mungkin lebih antusias membicarakan buku, psikologi, filsafat, sains, budaya, atau pandangan hidup daripada sekadar bertukar basa-basi.
Bagi mereka, percakapan bukan hanya sarana untuk mengisi waktu, tetapi juga kesempatan untuk mengenal pola pikir dan kepribadian seseorang.
Kecendrungan kedua, tentu saja kecerdasan menjadi daya tarik utama. Seseorang yang memiliki wawasan luas, mampu menyusun argumen dengan baik, atau memiliki sudut pandang yang tidak biasa bisa terasa sangat menarik bagi orang yang sapiosexual.
Sapiosexual juga lebih tertarik pada isi pikiran daripada penampilan. Penampilan fisik mungkin menjadi kesan pertama, tetapi bukan faktor utama yang mempertahankan ketertarikan.
Seseorang bisa mulai menyukai orang lain setelah mengetahui bagaimana ia berpikir, mengambil keputusan, atau memandang kehidupan.
Mereka biasanya juga sangat menikmati proses bertukar ide. Diskusi yang sehat, perbedaan pendapat, dan pertanyaan yang menantang bisa membuat seseorang semakin tertarik.
Mereka tidak harus selalu sepakat dengan lawan bicara. Justru, kemampuan menyampaikan pendapat dengan masuk akal dan menghargai perspektif berbeda bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Selain itu, kecenderungan lainnya bagi sebagian orang yang sapiosexual adalah, ketertarikan tidak langsung muncul saat pertama bertemu.
Perasaan itu bisa berkembang setelah mendengar cara seseorang menjelaskan sesuatu, membaca tulisannya, atau mengikuti percakapan yang membuat pikiran terasa terstimulasi.
Meski demikian, menyukai orang pintar, senang membaca, atau gemar berdiskusi saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang adalah sapiosexual. Pembeda utamanya terletak pada peran kecerdasan sebagai sumber utama ketertarikan seksual.
Contoh Nyata Sapiosexual dalam Kehidupan Sehari-hari
Ada beberapa contoh sapiosexual dalam situasi sehari-hari. Yang pertama, akan merasa tertarik setelah berdiskusi panjang. Ini bisa dibayangkan ketika seorang perempuan bertemu dengan laki-laki dalam sebuah acara komunitas.
Awalnya, ia tidak merasakan ketertarikan khusus. Namun, ketika mereka mulai membahas buku, perubahan sosial, dan cara menyelesaikan masalah, ia terkesan dengan pemikiran laki-laki tersebut.
Contoh berikutnya, mengagumi cara seseorang memecahkan masalah. Contoh sapiosexual ini dapat ditemukan di lingkungan kerja atau kampus. Seseorang mungkin awalnya hanya menganggap rekan kerjanya sebagai teman biasa. Namun, ketika melihat rekannya menganalisis persoalan yang rumit, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan menemukan solusi secara kreatif, ia mulai merasa tertarik.
Selanjutnya ketertarikan melalui tulisan atau diskusi daring. Situasi ini tidak selalu berawal dari pertemuan langsung. Seseorang bisa mulai tertarik kepada orang yang belum pernah ditemuinya setelah membaca tulisan, mengikuti diskusi daring, atau mendengarkan penjelasannya tentang suatu topik.
Ada pula orang yang merasa lebih dekat dengan calon pasangan saat mereka bertukar cerita tentang nilai hidup, impian, keyakinan pribadi, atau persoalan yang sedang dipikirkan.
Dalam tulisan "Life As a Sapiosexual Autist" yang diterbitkan di jurnal Autism in Adulthood pada 2023, Jack Pemment menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang sapiosexual. Ia menggambarkan bagaimana aktivitas membaca dan terlibat dengan pemikiran mendalam dapat berkembang dari rasa ingin tahu menjadi pengalaman yang membangkitkan ketertarikan seksual.
Kisah tersebut memberikan gambaran bahwa bagi sebagian orang, daya tarik intelektual tidak hanya muncul melalui percakapan langsung, tetapi juga melalui karya dan gagasan seseorang.
Sapiophile vs. Sapiosexual
Istilah sapiophile dan sapiosexual sama-sama berkaitan dengan ketertarikan terhadap kecerdasan. Karena maknanya berdekatan, keduanya terkadang digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari.
Namun, ada perbedaan penekanan yang perlu dipahami.
Sementara itu, sapiophile umumnya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menyukai atau mengagumi kecerdasan. Istilah ini dapat mencakup ketertarikan intelektual yang lebih luas, tanpa harus berarti bahwa kecerdasan memicu ketertarikan seksual.
Memahami sapiosexual bukan tentang memberi label kepada setiap orang yang gemar berdiskusi, melainkan mengenali bagaimana kecerdasan dapat berperan dalam pengalaman ketertarikan seseorang.
Artikel lainnya terkait relasi bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih