Menuju konten utama

Trauma Finansial: Saat Hubungan Kita dengan Uang Menyisakan Luka

Pengalaman kemiskinan, kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, atau ketidakstabilan ekonomi di masa lalu dapat meninggalkan jejak psikologis sampai masa kini.

Trauma Finansial: Saat Hubungan Kita dengan Uang Menyisakan Luka
Header DIajeng Trauma Finansial. tirto.id/Quita

diajeng.id - Sebagian dari kita mungkin pernah atau sedang merasakan bagaimana kehidupan yang dijalani butuh banyak kesiapan finansial.

Tanpa kesiapan finansial yang cukup, kita bisa jadi berada dalam tekanan berat karena, misalnya, terus-terusan menghindar tagihan utang, menahan diri berbelanja kebutuhan, sampai tidak mampu menikmati makan sehari-hari yang layak.

Rasa kewalahan yang muncul bukan tidak mungkin memengaruhi kesehatan mental dan fisik di kemudian hari, terutama ketika situasi ekonomi kembali tidak menentu. Bagi beberapa orang, pengalaman tersebut dapat dikaitkan dengan trauma finansial.

Apa Itu Trauma Finansial?

Menurut Psychology Today, trauma finansial adalah kondisi tekanan emosional, kognitif, dan fisik yang muncul sebagai respons terhadap ancaman nyata maupun yang dirasakan terhadap keamanan keuangan seseorang.

Situasi seperti kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, atau kekhawatiran akan resesi tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga dapat menghidupkan kembali luka keuangan di masa lalu.

Meski bukan diagnosis klinis resmi, trauma finansial memiliki kemiripan dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD), seperti kewaspadaan berlebihan, kecenderungan menghindari urusan keuangan, serta reaksi emosional yang intens.

Pengalaman kemiskinan, kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, atau ketidakstabilan ekonomi di masa lalu dapat meninggalkan jejak psikologis yang kembali aktif ketika seseorang dihadapkan pada tekanan ekonomi saat ini.

Fenomena tersebut bukan sekadar istilah populer. Ini adalah pengalaman psikologis yang nyata dan diakui oleh para ahli kesehatan mental.

Kristen Lee, dosen Northeastern University, menjelaskan bahwa gejolak ekonomi seperti inflasi dan ancaman resesi dapat menjadi pemicu emosional yang kuat.

Menurutnya, banyak orang sulit berkonsentrasi, mengalami kecemasan, hingga merasa kehilangan arah ketika menghadapi tekanan finansial yang terus-menerus.

Lee menekankan bahwa trauma finansial sering disalahpahami.

Trauma tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar dan dramatis. Ada pula trauma yang tumbuh perlahan, berlangsung lama, dan diam-diam menggerogoti kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, trauma finansial termasuk apa yang Lee sebut sebagai “trauma kecil” yang dampaknya justru luas karena memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa aman, dan mengambil keputusan.

“Saya menganggap trauma finansial termasuk dalam kategori itu. Sesuatu yang berlangsung lama dan sangat mengganggu, yang memengaruhi kehidupan sehari-hari kita,” katanya.

Ketika pengeluaran terus melampaui pendapatan, atau ketika seseorang berulang kali berada dalam situasi kekurangan, tubuh dan pikiran bisa masuk ke mode bertahan hidup yang sama seperti respons trauma lainnya.

Respons tersebut, lanjut Lee, bisa muncul dalam bentuk sulit tidur, mudah gelisah, kecenderungan menghindari tagihan, hingga pikiran yang terus berputar memikirkan uang.

“Sering merenung bisa menjadi contoh respons traumatis,” imbuh Lee.

Dalam jangka pendek, reaksi ini terasa wajar. Namun, apabila dibiarkan, stres finansial dapat membuat seseorang membeku, merasa tak berdaya, dan semakin terjebak dalam kondisi yang merugikan dirinya sendiri.

Akhirnya, trauma finansial bukanlah semata persoalan uang, tapi juga luka psikologis yang membentuk relasi seseorang dengan rasa aman dan masa depan.

Faktor Trauma Finansial

Trauma finansial jarang muncul dari satu peristiwa tunggal.

Kemunculannya berasal dari lapisan pengalaman, pengamatan, dan sistem yang membingkai relasi seseorang dengan uang sejak lama.

Dilansir dari laman Forbes, setidaknya ada enam sumber utama trauma finansial yang kerap luput disadari.

1. Trauma Finansial Antargenerasi

Luka keuangan dapat diwariskan, bukan hanya melalui cerita keluarga, tetapi juga melalui sikap, keyakinan, dan respons tubuh terhadap uang.

Stres dan kecemasan finansial yang dialami generasi sebelumnya dapat membentuk cara seseorang merasakan uang, bahkan tanpa pernah mengalami langsung peristiwa traumatis awalnya.

2. Trauma Finansial Tidak Langsung

Seseorang bisa membangun ketakutan atau rasa malu terhadap uang hanya dengan mengamati, misalnya menyaksikan orang tua bertengkar soal keuangan, mendengar narasi ekstrem tentang utang, atau melihat bagaimana masyarakat memperlakukan orang berdasarkan status ekonominya.

Pengalaman observasional ini sering kali memicu penghindaran dan kecemasan finansial di kemudian hari.

3. Trauma Akibat Ketidakstabilan Keuangan atau Kemiskinan

Kehilangan pekerjaan, penggusuran, atau hidup dalam kekurangan berkepanjangan dapat meninggalkan bekas psikologis yang bertahan lama, bahkan ketika kondisi ekonomi seseorang telah membaik.

Dalam situasi tersebut, tubuh dan pikiran tetap berada dalam mode bertahan hidup.

4. Trauma Finansial di Tempat Kerja

Diskriminasi upah, eksploitasi, ruang kerja tidak aman, hingga tuntutan budaya kerja yang menekan dapat menciptakan luka finansial yang sering dianggap “normal” karena dibungkus kewajiban mencari nafkah.

5. Trauma Finansial Institusional

Sistem keuangan dan pendidikan yang tidak adil, mulai dari praktik pinjaman merugikan hingga pengucilan finansial, dapat menumbuhkan ketidakpercayaan mendalam terhadap lembaga keuangan.

Trauma ini tidak selalu hilang hanya dengan literasi keuangan, karena akarnya bersifat psikologis dan struktural.

6. Trauma Finansial Keluarga dan Masyarakat

Norma budaya, ekspektasi gender, kewajiban finansial dalam keluarga, hingga praktik penipuan atau penyalahgunaan keuangan dapat memperkuat rasa bersalah, takut, dan terikat secara emosional pada uang.

Tanda-Tanda Trauma Finansial

Trauma finansial kerap bersembunyi di balik perilaku sehari-hari yang tampak biasa.

Dalam laman Therapist disebutkan, beberapa orang menghindari urusan keuangan sama sekali. Lainnya ada yang tidak mau membuka mengecek dokumen tagihan, menunda membayar tagihan, atau mengabaikan kewajiban pajak.

Ada pula yang justru bereaksi sebaliknya, yaitu dengan belanja berlebihan tanpa perhitungan, seolah-olah mencari rasa aman sesaat dari pengeluaran.

Dalam bentuk lain, trauma ini bisa muncul sebagai kecenderungan menimbun barang, didorong oleh ketakutan akan kekurangan di masa depan.

Ketika respons terhadap uang terasa ekstrem dan sulit dikendalikan, sering kali ada luka emosional yang belum tersentuh di baliknya.

Penyembuhan trauma finansial membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

Merawat kesehatan mental menjadi langkah awal yang penting, termasuk melalui sesi konsultasi dengan terapis yang memahami relasi antara trauma dan uang.

Di saat yang sama, membangun literasi keuangan dapat membantu menciptakan rasa kendali dan mencegah stres ekonomi berulang.

Edukasi finansial, perencanaan yang lebih sadar, dan sikap proaktif terhadap kondisi keuangan bukan hanya membantu pemulihan pribadi, tetapi juga berperan memutus siklus trauma agar tidak diwariskan ke generasi berikutnya.

Berita lainnya yang terkait trauma juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih