Menuju konten utama

8 Rekomendasi Buku Cerita Horor Karya Penulis Perempuan

Dari The Bloody Chamber (1979) sampai Maeve Fly (2023), bagaimana novel-novel horor mengeksplorasi pengalaman perempuan sekaligus menyuarakan kritik sosial?

8 Rekomendasi Buku Cerita Horor Karya Penulis Perempuan
Header Diajeng Rekomendasi Horor. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Menjelang perayaan Halloween di penjuru dunia, rekomendasi film bertema body horror berseliweran di linimasa media sosial kita. Genre ini menghadirkan tubuh manusia sebagai sumber ketakutan yang mengerikan.

Namun begitu, horor tentang tubuh, terutama dalam konteks pengalaman ketubuhan perempuan, tidak selalu divisualisasikan melalui adegan gore yang berdarah-darah.

Dalam karya sastra berwujud teks, buku, atau novel, tubuh dideskripsikan dalam kerangka konflik yang kompleks; mulai dari tuntutan masyarakat terhadap perempuan, relasi kuasa, hingga trauma yang diwariskan lintas generasi.

Melalui medium teks, kita bisa punya lebih banyak waktu untuk merenungi isi cerita dan berefleksi lebih jauh tentang ketidakadilan dari bagaimana tubuh dan identitas perempuan diperlakukan sehari-hari.

1. The Lamb (2025) karya Lucy Rose

Novel debut Lucy Rose mengisahkan Margot dan ibunya, Mama, yang tinggal di sebuah pondok terpencil di tengah hutan. Hidup mereka sangat terisolasi. Selama bertahun-tahun, Mama melakukan kebiasaan yang membuat kita bergidik; mengundang orang-orang tersesat ke rumah mereka, melayani mereka, lalu memakan tubuh mereka.

Kehidupan Margot kemudian berubah setelah perempuan bernama Eden datang ke pondok mereka. Kehadiran Eden membuat Margot mempertanyakan hubungannya dengan Mama sekaligus keinginannya sebagai remaja perempuan yang selama ini terpendam.

Berbalut dongeng kelam dan horor kanibalisme, novel ini mengeksplorasi relasi ibu dan anak, hasrat yang dimiliki perempuan, serta ketidakadilan yang dilewati perempuan sebagai kelompok rentan.

2. I Who Have Never Known Men (1995) karya Jacqueline Harpmann

Pernah terbayang rasanya hidup tanpa mengetahui dunia luar? Pertanyaan ini menjadi kunci dari novel karya penulis asal Belgia, Jacqueline Harpman. Cerita berpusat pada seorang gadis yang tumbuh bersama 39 perempuan lain dalam penjara bawah tanah.

Mereka diawasi oleh para penjaga laki-laki tanpa mengetahui alasan mereka ditahan maupun kehidupan apa yang ada di luar penjara. Ketika para penjaga tiba-tiba menghilang, mereka berhasil melarikan diri dan menemukan dunia yang ternyata tak lagi menawarkan kehidupan.

Meski tergolong sebagai fiksi ilmiah dan distopia, novel ini tetap mengangkat tema kebebasan perempuan. Narasi yang disampaikan oleh tokoh utama mengajak kita terlarut dalam kebingungannya, sekaligus mempertanyakan bagaimana perempuan bertahan ketika mereka tidak memiliki akses informasi terhadap perkembangan dunia.

3. Goyang Penasaran (2008) karya Intan Paramaditha

Salimah adalah penyanyi dangdut yang dikagumi sekaligus dicela oleh orang-orang di kampungnya. Goyangannya membuat banyak laki-laki terpikat. Akibatnya, Salimah jadi sasaran penghakiman moral. Ketika Salimah ditolak dan diusir oleh Haji Ahmad, guru mengaji yang dicintainya, hasrat yang dipendamnya berubah menjadi dendam.

Lewat kisah yang memadukan horor, seksualitas dan balas dendam, Intan Paramaditha mengajak pembaca melihat bagaimana tubuh perempuan menjadi target celaan masyarakat. Salimah dicap sebagai sumber dosa, sedangkan laki-laki di sekitarnya sembunyi lewat citra yang saleh.

4. The Youngest Doll (1991)

Cerita pendek yang ditulis oleh Rosario Ferré asal Puerto Riko ini mengisahkan tentang perempuan yang membuat banyak boneka untuk keponakannya. Cerita kemudian bergerak menuju kisah keponakan termuda dan relasinya dengan seorang dokter yang kelak menjadi suaminya.

Di balik kisah yang mengandung unsur horor dan fantasi, Ferré menyoroti objektifikasi perempuan serta ketimpangan kuasa dalam perkawinan.

5. The Good House (2003) karya Tananarive Due

Rumah idealnya adalah ruang yang aman bagi keluarga yang tinggal dan dibesarkan di dalamnya. Namun, tidak demikian bagi tokoh utama dalam novel The Good House karya Tananarive Due.

Alkisah, Angela Toussaint kembali ke rumah peninggalan neneknya di Sacajawea, Washington, dua tahun setelah kematian putranya, Corey, karena bunuh diri di sana.

Kepulangan Angela membuka kembali luka keluarga sekaligus serangkaian peristiwa mengerikan yang terjadi di rumah tersebut. Cerita kemudian bergeser pada perjalanan Angela yang menelusuri sejarah keluarganya. Melalui perpaduan horor dan kisah keluarga, novel ini menyorot pengalaman perempuan dalam kemelut kehilangan dan trauma masa lalu.

6. The Bloody Chamber (1979) karya Angela Carter

Dongeng yang selama ini dikenal sebagai cerita fantasi penuh keajaiban ternyata bisa berubah menjadi narasi yang gelap ketika diceritakan kembali melalui perspektif yang berbeda.

Melalui kumpulan cerita pendek The Bloody Chamber, Angela Carter menyuarakan kisah-kisah perempuan dengan hasrat, kekerasan, rahasia, dan bagaimana perempuan menghadapi ketimpangan kuasa dalam hubungan mereka.

Setiap cerita, dibalut dalam nuansa gotik dan bahasa yang puitis, menggambarkan ketakutan yang tumbuh dari relasi intim, tubuh, dan ekspektasi sosial terhadap perempuan.

7. The Haunting of Alejandra (2023) V. Castro

Pengalaman menjadi ibu umumnya dibicarakan sebagai momen yang penuh kebahagiaan. Namun, bagaimana jika peran tersebut dibayangi dengan rasa takut, tekanan, dan luka?

The Haunting of Alejandra mengangkat sisi gelap pengalaman perempuan yang dihantui sosok La Llorona, figur menyeramkan dalam cerita rakyat Meksiko.

Castro mengajak pembaca melihat bahwa sosok monster dalam cerita tidak muncul tiba-tiba. Eksistensi monster hampir selalu bisa dikaitkan dengan trauma, luka, dan pengalaman sosial yang ikut membentuk ketakutan di dalamnya.

8. Maeve Fly (2023) C.J. Leede

Novel ini menceritakan dualitas karakter Maeve yang bekerja sebagai tokoh putri di taman hiburan, akan tetapi juga memiliki sisi lain di luar pekerjaan yang brutal dan mengerikan.

Karya debut C.J. Leede asal Los Angeles ini menceritakan horor berdarah melalui tokoh perempuan yang menolak tuntutan perempuan konvensional. Kontras antara penampilan Maeve di tempat kerja dan tindakannya di malam hari menjadi kunci penting dari cerita.

Alih-alih menempatkan perempuan sebagai korban, novel ini menggambarkan perempuan sebagai pusat kekerasan itu sendiri.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih