diajeng.id - Sexual tension, dikutip dari laman Verywell Mind, adalah perasaan tarik-menarik yang kuat secara seksual antara dua orang yang belum diwujudkan dalam tindakan, sehingga menciptakan semacam “energi” atau ketegangan di antara kedua belah pihak.
Perasaan tersebut normal dan bisa jadi bagian sehat dari hubungan, terutama di fase awal atau dikenal dengan fase "bulan madu”.
Di tahap ini, rasa tertarik, ingin dekat, dan saling menggoda memang wajar terjadi, bahkan bisa memperkuat kedekatan emosional sebelum relasi berkembang jadi komitmen yang lebih matang.
Namun, dalam kondisi tertentu, sexual tension juga bisa menjadi tidak sehat, terutama dalam konteks hubungan yang mengandung relasi kuasa.
Seperti disampaikan pakar relasi Steven Ward di laman VeryWell Mind, "Sexual tension bisa menimbulkan stres dan ketegangan apabila salah satu pihak memanfaatkannya untuk mengendalikan atau memengaruhi pihak lain. Jika satu orang menginginkan hubungan seksual, sementara orang lainnya menjadikannya alat kuasa dan kontrol, ini bisa jadi masalah lebih besar seperti kemarahan, rasa kesal yang terpendam, dan permusuhan."
Risiko lainnya adalah ketidaknyamanan pada pihak yang tidak merasakan sexual tension.
"Sering kali orang tersebut bertindak agresif atau pasif-agresif untuk mengomunikasikan ketidaknyamanan dan rasa jijik mereka terhadap ketegangan seksual," tambah Ward.
Dalam kasus yang lebih serius, ini bisa berujung pada perilaku yang tidak sehat atau bahkan pelecehan jika batasan tidak dihormati.
Lantas, bagaimana jika ketertarikan seksual muncul pada teman, padahal kita sadar hal itu tidak seharusnya terjadi?
Situasi ini sebenarnya lebih umum dan dari yang kita kira. Rasa ketertarikan bisa muncul tanpa direncanakan ketika kita merasa nyaman, nyambung, saling terbuka, bahkan dengan teman-teman kita sendiri.
Tips Menghindari Sexual Tension yang Berisiko
Kalau kamu berada di posisi tersebut, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Sadari bahwa perasaan itu tidak harus ditindaklanjuti
Merasa tertarik itu manusiawi, akan tetapi tidak semua perasaan harus diwujudkan. Kamu tetap punya kontrol untuk memilih respons yang lebih sehat.2. Ingat alasan kenapa ini tidak boleh terjadi
Mungkin karena temanmu sudah punya pasangan, kamu tidak ingin merusak pertemanan, atau ada batasan nilai pribadi. Ingat kembali alasan ini supaya kamu bisa “menarik diri” saat emosi mulai mengambil alih.3. Batasi situasi yang memicu
Misalnya menghindari terlalu sering berdua, terutama dalam suasana yang intim. Sexual tension sering muncul di momen-momen seperti itu.4. Kurangi flirting dan kontak fisik
Tanpa sadar, kita suka “memelihara” ketegangan itu lewat candaan, sentuhan, atau perhatian khusus. Apabila kamu ingin menjaga batas, penting untuk bersikap lebih netral, tempatkan kembali hubungan kalian ke zona pertemanan.5. Jaga jarak secukupnya
Cara ini bukan berarti memaksa kita untuk menghilang dari radar pertemanan dengan sosok yang kita minati tersebut. Pada intinya, menjaga jarak dan memberi ruang bisa membantu kita meregulasi emosi jadi lebih stabil dan netral.6. Alihkan fokus ke hal lain
Coba kembali ke diri sendiri: hobi, tujuan hidup, atau bahkan membuka diri pada hubungan lain yang lebih sehat dan memungkinkan.7. Bicara dengan orang yang dipercaya
Coba pertimbangkan menceritakan situasi ini pada "penasihat" supaya kita bisa melihat isu dengan lebih objektif. Cerita ke teman atau pihak netral bisa membantu melihat situasi dengan lebih jernih.8. Komunikasikan, jika perlu
Dalam beberapa kasus, mengaku secara jujur tentang ketegangan yang muncul ini dapat mencegah kesalahpahaman dan menjaga batas. Namun begitu, perlu pertimbangkan caranya dengan matang karena setiap kata yang disampaikan berpotensi mengubah dinamika hubungan.Sexual tension dengan teman dapat dianalogikan sebagai persimpangan. Pengalaman tersebut bisa jadi awal untuk sebuah hubungan yang serius, atau malah jadi "ujian" untuk menjaga batas.
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Yang penting, tetaplah sadar, jujur pada diri sendiri, dan menghargai konsekuensinya.
Kalau kamu sendiri, apa kamu punya pengalaman tentang sexual tension dengan teman atau orang yang tidak seharusnya?
Simak juga artikel lainnya seputar relationship di sini.
Editor: Sekar Kinasih