diajeng.id - Niat baik untuk menjaga batas diri biasanya sering terhalang oleh rasa tidak enak, takut melukai perasaan orang lain, atau khawatir dicap egois. Ini terutama berlaku di konteks kantor atau lingkungan kerja.
Padahal, menolak permintaan atau menyatakan "tidak" untuk hal-hal yang tidak bisa dilakukan, atau tidak dikehendaki, adalah salah satu tindakan untuk melindungi kesehatan mental diri sendiri.
Dalam studi doktoralnya pada 2014, Katharine O'Brien dari Rice University, Texas menemukan bahwa perempuan lebih sulit menolak permintaan secara profesional yang biasanya diajukan oleh atasan, supervisor, dan orang lain.
Perempuan yang sulit berkata "tidak" umumnya takut akan konsekuensi bagi pekerjaan dan karier mereka.
Di sisi lain, sikap tidak enakan alias selalu iya-iya saja juga menimbulkan risiko negatif bagi kesehatan mental, emosional, dan fisik.
Apalagi jika hal tersebut dilakukan dengan cara memaksakan diri, seseorang akan merasa kewalahan, kesal, dan lebih buruknya. Dia pun jadi asas manfaat bagi orang lain.
Hal ini juga merampas waktu dan energi serta menyebabkan stres dan kecemasan.
Bukan tidak mungkin, mereka memandang kita sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan dilecehkan.
Berani berkata "tidak" bukanlah keahlian yang harus dilakukan dengan kasar atau dingin.
Ini adalah sebuah seni komunikasi yang dapat dipelajari, yang memungkinkan kita untuk menegaskan prioritas diri sambil tetap menjaga kesantunan dan keharmonisan hubungan.
Lalu, bagaimana cara melakukannya?
Cara Bilang Tidak untuk Hal yang Tak Mau Kita Kerjakan
Dikutip laman Psychology Today, menolak atau berkata "tidak" bukan lagi soal menjauh dari orang lain, melainkan tentang membangun komunikasi yang jujur dan saling menghormati.
Berikut beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan:
1. Pahami bahwa Penolakan adalah Bentuk Perawatan Diri
Menolak bukan tindakan negatif.Dalam banyak kesempatan, menolak justru menjadi langkah sehat untuk melindungi energi, waktu, dan keseimbangan emosional.
Ketika batas pribadi dihormati, hubungan dengan orang lain juga cenderung tumbuh lebih sehat dan setara.
2. Mulai dari Penolakan yang Lembut
Bagi yang masih belum terbiasa, menolak dengan cara yang halus bisa menjadi langkah awal. Teknik ini melibatkan penjelasan seperlunya tanpa memberikan pembenaran berlebihan.Contoh pendekatannya seperti ini, “Terima kasih sudah mempertimbangkan aku untuk ikut proyek ini. Menarik sekali, tapi sekarang aku belum bisa ambil.”
Nada yang sopan tetapi jelas membantu mempertahankan hubungan baik tanpa mengorbankan diri.
3. Gunakan Penolakan yang Tegas dan Ringkas
Ada kalanya situasi menuntut kita untuk memberikan jawaban langsung dan tidak berputar-putar. Dalam kondisi seperti itu, gunakan kalimat singkat dan jelas.Misalnya, “Tidak, terima kasih,” atau “Terima kasih, tapi aku tidak bisa melakukannya minggu ini.”
Ketegasan ini bisa menghindarkan kita dari kesalahpahaman dan menunjukkan bahwa batas yang dimiliki bersifat serius.
4. Jadikan Penolakan sebagai Latihan
Kemampuan bilang “tidak” akan terasa semakin natural seiring frekuensi latihan.Setiap pengalaman kecil dalam menolak membantu membangun kepercayaan diri untuk menghadapi permintaan yang lebih kompleks di kemudian hari.
5. Berikan Ruang untuk Pertimbangan sebelum Bilang “Iya”
Belajar menolak bukan berarti menutup pintu untuk kesempatan baru.Namun, keputusan untuk mengiyakan sesuatu sebaiknya disesuaikan dengan nilai pribadi, rasa nyaman, serta kapasitas waktu dan energi.
Luangkan jeda sebelum menjawab, sejenak berhenti dapat menahan dorongan untuk langsung menyetujui sesuatu.
Jeda ini memberi ruang untuk menimbang konsekuensi dan keselarasan keputusan tersebut dengan kebutuhan diri.
Bilang “Tidak”, Ya Tidak Apa-Apa
Banyak orang takut penolakannya akan menyinggung atau merusak hubungan.
Namun, menurut penelitian di Journal of Personality and Social Psychology (2024), respons negatif dari orang lain biasanya jauh lebih kecil dari bayangan kita.
Kita cenderung membesar-besarkan reaksi orang lain terhadap penolakan, terutama dalam konteks sosial.
Seni menolak bukanlah tentang menjauh dari orang lain, melainkan tentang mendekat pada diri sendiri.
Ketika berani berkata “tidak,” kita sedang memilih untuk hadir dengan lebih utuh, tanpa kepura-puraan, tanpa memikul beban yang tidak sanggup ditanggung.
Dengan ini pula kita akan belajar bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah pilihan egois, melainkan fondasi agar kita bisa terus terhubung dengan orang lain secara lebih hangat dan menyenangkan.
Simak juga artikel menarik lainnya di sini.
Editor: Sekar Kinasih