diajeng.id - Ketertarikan perempuan terhadap jagat fiksi erotis menjadi realitas humanis di dunia yang kian membuka lebar ruang pilihan untuk berekspresi dan menikmati hidup.
Buku dan film bergenre romansa erotis semakin meraih popularitas di kalangan perempuan seiring meledaknya novel trilogi Fifty Shades karya penulis Inggris or E. L. James pada 2011 silam, tak lain adalah format lebih dewasa dan “berani” yang terinspirasi dari saga favorit remaja Milenial, Twilight.
Fiksi erotis merupakan cerita fiktif yang menitikberatkan pada adegan seksual. Fiksi semacam ini cenderung dinikmati sebagai pengalaman fantasi seksual.
Penikmat fiksi erotis umumnya perempuan yang berasal dari latar belakang berbeda.
Studi di jurnal Humanities and Social Sciences Communications (2021) menemukan bahwa para perempuan berpendidikan tinggi, perempuan yang sedang menjalin hubungan, termasuk dalam penikmat buku cerita erotis.
Alasan Menikmati Fiksi Erotis
Lalu, apa yang jadi alasan perempuan menikmati fiksi erotis?
“Menghibur,” tegas Salsa (33), penikmat manga dan manhwa erotis tentang alasannya menyukai narasi penceritaan dalam fiksi-fiksi erotis.
Meskipun didominasi narasi seksual, fiksi erotis bisa jadi lebih menarik karena jalan cerita yang kuat dan menyenangkan untuk diikuti.
Rani (29) juga setuju dengan daya tarik alur cerita. Momen-momen sebelum adegan seks sangat dinantikannya dalam setiap fiksi erotis.
Selain itu, Rani yang berprofesi sebagai ilustrator juga menyorot bahwa keindahan seni grafis dalam komik erotis bisa memberikan perasaan senang dan semangat.
“Lewat ilustrasi gambar yang bagus, cerita jadi makin terbayangkan, jadi makin excited bacanya,” tegas Rani.
Seperti disampaikan Caitlin Casiello dalam studi berjudul “Drawing Sex: Pages, Bodies, and Sighs in Japanese Eromanga” (2026) tentang manga erotis (eromanga), seksualitas yang digambarkan lewat teknik bercerita dan elemen visual khas (tata letak panel, penggambaran tubuh, efek suara atau desahan yang divisualisasikan dalam gambar) dapat menciptakan pengalaman membaca yang memadukan waktu, emosi, dan fantasi.
Pengaruh Positif Fiksi Erotis pada Perempuan
Meski kerja-kerja kreatif bernuansa erotis dan romantis kerap dipandang sebelah mata dari lensa “sastra serius”, fiksi erotis itu sendiri memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental pembaca.
Sebagai alternatif hiburan, konten erotis memberikan ruang bagi kita untuk beristirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia yang kaku dan diikat berbagai aturan moral. Kisah-kisah erotis menjadi semacam bentuk eskapisme yang membebaskan sekaligus memberdayakan alias memberi kekuatan.
Cerita erotis juga menampilkan tokoh bermacam-macam melalui gambaran tubuh perempuan yang beragam, tak terkecuali yang melibatkan orientasi seksual dan etnis minoritas tertentu.
Penggambaran yang beragam tersebut bisa membuat setiap perempuan semakin merasa terwakili sekaligus membantu meningkatkan positivisme terhadap keunikan tubuh dan kepercayaan diri terkait latar belakang sosiokultural yang berbeda-beda.
Selain itu, seperti disampaikan seksolog klinis Myisha Battle di Time, fiksi erotis bisa membantu memperbaiki suasana hati dan dorongan seksual untuk dinikmati sendiri maupun bersama pasangan.
Di balik kenikmatan mengonsumsi fiksi erotis, mungkin pada waktu sama kita masih dibayang-bayangi rasa khawatir karena takut dipermalukan dan dihakimi oleh orang lain.
Namun, kita tidak seharusnya merasa rendah diri atau takut di-judge hanya karena memiliki hasrat dan fantasi seksual. Pengalaman ini manusiawi, salah satu dari sekian hal yang membuat hidup kita jadi semakin berwarna-warni.
Kalau kamu tertarik, nikmatilah cerita-cerita erotis yang memang kamu sukai dan bisa memberimu kesenangan.
Jadi, mau baca fiksi erotis apa hari ini?
Editor: Sekar Kinasih