Menuju konten utama

Seni Berkompromi dengan Hal-Hal yang Terasa Menjengkelkan

Kita tidak selalu bisa memilih dengan siapa atau hal apa kita berurusan. Meski begitu, kita punya kendali untuk meresponsnya.

Seni Berkompromi dengan Hal-Hal yang Terasa Menjengkelkan
Header Doajeng Berkompromi dengan yang Menjengkelkan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Saat terbangun di pagi hari yang tenang dengan segala rutinitas harian yang menunggu, tiba-tiba saja suasana menjadi berisik karena suara denting gelas yang pecah di lantai.

Anak bungsu rupanya baru saja menumpahkan minumannya tepat ketika kamu sudah rapi hendak berangkat ke kantor.

Belum sempat menghela napas, ponsel juga berbunyi untuk sebuah pesan singkat dari atasan dengan nada tinggi yang meminta deadline laporan pekerjaan dimajukan jadi jam 09.30 dari waktu yang sebelumnya disepakati, yakni pukul 15.00.

Bayangan hiruk-pikuk di kantor masih ditambah tentang pikiran terkait kolega yang mendadak ketus hanya karena permintaannya meminjam uang tempo hari kamu tolak dengan halus.

Aku, kamu, dan sebagian dari kita mungkin pernah mengalami momen-momen seperti di atas. Rasanya seakan-akan dunia sedang berkonspirasi untuk menguji batas kesabaran.

Kalimat semacam, "Aku benci semua orang," atau, "Rasanya ingin menghilang saja," mendadak jadi mantra di dalam kepala.

Energi semakin terkuras, dada sesak dan lelah, sampai kita jadi bertanya-tanya, "Kenapa harus aku yang selalu mengalah?"

Namun begitu, hidup memang acap kali tidak memberikan opsi bagi kita untuk menghindari hal-hal yang tidak kita sukai.

Kita tidak bisa selalu memilih dengan siapa atau apa kita berurusan, akan tetapi kita punya kendali penuh atas bagaimana kita merespons.

Menghadapi orang atau situasi yang menyebalkan bukan berarti kita kalah. Itu adalah sebuah seni alias strategi untuk menjaga kedamaian diri di tengah kebisingan yang tak terduga.

Lalu, bagaimana cara tetap waras tanpa harus mengorbankan perasaan diri sendiri?

Langkah Awal Menghadapi Sesuatu yang Menjengkelkan

Dalam laman Psyche disebutkan, saat berhadapan dengan hal-hal yang menjengkelkan, langkah awal yang sering terlewat justru adalah berhenti sejenak dan menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri.

Emosi selalu hadir lebih terlebih dulu di tubuh, melalui dada yang sesak, perut yang mual, atau detak jantung yang meninggi.

Dengan memerhatikan sensasi itu dan memberi nama pada perasaan yang muncul, kita sedang menciptakan jarak sehat antara diri kita dan dorongan impulsif.

Dari sana, kita diajak bertanya lebih dalam, "Apakah respons yang ingin kita lakukan benar-benar membawa kita lebih dekat pada nilai dan kehidupan yang ingin kita bangun?"

Tidak semua reaksi yang terasa “lega” sesaat sebenarnya membantu. Keberhasilan, dalam arti yang lebih jujur, adalah ketika pilihan kita tetap selaras dengan arah batin, bahkan di tengah rasa kesal atau amarah.

Namun begitu, ada kalanya kesadaran saja belum cukup, dan tubuh masih menyimpan ketegangan.

Di titik inilah upaya berfokus ke diri sendiri menjadi penting, alih-alih sebagai pelarian, melainkan sebagai cara kembali ke keseimbangan.

Mengarahkan perhatian ke kaki, mengatur napas, merasakan sentuhan, atau melepaskan ketegangan otot selama satu menit dapat membantu menenangkan sistem saraf dan memberi ruang bagi kejernihan.

Latihan-latihan sederhana ini bukan sekadar solusi cepat, tetapi investasi kecil yang, jika dilakukan secara konsisten, memperkuat kemampuan kita untuk menghadapi stres sehari-hari dengan lebih tenang dan berdaya.

Menurut artikel di jurnal History of Psychiatry (2023), sikap yang sering muncul ketika kita merasa muak atau ingin menjauh dari manusia secara umum kerap dikaitkan dengan konsep misantropi.

Misantropi adalah istilah filosofis yang merujuk pada ketidakpercayaan atau penolakan terhadap umat manusia.

Alih-alih diagnosis kesehatan mental, misantropi merupakkan konsep lama dalam filsafat dan psikologi sosial untuk menggambarkan sikap afektif dan kognitif terhadap manusia sebagai keseluruhan.

Misantropi juga berbeda dari kebencian berbasis diskriminasi, karena tidak diarahkan pada kelompok tertentu.

Meski sering muncul sebagai respons atas kekecewaan atau kejenuhan mendalam, penelitian menunjukkan bahwa sikap ini dapat berkaitan dengan menurunnya kualitas relasi sosial dan kesejahteraan psikologis jika tidak disadari atau dikelola.

Strategi Menghadapi Momen Menyebalkan

Dilansir Psych Central, perasaan seperti “membenci semua orang” sering kali bukan tentang orang lain semata, melainkan tentang kelelahan batin yang belum diberi ruang.

Salah satu cara meredakannya adalah dengan melatih kesabaran. Di sini, kesabaran tidak dilihat sebagai karakter bawaan, melainkan keterampilan emosional yang bisa diasah.

Selanjutnya, cobalah menarik napas lebih pelan, belajar menikmati jeda, menilai ulang situasi, serta menetapkan batas yang sehat, sehingga membantu kita tidak langsung bereaksi dari tempat yang paling rapuh.

Pada saat yang sama, coba kenali dan telusuri pemicu pribadi. Hal-hal kecil yang tampaknya sepele tapi menguras emosi, apa saja itu? Mengenali poin-poin ini bisa memberi kita kesempatan untuk bersiap, alih-alih terjebak dalam kejengkelan yang sama.

Selain itu, penting juga untuk menelusuri cara kita berpikir dan pengalaman yang membentuknya. Pikiran yang gemar menggeneralisasi, menyalahkan, atau dipenuhi “seharusnya” sering kali membuat dunia terasa lebih bermusuhan daripada kenyataannya.

Dengan menantang distorsi-distorsi ini, kita belajar melihat orang lain dengan kacamata yang lebih jernih. Tak jarang, sikap sinis terhadap sesama berakar pada luka lama atau trauma yang belum selesai.

Pada akhirnya, kalau kamu merasa tidak suka semua orang atau orang-orang tertentu, hal utama yang paling penting dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut adalah menentukan alasannya.

Tanyakan pada diri sendiri, apa sebenarnya yang menyebabkan kamu sangat membenci sesuatu atau orang lain?

Setelah mulai memahami alasannya, kamu dapat mengambil langkah-langkah untuk mengatasi perasaan tersebut seperti yang telah diuraikan di atas.

Beberapa terapi juga bisa dilakukan, seperti berlatih kesabaran, terapi bicara, hingga menantang pikiran kamu sendiri.

Menghadapi dan memproses keadaan tersebut, baik secara mandiri maupun dengan bantuan profesional, dapat melunakkan cara kita memandang dunia, dan perlahan mengembalikan rasa lapang dalam berelasi dengan orang lain.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih