diajeng.id - Setelah bertahun-tahun dirawat, persahabatan kalian terasa hangat dan penuh kepercayaan. Namun seiring waktu, muncul rasa tidak nyaman. Kamu mulai menyadari adanya pola sikap dari temanmu yang menimbulkan kesan bahwa dirinya ingin selalu unggul atau tidak mau kalah dari kamu.
Apabila terus dibiarkan, dinamika hubungan yang seharusnya saling dukung bisa bergeser jadi sarat persaingan tidak sehat. Pada satu titik, persahabatan kalian bisa disebut kompetitif.
Berikut tanda-tanda yang perlu kamu ketahui agar tidak terjebak pada persahabatan toksik.
1. Respon dingin terhadap kabar baikmu
Alih-alih ikut bahagia, temanmu bersikap cuek, meremehkan, atau malah membandingkan dengan pencapaiannya. Sikap tersebut membuatmu merasa tidak dihargai, padahal teman yang tulus akan hadir memberi respons hangat.
Kalau kejadiannya cuma satu-dua kali, tidak apa-apa. Bisa saja temanmu sedang ada banyak pikiran dan urusan untuk dibereskan. Namun, apabila kejadiannya konsisten, ini patut diperhatikan.
2. Sering mengkritik orang di sekitarmu
Temanmu cenderung menjelekkan orang-orang yang dekat denganmu, terutama yang menyita perhatianmu. Ucapannya bukan sekadar mengingatkan, tetapi lebih ke arah menjatuhkan. Begitu kerasnya pandangan temanmu, kamu bahkan mulai meragukan penilaian sendiri.
Berbeda dengan teman yang benar-benar peduli, yang akan menyampaikan kekhawatiran dengan cara jujur, tanpa merendahkan orang lain.
3. Diam-diam bersaing denganmu
Temanmu terlihat ingin memiliki apa yang kamu capai. Saat kamu berhasil, dia ikut mengejar. Namun, kalau temanmu kesulitan mengejarmu, ada kalanya dia malah mendorongmu menjauh dari tujuan yang ingin kamu raih.
Rasa iri dalam pertemanan sangat mungkin memicu perilaku yang melemahkan satu sama lain.
4. Mencoba menirumu
Awalnya, perilaku temanmu terkesan seperti bentuk kekaguman, tetapi lama-kelamaan dia meniru gaya, kebiasaan, bahkan caramu menjalani hidup.
Kalau proses imitasi tersebut semakin intens, bisa jadi temanmu tidak terinspirasi darimu, tetapi cemburu dan berkeinginan kuat untuk “menjadi” kamu.
5. Membuatmu merasa bertanggung jawab atas dirinya
Temanmu sering berada dalam situasi penuh drama. Kamu pun merasa harus selalu hadir sebagai penolong. Tanpa sadar, kamu mulai mengecilkan diri, mengorbankan banyak hal, bahkan menahan pencapaianmu agar dia tidak merasa tertinggal.
6. Mengetahui segalanya tentangmu
Temanmu selalu ingin tahu segalanya tentangmu. Rencana, ide, tujuan, bahkan hal-hal pribadi agar bisa membandingkan dirinya denganmu.
Kamu jadi patokan dan titik acuan dalam persaingan, meskipun kamu tidak pernah merasa sedang berkompetisi.
7. Percakapan berubah menjadi perdebatan
Kamu tidak bisa menyampaikan pendapat karena dia selalu merasa perlu membantah, mengoreksi, atau mengungguli.
Bahkan untuk komentar sepele darimu, seperti, “Langit itu biru,” dia bisa saja menimpali dengan, “Tadi sebenarnya agak ungu…” semata-mata agar dirinya terlihat lebih pintar, lebih unggul, atau lebih tahu.
8. Mendekati orang-orang yang tidak menyukaimu
Langkah tersebut memberi temanmu ruang untuk meluapkan rasa iri yang terpendam. Bersama mereka, diharapkan muncul obrolan-obrolan yang menjelekkanmu demi membenarkan rasa tidak aman dalam dirinya.
9. Sikap yang berubah-ubah
Kadang-kadang mereka bersikap baik, tetapi tiba-tiba menjadi dingin, kompetitif, atau menciptakan situasi tegang yang canggung.
10. Diam-diam menikmati saat kamu kesulitan
Teman yang kompetitif bisa terlihat lebih “hidup” saat kamu sedang tidak baik-baik saja.
Meski mereka menunjukkan simpati ketika kamu melakukan kesalahan, merasa patah hati, atau menghadapi kegagalan, kamu merasakan insting bahwa yang mereka ucapkan atau lakukan tidaklah tulus.
11. Kamu merasa bersalah saat berhasil
Dalam pertemanan yang sehat, setiap orang punya ruang untuk berkembang. Namun, dalam hubungan yang kompetitif, yang muncul adalah rasa bersalah. Kamu mulai ragu untuk berbagi kabar baik, mengkerdilkan pencapaian, menyembunyikan peluang, bahkan merendahkan dirimu sendiri demi menjaga hubungan.
Di lubuk hati terdalam, kamu menganggap kesuksesanmu seperti ancaman bagi pertemanan kalian.
12. Selalu ingin selangkah lebih unggul
Beberapa orang sulit menerima jika bukan diri mereka yang paling sukses, menarik, atau menonjol. Dalam persahabatan yang kompetitif, mereka merasa harus selalu berada di atas lebih baik, lebih sukses, lebih menarik, atau lebih berprestasi.
Hubungan pertemanan jadi dibungkus dengan status. Kalian seperti terlibat dalam perlombaan, tanpa pernah bersepakat melakukannya.
13. Tidak merasa aman secara emosional
Persahabatan yang sehat seharusnya membuat setiap orang merasa aman dan nyaman. Kamu pun merasa diterima, didengar, didukung, dan bebas menjadi diri sendiri. Namun, dalam hubungan yang kompetitif, kamu mulai menahan diri, terlalu memikirkan apa yang ingin diceritakan, meragukan niat mereka, dan merasa harus waspada setiap saat.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih