diajeng.id - Kita tumbuh dengan latar belakang keluarga, karakter, dan kepribadian yang berbeda-beda. Artinya, cara berpikir dan berinteraksi kita pun unik antara satu sama lain.
Dalam proses pendewasaan, kita akan menemukan orang-orang yang bisa menerima diri kita apa adanya sehingga memungkinkan jalinan pertemanan yang bertahan lama.
Namun, beberapa dari kita mungkin mengalami kesulitan untuk “nyambung”, berbaur, atau benar-benar menjadi bagian dari lingkungan sekitar.
Sebenarnya, apa yang membuat kita kesulitan untuk “fit in”? Bagaimana cara membaur yang sehat sehingga kita tetap nyaman jadi diri sendiri sekaligus mampu membangun koneksi yang berarti dengan orang lain?
Kenapa Kita Kesulitan Membaur?
Berikut beberapa alasan mengapa sebagian dari kita merasa kesulitan untuk “fit in” atau membaur dengan sekitar. Apa kamu bisa relate dengan salah satunya?
1. Ketidaksesuaian antara Kepribadian dan Tuntutan Lingkungan
Salah satu penyebab utama di balik kesulitan membaur adalah tuntutan lingkungan yang tidak selaras dengan kepribadian diri.
Misalnya, kamu yang punya kecenderungan introvert merasa tidak nyaman saat harus menjalankan peran yang menuntut sikap ekstrovert, seperti menyapa banyak orang atau memimpin interaksi sosial.
Ketidaksesuaian ini membuat segala aktivitas terasa melelahkan secara emosional karena bertentangan dengan sifat alami diri.
2. Perbedaan Nilai, Cara Berpikir, dan Preferensi Pribadi
Setiap orang memiliki cara pandang dan preferensi yang berbeda-beda, baik itu terkait minat intelektual, selera hiburan, sampai politik.
Ketika lingkungan menuntut pola interaksi atau sikap yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut, kamu tidak akan menemukan relevansi. Akibatnya, interaksi jadi terasa dipaksakan dan tidak mengalir. Koneksi pun sulit terbangun secara alamiah.
3. Tekanan untuk Beradaptasi Secara Berlebihan
Contoh ini bisa dilihat dalam konteks pekerjaan. Misalnya, kamu dipaksa menjalankan tugas yang tidak sesuai deskripsi pekerjaanmu atau yang kamu minati.
Tekanan demikian membuatmu merasa harus “bermain peran” tertentu, alih-alih jadi diri sendiri.
4. Respons Emosional Negatif
Ketika berada dalam situasi yang tidak sejalan dengan prinsip atau kepribadianmu, kamu bisa jadi mengalami berbagai emosi negatif seperti cemas, takut, tidak nyaman, hingga lelah.
Pengalaman sosial yang kamu lalui pun akan terasa berat dan tidak menyenangkan, sehingga memperkuat sensasi ketidakcocokan dengan lingkungan.
5. Pengalaman tidak Menyenangkan Sebelumnya
Pengalaman buruk dalam situasi serupa dapat memengaruhi cara kita meresponsnya di kemudian hari.
Ketika pernah merasa tidak nyaman atau gagal dalam memenuhi tuntutan sosial, kita cenderung membawa ingatan tersebut dan menjadi lebih ragu atau terlalu berhati-hati dalam berinteraksi.
6. Kebutuhan Waktu dan Energi untuk Beradaptasi
Meskipun kita dapat beradaptasi seiring waktu, proses tersebut membutuhkan energi yang besar. Adaptasi yang terus-menerus ini bisa terasa melelahkan dan membuat kita tetap merasa tidak sepenuhnya “fit in.”
Bagaimana Cara Membaur yang Sehat??
Tidak ada yang mengharuskan kita untuk “fit in” di setiap lingkungan. Meski begitu, perasaan tidak cocok memang cenderung bikin kita tidak nyaman.
Untungnya, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membantu kita lebih percaya diri. Kamu tertarik mencoba?
1. Kelola Rasa Cemas
Merasa tidak bisa “fit in” sering berkorelasi dengan kecemasan atau depresi yang membuat kita cenderung menarik diri. Di sisi lain, kondisi emosional yang tidak stabil juga bisa memengaruhi cara orang lain merespons kita.
Oleh karena itu, penting untuk mulai mengelola perasaan tersebut, baik dengan bantuan profesional maupun dengan belajar menjadi support system terbaik bagi diri sendiri.
2. Bangun Kepercayaan pada Orang Lain
Pengalaman buruk di masa lalu bisa membuat kita sulit percaya pada orang lain.
Belajar dari pengalaman lalu, kita memang perlu berhati-hati. Namun, curiga berlebihan malah berpotensi menghambat kelancaran hubungan sosial.
Pelan-pelan, cobalah buka diri. Beri kesempatan pada orang lain untuk menunjukkan niat baik mereka.
3. Tingkatkan Percaya Diri
Perasaan tidak cocok dengan lingkungan sering membuat kepercayaan diri menurun. Coba ingat kembali pencapaian yang pernah kamu raih. Sekecil apapun itu, apresiasi dirimu. Hal ini bisa membantumu melihat diri sendiri secara lebih positif saat berinteraksi.
4. Perhatikan Penampilan
Meski terkesan sepele, penampilan bisa berpengaruh pada rasa percaya diri. Perubahan kecil seperti merapikan gaya berpakaian atau merawat diri dapat membuatmu merasa lebih nyaman dan yakin saat bertemu orang lain.
5. Tampilkan Sikap yang Terbuka dan Ramah
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi. Usahakan untuk terlihat santai, tersenyum, dan menjaga kontak mata agar terlihat lebih mudah didekati. Pada waktu sama, tetaplah bersikap santai tanpa harus memaksakan diri.
6. Temukan Orang dengan Minat yang Sama
Berada di lingkungan dengan orang-orang yang memiliki kesamaan minat akan memudahkan kamu untuk terhubung satu sama lain. Kesamaan ini bisa menjadi jembatan awal agar kalian lebih akrab.
7. Asah Kemampuan Bersosialisasi
Kalau selama ini kamu merasa kesulitan berbaur, ini bisa jadi karena kurangnya pengalaman dalam bersosialisasi.
Tenang saja, keterampilan ini bisa dilatih secara bertahap. Mulai dari interaksi kecil dengan orang-orang terdekatmu, lalu tingkatkan di level yang lebih kompleks di komunitas yang kamu minati.
8. Berani Mencoba Hal Baru
Membuka diri pada pengalaman baru bisa memperluas wawasan sekaligus memperbesar peluang bertemu orang-orang baru. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah menemukan mana lingkungan yang menurutmu paling cocok.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih