Menuju konten utama

Trotter Tales: Semangat Penerbit Indie Merawat Ekosistem Zine

Zine, menyerupai majalah mini, biasanya dicetak mandiri dan terbatas. Isinya berbagai macam, dari foto, ilustrasi, cerita, puisi, riset, sampai kolase.

Trotter Tales: Semangat Penerbit Indie Merawat Ekosistem Zine
Koleksi zine dari penerbit independen asal Rawamangun, Trotter Tales Publishing, ditampilkan di lapak Raw Zine Library yang dapat diakses oleh publik di Warung Fotkop Cipete pada 16-18 Oktober 2026. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

diajeng.id - Di sudut warung kopi di Cipete yang biasa menjadi tempat berkumpul kawula muda Jaksel, lembaran-lembaran kertas berukuran A5 dan A6 tersusun rapi di atas meja. Beberapa bersampul cetak dengan warna-warni mencolok, sementara yang lain sekadar fotokopi hitam-putih.

Lapak baca buku gratis di ruang publik mungkin sudah lazim kita temukan di berbagai sudut kota. Namun, yang ditawarkan kali ini berbeda. Alih-alih novel populer atau buku nonfiksi dari rilisan penerbit besar, lapak bernama Raw Zine Library ini menampilkan zine, dibaca ‘zin’, yang diterbitkan secara mandiri dan dicetak dalam jumlah terbatas.

Acara yang berlangsung di Warung Fotkop Cipete pada 16-18 Oktober 2026 ini merupakan pre-event menuju gelaran utama Raw Zine Festival yang digagas oleh Trotter Tales, studio penerbitan artistik lokal. Lewat lapak baca zine gratis ini, publik diajak berkenalan lebih dekat dengan semesta zine.

Zacharya Griselda (25) dari Trotter Tales mengatakan bahwa Raw Zine Library mendulang inspirasi dari konsep lapak baca buku gratis yang belakangan ini marak diinisiasi oleh komunitas dan individu.

“Melihat dari tren ‘being nerd is cool again’, menjadi nerd dan tukang baca menjadi sesuatu yang keren sekarang, dan orang-orang yang aku liat berbondong-bondong, ‘Ayo aku buka lapangan disini, aku buka lapangan, di GOR,’” jelas Griselda.

Terdapat 103 zine yang bisa dibaca di Raw Zine Library. Semuanya merupakan koleksi Trotter Tales. Beberapa diantaranya adalah karya dari Hai Rembulan, Ula Zuhra, KontraS, COMRADE.

“Itu semua ya isinya bener-bener pengetahuan alternatif. Walaupun format zine pendek kecil. Banyak cerita, pengalaman, dan pengetahuan,” lanjut Griselda.

Raw Zine Library di Cipete

Pengunjung melihat koleksi zine terbitan Trotter Tales yang ditampilkan di lapak Raw Zine Library di Warung Fotkop Cipete pada Jumat (16/10). (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Salah satu pengunjung yang ditemui Diajeng Tirto, Putri (26), mengaku sudah familiar dengan lapak baca buku gratis di ruang publik. Namun, pengalaman menyambangi lapak baca zine gratis memberikan sensasi yang berbeda baginya.

Menurut Putri, keberadaan lapak ini menjadi jembatan untuk menikmati karya-karya zine unik yang mengeksplorasi bentuk hingga tekstur fisik sesuatu yang tak bisa dirasakan melalui layar digital.

“Aku sebenarnya suka banget ke lapak baca gratis dan perpustakaan. Selama ini aku ikuti beberapa akun zine di media sosial, tapi kan tidak semua kreator menerbitkan karyanya secara digital. Ada hal-hal seperti tekstur dan eksplorasi bentuk kertas yang cuma bisa dirasakan langsung. Jadi, kehadiran lapak ini bikin aksesnya lebih inklusif dan bisa dinikmati siapa saja,” tutur Putri.

Menciptakan Ekosistem Zine untuk Seniman Muda

Zine mungkin belum menjadi publikasi yang akrab di telinga sebagian orang. Media cetak berukuran kecil ini biasanya dibuat sendiri dan dicetak dengan jumlah terbatas. Isi zine bisa berbagai macam, dari foto, ilustrasi, cerita, puisi, riset, sampai kolase.

Berbeda dari penerbit pada umumnya yang berada di bawah perusahaan percetakan dan mungkin terikat batasan atau aturan tertentu, penerbit independen memiliki kebebasan lebih besar dalam menentukan karya yang diterbitkan, termasuk dalam hal pengaturan sensor.

Zine pun bisa menjadi ruang yang merdeka bagi krator atau penciptanya untuk membicarakan apa saja, mulai dari isu personal, kritik sosial, seni, politik, ekonomi, budaya, kesetaraan gender, hingga cerita-cerita akar rumput.

Raw Zine Library di Cipete

Suasana Raw Zine Library pada Jumat (16/9) di Warung Fotkop, Cipete, Jakarta Selatan. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Griselda membangun studio penerbitan mandiri bernama Trotter Tales Publishing pada 2024 yang berbasis di Rawamangun, Jakarta Timur.

“Aku belajar dari senior-seniorku di Raws Syndicate, Bandung, dan di SOKONG! Yogyakarta tentang penerbitan mandiri dan kenapa kita harus menerbitkan mandiri,” kata Griselda.

Di mata Griselda, ekosistem di industri penerbitan hari ini sedang kurang sehat; terlalu didominasi oleh relasi kuasa yang bertumpu pada patronase senioritas, atau istilahnya “kultur abang-abangan".

"Abang-abangan skena, kuratorial itu selalu tahu siapa yang perlu mereka highlight, siapa yang butuh eksposur. Sementara di zaman sekarang, eksposur ibarat makanan; sesuatu yang mahal. Kalau dulu ada istilah agama, tahta, harta, wanita, sekarang ada eksposur," ujar Griselda.

Eksposur mengatur algoritma, membentuk persepsi publik, dan menentukan apakah seorang seniman bisa bertahan hidup atau tidak. Namun, mekanisme siapa yang mendapat panggung acap kali tidak berdiri di atas asas keadilan karya. Menurut Griselda, pihak-pihak yang memegang kendali editorial dan kuratorial seni paham betul siapa yang harus "dijilat atau digigit".

"Untuk naik ke atas, kamu harus berteman dengan si ini dan si itu. Begitu sampai di atas, baru bisa 'bercocot-kencono' bicara seolah-olah paling paham seni, padahal yang dilakukan sebelumnya hanyalah menjilat. Mereka menyoroti yang tua-tua, lalu di mana panggung untuk para seniman muda yang emerging?" ujar Griselda.

Kondisi inilah yang kerap menjadi kanker bagi para seniman muda. Tak ada pilihan lain selain menciptakan panggung, pasar, dan ekosistemnya sendiri.

Trotter Tales juga lahir sebagai kritik terhadap eksklusivitas publikasi seni. Berangkat dari latar belakang fotografi, Griselda merasakan sendiri betapa mahalnya merayakan sebuah karya dalam bentuk buku cetak.

Griselda mencontohkan buku foto The Ballad of Sexual Dependency (1985) karya Nan Goldin, sebuah karya ikonik yang sangat ingin dimilikinya tetapi dibanderol dengan harga fantastis.

"Untuk menikmati seni, kamu harus datang ke galeri atau beli buku mahal. Menurutku yang aku percayai seni itu harusnya untuk semua orang. There’s no gatekeeping in art dan itu yang aku terapkan di Trotter Tales," tegas Griselda.

Dua keresahan itulah yang kemudian dikawinkan, antara perlawanan terhadap eksklusivitas kuratorial dan keinginan meruntuhkan sekat aksesibilitas seni. Trotter Tales pun lahir untuk merangkul rekan-rekan seangkatan, para kreator Gen-Z, hingga seniman lintas disiplin, mulai dari penyair, seniman kolase, fotografer, hingga seniman grafis.

Griselda berharap Trotter Tales bisa menjadi ruang aman dan merdeka untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan "gila" yang kerap tidak sesuai sensor galeri maupun penerbitan besar.

Ada beberapa jenis penerbitan di Trotter Tales. Penerbitan utama dilakukan oleh satu orang. Selain itu, penerbitan kolaborasi, misalnya bersama komunitas fotografi Kelas Pagi. Ada pula zine kolaborasi dengan publik sebagai kontributornya, seperti “Radar Biru” dan “Gemuruh Fajar”.

Zine terbitan Trotter Tales harganya berkisar dari Rp137 ribu hingga Rp237 ribu. Publikasi zine mereka selama ini juga bisa dititipkan di toko buku independen POST Santa di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Raw Zine Library di Cipete

Zacharya Griselda (25) dari Trotter Tales mengenalkan zine kepada pengunjung. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Raw Zine Festival di Rawamangun, Jakarta Timur

Pasar seni atau creative art market di Jakarta perlu diakui sudah tergolong mapan. Setiap tahun, kita diberi segudang pilihan untuk menikmati kreasi kreatif dari teman-teman kreator di bidang ilustrasi, desain, komik, atau kerajinan, sebut di antaranya melalui JICAF, Artket, Semasa, Comifuro.

Di tengah semaraknya creative art market yang ada, ekosistem zine masih cenderung luput dari sorotan. Griselda menyebut Bandung Zine Festival sebagai perhelatan paling terkenal di seantero Indonesia, berlangsung dua tahun sekali.

“Terakhir kali Trotter buka lapak di Bandung Zine Festival, aku bahagia. Itu satu pengalaman melapak Trotter paling mantap,” kenang Griselda.

Griselda mengungkapkan kekagumannya terhadap euforia yang tercipta selama Bandung Zine Festival berlangsung. Baginya, acara tersebut menjadi ruang perjumpaan yang hidup untuk membangun jejaring sekaligus bertukar karya dengan sesama kreator zine.

Keresahan itulah yang mendorong Griselda menginisiasi Raw Zine Festival di Rawamangun, Jakarta Timur. Pemilihan nama "Raw" tidak hanya merujuk pada akronim Rawamangun, tetapi juga mengadopsi makna harfiahnya dalam bahasa Inggris yang berarti “mentah”.

"Maksudnya, karya-karya kami tidak terkonsep secara well-designed, kami mentah," tegas Griselda.

Griselda juga memiliki alasan tersendiri di balik pemilihan Jakarta Timur sebagai pusat acara. Menurutnya, untuk menjadi kreatif di Jakarta Timur butuh kegigihan yang luar biasa.

“Kami tidak dimodali orang tua, kami tidak ada investor. Kami malah disuruh jadi PNS. Jadi untuk menjadi kreatif di Jakarta Timur butuh kegigihan,” tutur Griselda.

Raw Zine Festival sudah membuka open call exhibitor pada 27 September-13 Oktober lalu. Sebanyak 108 kreator zine telah mendaftar. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, bahkan Korea Selatan.

Raw Zine Library di Cipete

Koleksi zine terbitan Trotter Tales yang tersimpan di sebuah kopor. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Diajeng Tirto juga berjumpa dengan salah satu pendaftar Raw Zine Festival asal Jakarta yang sore itu turut menikmati lapak zine, Ara (26). Menurutnya, festival-festival zine sangat penting untuk mendukung eksistensi para kreator.

“Menurutku seru banget ya. Jadi ada exposure skena zine ke masyarakat. Karena banyak orang belum familier zine itu apa. Dengan adanya festival, yang isinya nanti bakal zine semua, menurutku lebih oke. Karena selama ini kebanyakan art market sekarang menampilkan ilustrasi. Kalau pun ikut festival buku, yang bisa terlibat yang publikasinya sudah besar. Kalau festival zine kan indie, siapa pun bisa bikin,” kata Ara.

Griselda berharap Raw Zine Festival yang akan diadakan pada 5-6 Desember 2026 mendatang bisa menjadi sumber pengetahuan alternatif bagi masyarakat luas dan menjadi tempat berkomunitas yang sehat.

“Supaya zine di Jakarta semakin berdaya. Melihat Bandung dan Yogyakarta sudah punya toko, sudah punya festival, jadi komunitasnnya terfasilitasi dengan baik. Semoga kita konsisten,” pungkas Griselda.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Binar
Kontributor: Syifa Khairunnisa Zahrah
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih