diajeng.id - Selama ini, kita banyak menemukan penggambaran keluarga yang sempurna dari iklan, film, sampai keseharian influencer di media sosial.
Mereka semua seakan-akan berlomba-lomba menyajikan citra harmonis sebuah keluarga, seperti orang tua yang selalu hadir di setiap kegiatan anak, momen makan malam yang hangat, dan anak-anak yang akur.
Akibatnya, bukan tidak mungkin, banyak pula pemirsa atau audiens yang berekspektasi tinggi menciptakan keluarga yang terlihat "normal" dan sempurna.
Padahal, realitas acap kali jauh lebih kompleks.
Ada ayah yang absen, ibu yang suka menuntut, orang tua yang terang-terangan pilih kasih atau terlalu perhitungan, anak yang kasar pada orang tuanya.
Setiap keluarga memiliki dinamikanya, dan kadang-kadang, dinamika tersebut menyimpan elemen yang tidak sehat atau toxic.
Pada tingkat tertentu, dinamika dalam keluarga juga bisa sampai ke tahap disfungsi.
Orang tua bisa jadi tengah bergulat dengan kecanduan tertentu, gangguan emosi, pola asuh yang kaku, atau hadir secara fisik tetapi tidak tersedia secara emosional.
Masalah dalam rumah biasanya disapu bersih, tidak boleh dibicarakan, bahkan anak yang mencoba mengungkapkannya bisa dipermalukan atau dijadikan kambing hitam.
Pada tingkat lebih berat, konflik dan kekerasan menjadi hal biasa, dengan emosi orang tua yang meledak-ledak dan kecenderungan mereka mengendalikan anggota keluarga lainnya, alih-alih menghargai suaranya.
Anak-anak yang tumbuh dalam situasi ini sering merasa takut, malu, dan tidak berharga.
Luka masa kecil ini berisiko terbawa hingga dewasa dalam bentuk kecemasan, depresi, atau trauma yang menetap.
Benarkah Semua Keluarga Disfungsional?
Menurut psikoterapis Kaytee Gillis, LCSW dalam tulisannya di Psychology Today, kita semua pada dasarnya cenderung ingin mencari validasi, atau sekadar kepastian, tentang kondisi disfungsional di dalam keluarga kita.
Terkait itu, Gillis menegaskan perlunya berhati-hati menggunakan istilah disfungsi dan memaknainya.
"Melabeli semua perilaku buruk sebagai disfungsional bisa terasa seperti mengabaikan pengalaman orang-orang yang benar-benar pernah hidup dalam situasi disfungsional yang traumatis,” tulis Gillis.
Menurut Gillis, kita perlu memahami adanya spektrum perilaku di dalam dinamika keluarga.
Perilaku kerabat yang suka menyampaikan guyonan kasar dan tidak pantas, atau saudara yang sesekali marah lalu menyesal, juga bisa termasuk contoh-contoh disfungsi ringan dalam keluarga.
Nah, di dalam keluarga yang sehat, konflik sehari-hari seperti di atas bisa menjadi ruang untuk tumbuh. Pertengkaran bisa berakhir dengan pemahaman baru, permintaan maaf, atau upaya memperbaiki hubungan.
Perbedaan utama antara disfungsi “normal” dan disfungsi traumatis sebenarnya terletak pada intensitas dan dampaknya.
Menurut Gillis, satu atau dua perilaku tidak sehat biasanya masih lumrah.
Di satu sisi, ada orang-orang yang tingkat disfungsi keluarganya lebih berat karena mereka menerima perlakuan abusif yang meninggalkan jejak luka dan trauma.
Disfungsi keluarga yang traumatis ini melibatkan pola perilaku kekerasan fisik dan emosional, pengabaian, dan manipulasi ekstrem dalam jangka waktu lama.
Akibatnya, ada luka dan trauma berkepanjangan bagi anggota keluarga di dalamnya, terutama anak.
Jejaknya bisa tertinggal hingga dewasa, memengaruhi cara seseorang melihat diri sendiri, membangun hubungan, dan memahami dunia.
Di balik berbagai tingkat disfungsi yang ada, mengakui bahwa keluarga kita tidak sempurna bukanlah bentuk durhaka.
Mengenali dinamika itu bukanlah upaya untuk menyalahkan keadaan atau memperparah luka, melainkan bentuk pengakuan akan realitas yang menyakitkan atau membuat sedih.
Tidak ada tips atau trik sederhana untuk memperbaiki pola yang sudah tertanam bertahun-tahun.
Langkah terpenting dan paling berani adalah mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog atau terapis bisa jadi langkah aman dan penuh keberanian untuk memulai pemulihan.
Berita lainnya seputar keluarga juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih