Menuju konten utama

Menjaga Persahabatan yang Berkualitas dengan Aturan 11-3-6

Apa yang dibutuhkan agar persahabatan kita bisa naik kelas dari sekadar kenalan menjadi relasi yang benar-benar sejati?

Menjaga Persahabatan yang Berkualitas dengan Aturan 11-3-6
Header DIajeng Persahabatan. foto/istockphoto

diajeng.id - Kita semua pasti paham betul bahwa memulai pertemanan sebagai orang dewasa tidaklah semudah waktu kita berada di zaman sekolah atau awal-awal bekerja.

Ada-ada saja tantangan untuk menjalin dan mempertahankan persahabatan antardewasa yang genuine (tulus) serta berkualitas.

Apabila "Rule 2-2-2" bisa diterapkan pada pasangan dalam relasi romantis, strategi pertemanan "Rule 11-3-6" bisa jadi panduan kita dalam mengelola persahabatan yang bermakna pada usia dewasa.

Tantangan Nyata Pertemanan Dewasa

Pertanyaan yang sering muncul setelah usia semakin dewasa adalah, mengapa sekarang rasanya lebih sulit dan berat untuk mencari teman dibanding masa sekolah atau masih kuliah dulu?

Jawabannya, seiring usia makin matang, sebagian besar struktur hidup kita pun juga ikut berubah.

Dulu semasa berada di lingkungan sekolah, kita mau tidak mau dipaksa untuk berinteraksi dan beraktivitas bersama di lingkungan sekolah. Mulai dari belajar bersama di kelas, melakukan kegiatan ekstra kurikuler, sampai merayakan ulang tahun teman.

Namun, bagi orang dewasa, hidup tidak lagi dirancang untuk mendukung pembentukan ikatan tersebut secara otomatis.

Semakin dewasa, peran yang kita jalankan juga semakin banyak. Bukan hanya sebagai anak, tapi juga sebagai orang tua, pasangan, karyawan yang punya jam kerja tertentu, berbaur dengan lingkungan rumah, hingga tanggung jawab dalam mengurus rumah tangga.

Mungkin kamu pernah mengalami harus membatalkan acara perkumpulan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari akibat ada kondisi mendadak yang tak diharapkan, seperti anak yang tiba-tiba sakit, diberi pekerjaan dadakan, atau terbentur sama perjanjian yang sudah disepakati bersama keluarga.

Kondisi-kondisi tersebut itulah yang membuat hubungan dengan orang lain jadi sulit berkembang atau sekadar bertahan. Sesederhana karena keterbatasan waktu untuk bisa fokus di dalamnya.

Selain itu, menurut laman Life Unexpected, ada rasa canggung yang muncul. Keinginan mencari teman baru secara aktif sebagai orang dewasa kadang-kadang terasa memalukan atau membuat kita merasa seperti "orang kalah", terutama jika tidak berhasil menjalin koneksi yang dalam dengan cepat.

Asal-Usul Aturan 11-3-6

Di tengah rasa frustrasi tersebut, muncul sebuah panduan psikologi sosial yang dikenal sebagai aturan 11-3-6.

Menariknya, aturan ini dipopulerkan melalui sebuah studi yang dilakukan oleh merek permen mint legendaris, Fisherman’s Friend.

Meski terdengar tidak biasa, studi ini sangat kredibel karena bekerja sama dengan Robin Dunbar, antropolog dan psikolog evolusioner ternama dari University of Oxford.

Dunbar adalah sosok di balik "Angka Dunbar" (Dunbar’s Number), yang menyatakan bahwa manusia secara kognitif hanya mampu mempertahankan sekitar 150 hubungan sosial yang bermakna dalam satu waktu.

Aturan 11-3-6 ini merupakan turunan praktis dari penelitian tersebut untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dibutuhkan agar kita bisa naik kelas dari sekadar kenalan menjadi sahabat sejati.

Mengenal Isi Aturan 11-3-6

Secara teknis, aturan ini menetapkan "formula" minimum untuk membangun sebuah pertemanan yang solid. Angka-angka tersebut merujuk pada:

  • 11 interaksi: Jumlah minimal pertemuan atau komunikasi langsung.
  • 3 jam: Durasi rata-rata yang dihabiskan dalam setiap interaksi tersebut.
  • 6 bulan: Rentang waktu konsisten yang dibutuhkan agar keakraban benar-benar terbentuk.

Dalam aturan 11-3-6, ditekankan bahwa persabatan bukan berarti kedekatan atau chemistry yang secara instan bisa diperoleh. Persahabatan, dalam arti lebih serius, merujuk pada seberapa sering kita hadir untuk seseorang sampai kita tidak merasa seperti orang asing di depannya.

Misalnya, di media sosial kita mengikuti akun seorang influencer bukan berarti kita jadi dekat, atau ketika memberi sapaan dengan orang yang baru kita lihat di gym, itu pun tidak cukup membuat kita bisa berteman dengannya.

Dibutuhkan waktu bersama yang berkualitas agar kita berani menurunkan pertahanan diri, beralih dari basa-basi (small talk) ke percakapan yang mendalam (real talk), dan saling mengenal sisi lain satu sama lain.

Efek Aturan 11-3-6 yang Diharapkan

Tujuan akhir dari menerapkan aturan ini bukan sekadar mengumpulkan orang, melainkan membentuk struktur lingkaran sosial yang sehat dan seimbang.

Idealnya, seperti dinukil dari situs Social Monkey, kita disarankan memiliki lapisan pertemanan dengan struktur 11-6-3.

Angka 11 adalah jumlah teman biasa untuk keragaman perspektif, 6 teman baik sebagai penyangga sosial (social buffering) yang membantu kita mengurangi stres, dan 3 teman terdekat sebagai fondasi emosional utama kita.

Dengan memahami bahwa membangun pertemanan membutuhkan investasi waktu yang spesifik (sekitar 100–150 jam untuk teman baik), kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri jika merasa sulit mencari sahabat baru.

Efek yang diharapkan adalah berkurangnya rasa kesepian kronis dan meningkatnya ketahanan mental.

Memiliki setidaknya satu hingga tiga hubungan yang sangat tepercaya terbukti lebih menentukan kebahagiaan dan kesehatan fisik dibandingkan memiliki jaringan luas tetapi dangkal.

Aturan 11-3-6 tidaklah baku atau wajib diikuti, tetapi strategi ini bisa membantu melatih kita untuk bersabar. Dalam konteks ini, persahabatan dewasa dapat dianalogikan seperti arsitektur sosial yang proses pembangunannya membutuhkan waktu.

Jadi, kalau kamu sekarang sedang mencoba mendekati calon teman baru, ingat bahwa ini adalah proses jangka panjang yang menuntut konsistensi, alih-alih sekadar keberuntungan semata.

Artikel lainnya seputar pertemanan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait PERTEMANAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih