diajeng.id - Rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) ke-80 oleh PW Muslimat NU Daerah Istimewa Yogyakarta ditutup dengan Seminar Penguatan Aswaja An-Nahdliyyah di aula Al-Azhar Yogyakarta pada Ahad, 26 April 2026.
Seminar bertajuk “Muslimat NU di Era Digital: Menguatkan Aswaja An-Nahdliyyah untuk Kemajuan Peradaban” merupakan bagian dari 11 rangkaian acara Harlah untuk menegaskan komitmen Muslimat NU dalam meningkatkan empati, kepedulian, dan kualitas generasi masa depan.
Muslimat NU didirikan pada 29 Maret 1946 di Purwokerto sebagai organisasi kemasyarakatan sosial keagamaan yang merupakan salah satu Badan Otonom dari Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Organisasi ini aktif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan cita-cita nasional secara mandiri.
Diperkirakan sebanyak 32 juta perempuan anggota Muslimat NU di 34 Pimpinan Wilayah (Tingkat Provinsi) telah terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, di antaranya penyediaan layanan sosial seperti panti asuhan dan pusat kesehatan, layanan pendidikan melalui TK/RA dan PAUD, dakwah, hingga koperasi.
Pembicara utama Wakil Sekjen PBNU dan Duta Besar RI untuk Aljazair 2016-20, Dra. Hj. Safira Machrusah, MA (AS) atau akrab disapa Rosa, membuka materi seminar dengan pengamatannya tentang pergeseran tren koneksi sosial masyarakat modern yang perlu jadi perhatian khusus semua pihak, terutama ibu dan perempuan; bagaimana jemari anak-anak kini jauh lebih lincah menggeser layar smartphone sebelum lancar mengeja huruf hijaiyyah dengan benar, sampai silaturahmi dan aktivitas ekonomi yang sekarang semudah mengetuk papan gawai alih-alih tatap muka langsung.
“Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia,” kata Rosa, “hampir 79 dari 100 perempuan Indonesia sudah menggunakan internet. Bahkan hampir separuh pengguna internet di Indonesia adalah perempuan. Artinya, ruang digital juga ruang perempuan.”
Rosa juga menyoroti sepak terjang perempuan dalam ekonomi nasional, mengutip data BPS bahwa 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Seiring itu, nilai transaksi e-commerce dilaporkan telah menembus Rp500 triliun.
“E-commerce telah menjadi penyelamat ekonomi bagi banyak keluarga,” lanjut Rosa, “ibu-ibu di rumah, kini bisa menjadi reseller, affiliator, bahkan membangun mereknya sendiri.”
Melalui platform belanja daring, seperti TikTok Shop, produk ibu dan anak dilaporkan mengalami peningkatan transaksi dari masa ke masa.
Namun begitu, di balik besarnya peluang yang muncul dari kemudahan akses teknologi, Rosa mengingatkan bahaya yang mengintai, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal.
“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2025 sudah memblokir lebih dari 1.500 pinjol ilegal, dan yang paling menyedihkan, 61 persen korbannya adalah perempuan-ibu-ibu seperti kita, remaja seperti anak-anak kita,” tandas Rosa.
Selain itu, lanjut Rosa, anak-anak pun tidak imun dari paparan judi online (judol). Data PPATK menyebutkan pada kuartal pertama 2025 total Rp50 miliar telah disetorkan oleh pemain dari kalangan anak dan remaja.
Rosa juga menyorot temuan BNPT tahun lalu tentang maraknya jumlah konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di media sosial, yang berjumlah lebih dari 21 ribu konten.
“Bahkan sekarang hanya butuh 3 sampai 6 bulan untuk mengubah cara berpikir seorang anak dan memengaruhi pandangan hidupnya, padahal sebelumnya butuh waktu 2 sampai 5 tahun,” terang Rosa terkait dahsyatnya dampak paparan konten terorisme pada anak dan remaja.
Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut, diperumit dengan situasi geopolitik global tidak menentu, dari invasi Rusia ke Ukraina hingga perang AS-Israel terhadap Iran yang berpengaruh pada distribusi bahan bakar sampai plastik, sangat mungkin membuat kaum ibu dan perempuan semakin gelisah.
“Namun, di tengah kegelisahan ini, kita sebetulnya tidak perlu kehilangan arah,” lanjut Rosa, “Kita punya nilai yang sangat terhormat, nilai Aswaja yang kita pegang dari kita lahir sebagai orang NU sampai kini sebagai pengurus-pengurus badan.”
“Aswaja bukan sekadar ajaran yang kita baca di dalam kitab kuning, ia adalah cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak,” papar Rosa.
Salah satu prinsip utama dalam Aswaja, Rosa menerangkan, adalah “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik”.
Menurut Rosa, nilai-nilai Aswaja dapat dimanfaatkan sebagai pisau analisis untuk menghadapi berbagai disrupsi yang terjadi hari ini.
Justru, menurut Rosa, berbagai tantangan yang ada menjadi kesempatan bagi Muslimat NU untuk belajar semakin selektif dan inovatif. “Karena prinsip inilah yang membuat NU tetap eksis dari zaman ke zaman.”
Selama ini, Muslimat NU telah aktif bergerak. Di bawah HIDMAT Muslimat NU (Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama), transformasi digital dakwah dan penguatan berbasis data menjadi prioritas. Salah satunya melalui peluncuran aplikasi pendataan 74 ribu lebih majelis taklim dan belasan ribu daiyah di penjuru Indonesia.
Upaya penyampaian dakwah Islam moderat juga ditunjukkan melalui program dakwah Hujjah Aswaja di saluran televisi lokal TV9 Nusantara. Selain itu, sebagian PAUD di bawah kelolaan Muslimat NU telah mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja pada kurikulumnya.
Rosa percaya pentingnya perempuan melek digital agar dapat melindungi keluarga dari serangan hoaks, pinjol ilegal, judi online, dan paham-paham radikal.
"Jadilah filter pertama bagi anak-anak kita sebelum algoritma mengambil alih. Jadilah ibu yang cakap digital, bukan galak digital yang sekadar melarang anak main ponsel, atau permisif digital yang memberi kebebasan tanpa pendampingan pada anak dengan ilmu," pesan Rosa.
Seminar ini turut menghadirkan pembicara Ketua PWNU DIY Dr. KH. Zuhdi Muhdhor dan anggota dewan pengasuh Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta TG Ahmad Rafiq, PhD.