Menuju konten utama

Self-Talk: Menemukan Kekuatan Lewat Dialog dengan Diri

Self-talk dapat membantu seseorang mengelola emosi, meningkatkan fokus, serta memperkuat pemahaman terhadap diri sendiri.

Self-Talk: Menemukan Kekuatan Lewat Dialog dengan Diri
Header diajeng Self-Talk. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Pernahkah kamu mendapati dirimu berbicara sendiri, entah bergumam pelan atau sekadar berdialog dalam hati?

Banyak orang mengira kebiasaan ini aneh, bahkan takut dianggap tidak waras ketika melakukannya.

Padahal, berbicara dengan diri sendiri atau self-talk adalah fenomena yang sangat umum, dialami oleh hampir semua orang di berbagai situasi.

Dari sekadar mengingatkan diri untuk tidak lupa membawa kunci hingga menenangkan diri saat cemas, self-talk hadir sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, ketika mendapati ada orang yang berbicara sendiri, tidak sedikit bagian dari masyaraka kita yang menganggap orang tersebut terkena gangguan mental atau kondisi yang tidak wajar.

Dilansir VeryWell Mind, hampir semua orang pernah berbicara kepada diri sendiri setidaknya sesekali, tetapi beberapa melakukannya lebih sering daripada yang lain.

Orang berbicara kepada diri sendiri karena berbagai alasan, termasuk untuk memecahkan masalah, penalaran, merencanakan sesuatu, motivasi, dan perhatian.

Self-talk adalah hal yang umum. Pakar kesehatan mental percaya bahwa berbicara kepada diri sendiri dengan keras dapat membantu memproses pikiran dengan cara yang sehat dan produktif.

Meski demikian, self-talk juga dapat dikaitkan dengan masalah seperti stres, kecemasan, atau trauma.

Apabila mengalami hal-hal di atas yang disertai gejala lain seperti kesulitan tidur (insomnia) atau perasaan sedih yang mendalam, sebaiknya temui profesional kesehatan mental.

Pendek kata, kerbicara kepada diri sendiri adalah hal yang normal.

Meskipun terkadang hal itu dapat menimbulkan masalah atau menjadi tanda terkait kondisi kesehatan mental, dalam kebanyakan kasus, seseorang dapat terus berbicara kepada diri sendiri tanpa perlu merasa khawatir.

Mengapa Orang Berbicara kepada Diri Sendiri?

Sebuah artikel tahun 2019 yang ditulis oleh Thomas M. Brinthaupt di jurnal Frontiers in Psychology memberikan dua hipotesis berbeda yang dapat menjelaskan kenapa kita berbicara pada diri sendiri.

1. Hipotesis tentang Isolasi Sosial

Satu hipotesis menyatakan bahwa orang yang menghabiskan lebih banyak waktu sendirian kemungkinan akan cenderung berbicara kepada diri sendiri.

Alasannya, mereka memiliki lebih sedikit interaksi dengan orang lain. Maka self-talk dapat berfungsi sebagai bentuk komunikasi sosial.

Studi menunjukkan bahwa orang dewasa yang merupakan anak tunggal diduga lebih berpotensi terlibat dalam self-talk daripada anak yang punya saudara.

Studi lain menemukan bahwa orang yang kesepian dan memiliki kebutuhan yang kuat untuk memiliki hubungan juga lebih cenderung berbicara kepada diri sendiri. Self-talk, dalam kasus ini, berfungsi untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh hubungan sosial yang terbatas atau tidak memuaskan.

2. Hipotesis tentang Gangguan Kognitif

Hipotesis ini menunjukkan bahwa orang mungkin berbicara kepada diri sendiri dengan lantang karena peristiwa yang mengganggu kognitif yang sering kali disebabkan oleh stres atau peristiwa serupa lainnya.

Misalnya, perasaan cemas atau kecenderungan obsesif-kompulsif dapat menyebabkan gangguan kognitif yang berkaitan dengan peningkatan self-talk.

Sebagai contoh, orang cenderung lebih banyak berbicara kepada diri sendiri saat bersiap berpidato jika mereka cemas berbicara di depan umum.

Self-talk Bukan Tanda "Sakit", Asalkan...

Spesialis kedokteran jiwa RSU Royal Prima Medan, dr. Nurul Utami, Sp.KJ mengatakan, berbicara sendiri (self-talk) adalah hal yang wajar dan normal secara psikologis, asalkan tidak disertai halusinasi, delusi, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Perilaku ini justru memiliki manfaat seperti membantu mengatur pikiran dan emosi, meningkatkan motivasi, mengurangi stres, dan meningkatkan harga diri," jelas dr. Tami.

Self-talk, lanjutnya, dapat membantu seseorang mengelola emosi, meningkatkan fokus, serta memperkuat pemahaman terhadap diri sendiri.

"Dengan kata lain, berbicara pada diri sendiri bukanlah tanda “gila,” melainkan salah satu cara sehat otak kita bekerja." kata dr. Tami.

Manfaat Self-Talk

Lebih dari sekadar kebiasaan yang normal, menurut Healthline, berbicara kepada diri sendiri sebenarnya dapat bermanfaat bagi seseorang, di antaranya:

1. Membantu menemukan barang yang hilang

Pernah panik mencari daftar belanja atau kunci rumah?

Menyebutkan barang yang sedang dicari dengan lantang ternyata bisa membantu otak lebih cepat mengenalinya.

Penelitian menunjukkan bahwa mendengar nama barang tersebut membuat otak lebih fokus memvisualisasikannya, sehingga peluang menemukannya jadi lebih besar.

2. Membantu tetap fokus saat bekerja

Ketika menghadapi tugas sulit, seperti merakit perabot atau memperbaiki sesuatu, berbicara kepada diri sendiri bisa membantu menjaga fokus.

Mengucapkan langkah-langkah dengan suara lantang atau bahkan sekadar bertanya pada diri sendiri (“Kalau aku taruh di sini, apa jadinya?”) membuat otak lebih terarah.

Hasilnya, masalah lebih mudah dipecahkan.

3. Meningkatkan motivasi

Self-talk juga bisa jadi penyemangat diri sendiri. Mengucapkan kalimat positif dengan suara lantang lebih kuat dampaknya daripada hanya memikirkannya.

Menariknya, penelitian menemukan motivasi lebih efektif jika menggunakan kata ganti orang kedua atau ketiga.

Misalnya, bukan “Aku bisa,” tapi “Kamu bisa, [nama sendiri].” Cara ini memberi jarak emosional dan mengurangi tekanan ketika menghadapi tantangan.

4. Membantu mengolah emosi sulit

Kadang-kadang, ada perasaan yang terlalu berat untuk langsung dibagikan kepada orang lain.

Dalam kondisi ini, self-talk bisa jadi ruang aman untuk memproses emosi terlebih dahulu.

Mengatakannya dengan suara lantang membantu memilah mana kekhawatiran yang nyata dan mana yang hanya berlebihan.

5. Mengurangi rasa kesal

Menyuarakan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan juga bisa mengurangi rasa tertekan, membuat emosi lebih mudah diterima dan dikelola. Orang dapat langsung mengungkapkannya sendiri sehingga hal-hal menyebalkan tersebut akan terasa lebih mudah dikelola.

Mengungkapkan emosi juga dapat membantu seseorang memvalidasi dan menerimanya. Hal ini pada akhirnya dapat mengurangi dampaknya.

Selain itu, beberapa manfaat self-talk positif lainnya seperti dikutip situs goaskalice.columbia adalah:

  • Meningkatkan perhatian
  • Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah
  • Meningkatan motivasi untuk menyelesaikan tugas
  • Meningkatkan kesadaran emosional
  • Kesehatan kardiovaskular yang lebih baik
  • Membuat daya tahan yang lebih kuat terhadap beberapa penyakit (seperti flu biasa)
  • Mengurangi depresi
  • Mengurangi tekanan batin
Secara umum, berbicara kepada diri sendiri tidak berbahaya, dan dalam banyak kasus, justru bermanfaat.

"Namun, jika seseorang bercakap-cakap dengan suara-suara yang bukan miliknya atau kesulitan membedakan pikiran mereka dari kenyataan, hal itu bisa mengindikasikan kondisi kesehatan mental yang lebih serius, seperti skizofrenia," kata Savana Howe, pendiri Dr. Howe Psychology seperti dilansir laman AARP.

Jika tidak, satu-satunya dampak negatif dari kebiasaan mengobrol dengan diri sendiri, tambahnya, mungkin adalah kecanggungan sosial karena berbicara kepada diri sendiri di depan umum mungkin akan membuat seseorang dipandang beberapa kali.

Wajar saja kalau orang lain melirik heran saat ada yang bicara sendirian di tempat umum. Tapi pada dasarnya, ini hanyalah cara lain untuk berpikir lantang.

Budaya kita sering mengaitkan self-talk dengan hal-hal yang kurang sehat, karena dalam pandangan sebagian orang, sering berbicara lantang kepada diri sendiri dikaitkan dengan penyakit mental.

Maka dari itu, mungkin lebih nyaman jika dilakukan di ruang pribadi.

Kalau pun perlu melakukannya di ruang publik, ada trik sederhana untuk mengurangi rasa kikuk. Misalnya, gunakan earphone agar terlihat seperti sedang berbicara lewat telepon.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana kebiasaan ini membantu diri kita.

Apabila self-talk membuat pikiran lebih tenang, fokus, dan termotivasi, maka teruslah melakukannya. Hanya saja, usahakan untuk menghindari self-talk yang bernada negatif, supaya manfaatnya benar-benar terasa dan tidak berbalik jadi beban.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih