Menuju konten utama

Gentle Partnering: Dari Empati Pengasuhan Anak ke Relasi Asmara

Gaya relasi asmara ini mengupayakan penerapan empati dan rasa ingin tahu (curiosity) saat menghadapi pasangan yang emosional atau memiliki persoalan.

Gentle Partnering: Dari Empati Pengasuhan Anak ke Relasi Asmara
Header diajeng gentle partnering. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Kita sudah tak asing lagi dengan istilah gentle parenting; gaya pengasuhan anak yang menekankan komunikasi dua arah yang lembut, santun, penuh kasih, dan mengedepankan empati. Pola asuh ini tren di kalangan para ibu, dengan salah satu artis Tanah Air yang memopulerkannya adalah Nikita Willy.

Menariknya, pemahaman emosi yang melandasi gentle parenting kini telah menjamah ke ranah hubungan asmara dewasa, disebut gentle partnering.

Pendekatan ini mengajak kita untuk memperlakukan pasangan sebagai rekan satu tim, mengelola konflik dengan kepala dingin, serta menciptakan ruang aman secara emosional tanpa dominasi atau kontrol kekuasaan.

Melansir artikel HuffPost yang terbit bulan April kemarin, pada dasarnya gentle partnering adalah gaya berelasi yang menerapkan empati dan rasa ingin tahu (curiosity) saat menghadapi gejolak emosi serta permasalahan pasangan.

Gentle partnering bukan berarti kita bersikap tunduk atau selalu menyetujui semua keinginan pasangan. Pendekatan ini mengutamakan pengakuan atas individualitas masing-masing.

Artinya, pasangan sama-sama berupaya untuk tidak saling menguasai, membangun komunikasi terbuka, menyikapi perbedaan sudut pandang sebagai peluang pertumbuhan, serta menegakkan batas-batas emosional (boundaries) yang jelas dan konsisten.

Awal Mula Tren Gentle Partnering

Sebelumnya, pada akhir 2024, HuffPost juga sudah pernah mengulas tentang tren ini lewat artikel "You've Heard Of Gentle Parenting. Now There's 'Gentle Partnering'" yang ditulis Brittany Wong.

Tren ini dipicu oleh diskusi warganet di Reddit, serta pengamatan para terapis pernikahan yang menyaksikan bagaimana para orang tua mulai menerapkan metode gentle parenting pada pasangan mereka.

Terapis pernikahan Jennifer Chappell Marsh menjelaskan bahwa otak orang dewasa dapat mengalami ketidakstabilan emosi dan kehilangan ketenangan layaknya anak-anak ketika dilanda ketegangan, "Sehingga teknik komunikasi gentle parenting yang efektif dapat diterapkan dengan baik dalam hubungan, khususnya ketika seseorang sedang merasa kesal."

Namun, terapis Sarah Spencer Northey memberikan catatan kritis yang sangat krusial; perbedaan paling mendasar antara gentle parenting dan gentle partnering terletak pada timbal balik yang diperoleh.

Menurut Northey, apabila kita sebagai orang dewasa menerapkan teknik gentle parenting tanpa adanya usaha timbal balik dari pasangan, sebenarnya kita sedang "mengasuh orang dewasa", yang berisiko memicu ketimpangan beban emosional dan rasa jengkel dalam jangka panjang.

Hal itu tentu sangat berbeda dengan anak-anak yang memang tidak kita harapkan akan merespons dengan cara yang sama.

"Secara perkembangan, anak-anak belum memiliki kemampuan maupun pengalaman yang cukup untuk menjalin hubungan yang bersifat timbal balik sebagaimana yang bisa dilakukan oleh orang dewasa," kata Northey.

Contoh Penerapannya

Bagaimana gentle partnering bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Beberapa contoh praktisnya, seperti dinukil laman Parents, akan dibahas berikut ini.

Langkah awal adalah dengan mendengarkan pasangan secara aktif, lalu kita bisa menyampaikan ulang apa yang disampaikan pasangan. Misalnya dengan mengatakan seperti, "Jadi dari yang aku dengar dan pahami, kamu sebenarnya merasa..." Tujuannya untuk memvalidasi perasaan pasangan sebelum kita merespons.

Selanjutnya, kita juga siap menerima ketidaksempurnaan yang ada pada pasangan. Penting untuk menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kita pun dapat memberi ruang bagi pasangan untuk belajar dari kesalahan tanpa perlu menghakiminya.

Kemudian, latihan meregulasi emosi diri sendiri. Salah satu contohnya adalah dengan mengambil jeda (pause) saat diskusi mulai menghangat. Atur pernapasan, tuliskan pikiran di atas kertas atau teks digital, lanjutkan diskusi saat pikiran sudah tenang.

Selain itu, saat melakukan percakapan, gunakan kalimat yang berfokus pada diri sendiri. Kita bisa menyampaikan sudut pandang pribadi secara santun tanpa menyalahkan dengan kalimat seperti, "Aku paham bahwa..." atau, "Aku merasa seperti..."

Jangan lupa pula untuk menyampaikan permintaan maaf yang tulus saat diperlukan, serta mengenali dan mengakui perasaan sendiri.

Melalui upaya-upaya tersebut, kita menunjukkan usaha kita sebagai pendengar aktif yang memvalidasi kebutuhan dan perasaan pasangan meski kita belum tentu sependapat dengannya.

Dampak Positif dan Refleksi Kritis: Antara Gentle dan 'Fafo' Partnering

Selain mempererat intimasi dan rasa aman, gentle partnering memberikan cetak biru positif (positive blueprint) bagi anak-anak dalam memahami bagaimana hubungan yang sehat dan saling menghormati dibangun.

Kendati begitu, dalam artikel opini di The Guardian, jurnalis Polly Hudson memberikan sudut pandang pembanding yang segar dan humoris melalui istilah Fafo Partnering (pendekatan berbasis konsekuensi alami dari tindakan pasangan).

Hudson mengkritik pendekatan yang terlalu kaku, seperti perempuan yang memaksakan diri berpura-pura tertarik secara mendalam pada hobi pasangan, terkait klub sepak bola terkenal misalnya, secara berlebihan.

Menurut Hudson, membiarkan pasangan menanggung sendiri akibat dari pilihannya secara mandiri kadang-kadang malah lebih realistis daripada menjadi pengasuh emosional yang masih punya energi untuk "mengatur" pasangan.

Hudson menyimpulkan bahwa kunci relasi terbaik bukanlah ketaatan buta pada satu filosofi kaku, melainkan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika hubungan.

Di era modern yang didominasi oleh citra hubungan serbasempurna di media sosial, gentle partnering mengingatkan kita bahwa hubungan yang sehat bukanlah yang bebas konflik atau selalu kelihatan sempurna secara visual. Sebaliknya, pendekatan ini mengajarkan kita untuk menurunkan ego, melepaskan ekspektasi perfeksionisme, dan fokus pada kolaborasi sebagai tim di tengah hidup serbadinamis.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih