Menuju konten utama

Tren TikTok: Ngopi bareng Dirimu di Masa Lalu

Tren ini mengajak kita kembali menemui diri kita di masa lalu dan membayangkan sedang bercakap-cakap dengan sendiri di masa muda.

Tren TikTok: Ngopi bareng Dirimu di Masa Lalu
Header Diajeng Ngopi dengan Diri Sendiri. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Coba bayangkan kamu sedang menuju ke warung kopi favoritmu, mencium aroma khas kopi yang baru diseduh, sambil matamu menjelajah mencari sosok orang lain untuk ditemui.

Lalu, di ujung kafe, kamu melihat seorang anak atau remaja yang wajahnya tidak asing.

Kaki anak itu berayun dan tangannya yang kecil memegang cangkir kopi yang berukuran agak besar untuknya. Ya, itulah dirimu, versi kecil dulu.

Itulah inti dari tren viral di TikTok bertajuk "Coffee date with my younger self".

Situs KMA Therapy menjelaskan, tren yang bermula dari puisi karya penulis Jennae Cecelia ini mengajak kita melakukan eksperimen pikiran untuk kembali menemui diri kita di masa lalu dan membayangkan sedang bercakap-cakap dengan diri sendiri dari masa muda.

Daya Tarik Percakapan dengan Diri Sendiri

Tren ini kerap dibungkus dalam format video estetis dengan latar lagu Sweet Heat Lightning dari Gregory Alan Isakov.

Namun, lebih dari itu, konten-konten tersebut dapat dieksplorasi sebagai bentuk refleksi mendalam yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern masa kini.

Kita diizinkan untuk memilih versi diri di usia tertentu, mungkin saat masih berwajah lugu zaman SMP, atau saat sedang "mencari arah" di awal usia 20-an. Dari situ, kita kemudian memulai percakapan seperti sedang ngobrol dengan teman lama.

Beberapa contohnya, seperti ditulis Mancunion, seorang mahasiswa yang tengah berusaha memberi nasihat dirinya agar tidak terlalu obsesi pada produktivitas dan bisa lebih menikmati kehidupan masa mudanya.

Contoh lain yang menyentuh adalah ketika seseorang meyakinkan versi remajanya yang selalu merasa tidak cocok saat berada di tempat mana pun, misalnya dengan menyatakan, "Kamu tahu enggak? Nanti kamu akan sadar sendiri kalau kamu tidak pernah salah tempat; kamu hanya tumbuh jadi orang yang tidak ditakdirkan untuk sekadar 'pas' di kerumunan."

Melalui percakapan-percakapan imajiner ini, kita memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit yang dulu sering datang menghantui, seperti "Apa kita bakal jatuh cinta?" atau, "Apa hidupku akan jadi lebih mudah?"

Manfaat untuk Kesehatan Mental

Dari sudut pandang psikologis, menurut Real Simple, tren ini mirip dengan teknik "empty chair" (kursi kosong) yang sering digunakan dalam terapi untuk memproses emosi secara mendalam.

Ada beberapa manfaat utama bagi kesehatan mental yang bisa didapatkan, di antaranya:

Menumbuhkan Kepedulian pada Diri Sendiri (Self-Compassion)

Kita sering menjadi kritikus paling kejam bagi diri sendiri. Namun, saat duduk di hadapan versi kecil kita, kita cenderung bisa mempertimbangkan perspektif lain sekaligus menunjukkan apa saja langkah terbaik yang sudah kita lakukan.

"Ketika kamu mencoba membingkai dirimu di masa lalu sebagai orang luar yang mendengar ceritanya, maka akan jauh lebih mudah untuk melihat apa saja pencapaian yang sudah kamu peroleh,” kata Terapis Afton Turner kepada VeryWell Mind.

Mengakui Ketahanan (Resiliensi)

Latihan ini mengingatkan kita bahwa kita telah berhasil bertahan melewati 100 persen hari-hari tersulit yang pernah kita jalani.

Sebagai Terapi Penyembuhan Luka Lama

Kita berkesempatan memberikan kenyamanan atau validasi yang mungkin tidak kita dapatkan saat itu, sehingga membantu menyembuhkan bagian dari diri yang masih membawa luka tersebut.

Tidak Semua Orang Suka "Ngopi"

Meski bermanfaat, tren ini tidak lepas dari kritik. Salah satunya datang dari Daisy Jones, penulis di Vogue. Daisy menyatakan keengganannya untuk bertemu versi dirinya yang dulu, merasa bahwa proses tersebut bisa menjadi bentuk narsisme yang melelahkan atau malah memicu penyesalan yang tidak perlu.

Bertemu diri masa lalu, menurutnya, dapat memicu ketidakpuasan dengan masa kini. Terutama apabila kita merasa tidak memenuhi ekspektasi diri kita yang dulu.

"Kenapa aku harus bertemu diriku versi mini untuk minum kopi? Aku bahkan nggak mau tahu seperti apa diriku saat tua nanti. Semua ini malah bikin aku cemas,” tulis Daisy.

Tak hanya itu, Daisy menambahkan, ada pula yang mungkin akan merasa ketakutan jika bertemu dirinya di masa muda. Akibatnya, yang muncul adalah perasaaan kecewa dengan perubahan identitas saat ini, seperti gaya hidup atau pilihan karier, yang akhirnya malah menimbulkan rasa bersalah.

Pada akhirnya, "ngopi dengan diri sendiri" adalah pilihan. Apa kamu memilih untuk memeluk masa lalu, atau lebih suka menatap ke depan? Latihan ini mengingatkan kita bahwa perjalanan setiap orang unik, penuh pasang-surut, dan selalu layak untuk dihargai.

Kalau kamu sedang memegang cangkir kopi sekarang, coba bayangkan dia duduk di depanmu. Apa satu hal yang paling ingin didengarnya dari kamu hari ini? Siapa tahu, langkah ini bisa menjadi proses awal menuju penerimaan diri yang lebih utuh. Bagaimana menurutmu?

Simak juga artikel menarik lainnya terkait tulisan di atas di tautan ini.

Baca juga artikel terkait MENTAL HEALTH atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih