diajeng.id - Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa banyak orang di media sosial terlihat suka memamerkan harta kekayaan mereka?
Istilah pamer sekarang lebih sering disebut flexing, yaitu menunjukkan pakaian, tubuh, gaya hidup, mobil, rumah, atau hal lain yang dianggap bisa menaikkan ego.
Dalam perspektif sosial, flexing berkaitan erat dengan ego karena hampir segala sesuatu bisa dijadikan alat pembuktian diri.
Bukan hanya soal harta, bahkan pengalaman atau pencapaian pun kerap ditampilkan untuk menunjukkan kelebihan dibanding orang lain.
Dilansir Stratlab, dalam ilmu ekonomi, flexing dikenal sebagai konsumsi mencolok.
Istilah ini merujuk pada perilaku membelanjakan uang untuk barang atau jasa mewah dengan tujuan utama bukan pada fungsi, melainkan untuk menunjukkan status sosial dan kekuatan ekonomi.
Flexing: Upaya Mencari Validasi di Dunia Maya
Fenomena flexing ini tidak asing lagi di media sosial. Di ruang digital tak berbatas itu, banyak orang berlomba menampilkan versi terbaik dirinya untuk mendapat pengakuan atau validasi sosial.
Istilah flexing sendiri pertama kali disebutkan pada tahun 1899 oleh Thorstein Veblen dalam bukunya yang berjudul The Theory of the Leisure Class: An Economic Study in the Evolution of Institutions".
Menurut Thorstein, flexing mirip dengan teori pensinyalan dalam biologi evolusioner.
Sejak dulu, manusia dan hewan sama-sama suka “pamer” untuk menarik perhatian lawan jenis, contohnya burung merak suka memamerkan ekornya yang besar dan indah.
Bedanya, kini teknologi membuat sinyal itu makin kuat. Di media sosial, banyak orang ingin terlihat menarik, kaya, pintar, atau populer, seolah-olah hidup mereka selalu sempurna.
Sebuah penelitian di Journal of Experimental Social Psychology (2010) menunjukkan bahwa rasa minder sering mendorong orang membelanjakan uangnya untuk barang-barang bermerek.
Martin Lindstrom bahkan menulis, “semakin besar logo pada pakaian, semakin rendah harga dirinya.”
Pada akhirnya, sebagian besar konsumerisme bisa ditelusuri ke upaya membentuk citra diri agar terlihat lebih baik dan lebih menarik. Itulah mengapa pakaian bermerek akan selalu populer.
Ini adalah cara untuk memberi sinyal bahwa, "Hei, aku punya uang!". Padahal, kamu sebenarnya tidak punya uang atau bahkan telah menghabiskan sebagian besar uangmu untuk barang-barang yang sedang tren.
Unggahan liburan di media sosial juga tak pernah kehilangan daya tarik. Ia hadir sebagai bentuk modern dari flexing.
Psikologi di Balik Keinginan Flexing
Diajeng telah merangkum psikologi flexing ini berdasarkan penelitian dan penjelasan beberapa pakar di bawah ini:
1. Cari Validasi
Media sosial saat ini berperan penting dalam kehidupan seseorang, mulai remaja hingga orang dewasa berusia lanjut.Media sosial juga memungkinkan seseorang untuk menampilkan sisi lain kehidupan pribadinya. Dari situlah, hasrat akan validasi sosial mulai terasa.
Laman Psychologs menulis, orang-orang cenderung membagikan informasi tentang prestasi atau momen-momen paling keren dalam hidup mereka.
Semua ini pun menciptakan dunia ilusi bagi pengguna media sosial, ketika segala sesuatu begitu terkurasi dan terlihat sempurna tanpa cela sedikit pun.
Sebagian besar orang menginginkan validasi karena mereka ingin merasa penting dan diakui.
Lebih dari itu, media sosial telah muncul sebagai cara bagi orang-orang untuk merasakan harga diri mereka. Hidup kita sekarang bergantung pada suka dan komentar orang lain. Semakin banyak suka dan pengikut, semakin terkonfirmasi dan populer seseorang secara sosial.
Untuk mendapatkan validasi, orang dapat melakukan apa saja dengan membeli pengikut dan memalsukan kehidupan mereka.
Dalam hal ini, ada tekanan untuk menjadi sukses dan menarik. Individu mungkin mendasarkan harga diri mereka pada faktor eksternal seperti suka dan pengikut, alih-alih nilai dan sifat internal.
Oleh karena itu, mereka mungkin merasa perlu terus-menerus memamerkan pencapaian agar merasa diakui dan mempertahankan harga dirinya tersebut.
2. Mekanisme Pertahanan Patologis
Psikiater Prof. Nevzat Tarhan dari Uskudar University mengatakan bahwa hasrat untuk sering flexing adalah mekanisme pertahanan psikologis yang patologis. Mekanisme pertahanan patologis ini tidak sehat. Dengan kata lain, hal itu memberikan kenyamanan palsu.Pada saat itu, hal tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi orang yang sedang pamer.
Namun, kepribadian palsu terbentuk dalam diri seseorang setelah beberapa saat. Seseorang mulai dibebani oleh kepura-puraan yang terus-menerus. Begitu mereka kehilangan minat, bukan tidak mungkin mereka akan jatuh ke lubang keputusasaan.
3. Merasa Insecure
Dikutip dari Psychology Today, orang-orang sering menampilkan citra dirinya yang terlihat menarik bukan semata-mata karena narsis, tapi justru karena dia merasa tidak aman.Rasa insecure atau tidak aman ini membuat orang tersebut cenderung membanggakan kesuksesan sekaligus menyembunyikan kegagalan.
Saat unggahan tentang liburan, pencapaian kerja, atau momen bahagia lain mendapat respons positif, maka orang tersebut merasa lebih yakin bahwa hidupnya memang berharga dan layak ditunjukkan.
Reaksi itu memberi validasi yang bisa menutupi rasa tidak aman, meski hanya sementara.
Masalahnya, semua orang melakukan hal yang sama.
Akhirnya, yang terjadi saling membandingkan pencitraan masing-masing, dan tanpa sadar justru memperkuat rasa insecure bersama-sama dalam sebuah lingkaran yang tak ada habisnya.
4. Terlihat Atraktif
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dewi Ilma Antawati memaparkan tentang penyebab fenomena seseorang sering memamerkan kekayaan atau pamer di media sosial.Ilma menjelaskan bahwa perilaku pamer merupakan perilaku naluriah dalam menjalin hubungan. Ia mengibaratkan seekor burung merak yang memamerkan ekornya yang indah untuk menarik perhatian lawan jenis.
"Pada manusia, dalam psikologi sosial disebutkan bahwa memamerkan sesuatu yang dimiliki dilakukan untuk menunjukkan status sosial seseorang, dengan harapan akan lebih menarik di mata orang lain sehingga dapat memperluas pergaulan," ujar Ilma.
Perilaku flexing, lanjut Ilma, dapat berdampak pada hubungan dengan orang lain, terutama ketika berada di lingkungan baru.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang memamerkan apa yang dimilikinya, hal itu membuatnya sulit bergaul atau diterima oleh orang lain.
Dalam hasil penelitian, banyaknya komentar negatif pada konten media sosial yang memuat perilaku pamer keuangan juga berdampak pada peningkatan konsumerisme karena perilaku berbelanja dilakukan untuk meningkatkan status sosial, bukan semata-mata karena kebutuhan.
"Agar kita tidak menjadi pelaku, kita perlu mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri, menerima kekuatan dan memaafkan kelemahan, berusaha terus mengembangkan diri, dan meningkatkan empati dengan memperbanyak kegiatan sosial dan berbagi dengan sesama," pungkasnya.
Simak juga artikel lainnya terkait psikologi diri melalui tautan berikut ini: Psikologi.
Editor: Sekar Kinasih