diajeng.id - Jakarta Illustration Creative Arts Fair (JICAF) 2026 resmi memasuki minggu terakhirnya sejak dibuka pada 17 September 2026 di Agora Mall, Jakarta Pusat.
Tema pameran kali ini, “The World What We Draw”, lahir dari gagasan bahwa ilustrasi bukan sekadar seni, melainkan cara seniman menerjemahkan dunia melalui sudut pandang dan imajinasi masing-masing.
Sebanyak 130 pelaku seni dan ilustrator dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga daratan Cina, berpartisipasi dalam perhelatan yang digagas sejak 2023 ini untuk memamerkan serta memasarkan berbagai karya seni dalam bentuk art merchandise khas unik nan ciamik, seperti artprint poster, scarf, stiker, kartu pos, kaos, buku catatan, tas, dan lain sebagainya.
Pengalaman pengunjung semakin berkesan dengan tersedianya kertas kosong dan stempel logo seniman di setiap booth untuk dikoleksi layaknya kenang-kenangan.

Saat berjumpa dengan Diajeng pada Selasa (29/9), Mila (42) asal Jakarta bercerita dengan semangat bahwa dirinya berniat mengoleksi semua stempel yang ada di JICAF 2026. Sejauh ini, Mila sudah mengumpulkan 29 stempel.
“Bagus banget. Jadi orang bisa berhenti sejenak untuk stamp, untuk melihat, untuk membaca [deskripsi profil seniman] lebih lama,” kata Mila, yang awalnya datang ke JICAF 2026 untuk menyaksikan acara Meet The Artist Nugaraha Pratama yang berkolaborasi dengan Wiliam Wongso.
Selain menjadi surga art merch bagi penggemar seni ilustrasi dan kesempatan berjumpa dengan para seniman, JICAF juga mengadakan lokakarya, pentas panggung, acara live drawing, serta school and university day.

Berkenalan dengan Ega Mawardhani
Salah satu ilustrator perempuan Indonesia yang berpartisipasi di JICAF 2026 adalah Ega Mawardani (32).
Ega mulai tertarik dengan seni kreatif sedari kecil melalui kesenangannya menciptakan baju dari tisu untuk koleksi boneka Barbie.
Awalnya, Ega berpikir akan berkuliah di industri fesyen. Namun, seiring waktu minatnya bergeser pada aktivitas menggambar. Ega pun memilih untuk berkuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).
Setelah lulus kuliah, Ega bekerja sebagai desainer grafis sembari terus mengasah minatnya melukis dengan medium fisik seperti kertas dan kanvas.
“Dulu awalnya kerja sebagai graphic designer sambil painting. Tapi, aku semakin fokus ke karierku, sementara painting butuh waktu yang sangat banyak. Dan aku nggak bisa membawa-bawa lukisannya,” ujar Ega yang kesulitan menyalurkan hasrat melukisnya saat jam istirahat di kantor.
Maka Ega memutuskan untuk membeli iPad yang praktis dibawa ke mana-mana. Melalui perangkat canggih itulah, Ega dapat “melukiskan” unek-unek, perasaan, serta pemikirannya pada setiap waktu luang yang tersedia.
Ega mengakui bahwa partisipasi di pameran seni adalah cara yang efektif baginya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Berbeda dari kebanyakan pelaku seni, Ega tidak membuka commission art karena keterbatasan waktu di tengah kesibukannya sebagai pegawai untuk sebuah korporasi besar di ibukota.

Karya Ega di JICAF 2026: Rawness of Human
Karya-karya yang Ega pamerkan di JICAF 2026 banyak yang diciptakan dengan teknik manual. Salah satunya, artprint yang digambar satu persatu.
Ada pula pot tanaman yang dibuat manual tanpa roda putar sehingga kita bisa melihat bekas jari-jari Ega di hasil final pot tersebut. Melalui karya ini,, Ega ingin berpesan bahwa ketidaksempurnaan manusia adalah pembeda utama antara manusia dengan Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI).
“Sebenarnya aku mau menyampaikan pesan tentang ‘the rawness of human”, karena banyak hasil kreasi sekarang berasal dari AI,” kata Ega.
Secara garis besar, konsep kekaryaan Ega berangkat dari sudut pandang tanaman. Agar memberikan kesan “hidup”, Ega memberi sepasang mata pada setiap ilustrasi tanaman yang dilukisnya. Menurutnya, koneksi emosional tanaman dengan manusia sangatlah tipis atau kecil, alias tidak bisa sedalam dengan hewan, seperti anjing.

Dukungan Keluarga yang Berarti
Keluarga Ega sangat mendukung setiap langkah mimpinya. Sehari-hari, Ega berbagi tugas dengan suami untuk mengurus anak.
“Kadang pas ikut acara pameran seni begini, sebenarnya malah suami yang lebih percaya ke aku dibanding aku percaya sama diriku sendiri,” ucap Ega penuh syukur.
Ega bercerita, saat melakukan pameran di Shanghai, justru suaminya menyarankan agar dia mengambil waktu bersantai selama dua hari setelah acara untuk sekadar mencari inspirasi seni di jalanan kota tua tersebut.
“Sementara mungkin di mata orang-orang lain, ‘Kok bisa jalan-jalan sendiri padahal udah punya suami, udah punya anak? Seharusnya abis pameran ya pulang aja.’ Ya, itu tadi, aku bersyukur karena suamiku tidak patriarki dan sangat membantu untuk mimpi-mimpiku. Balik lagi, memang choosing the right partner adalah kunci,” tutur Ega.
Selama bekerja di kantor, Ega punya prinsip; fokus maksimal agar setiap penugasan bisa diselesaikan secara cepat dan efektif. Waktunya yang lain kemudian dapat dialokasikan untuk membuat ilustrasi.
Sebagai pekerja seni yang juga seorang ibu, Ega merasa perannya sebagai orang tua turut memberikan semacam ”‘mata baru” dalam mengobservasi hal-hal yang menjadi inspirasi seninya.
Karya-karya yang dihasilkannya kini semakin kaya akan keberagaman cara pandang karena kehadiran sang anak.
“Dalam penciptaan karya seni sebagai ibu, aku jadi lebih sering mempertanyakan diri sendiri dan melihat dunia jadi sangat berbeda. Hal-hal yang tadinya aku abaikan jadi aku notice karena anakku notice,” pungkas Ega.
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih