Menuju konten utama
Diskusi Buku

Merawat Ingatan Gerakan Perempuan: Diskusi Buku Kuntilanak Wangi

Diskusi buku sejarah Gerwani karya Saskia E. Wieringa ini menjadi pengingat bahwa penindasan penguasa terhadap gerakan perempuan tidak boleh dilupakan.

Merawat Ingatan Gerakan Perempuan: Diskusi Buku Kuntilanak Wangi
Kalyanamitra dan Komunitas Bambu menggelar diskusi buku "Kuntilanak Wangi" karya Saskia E. Wieringa di Jakarta pada hari Rabu, 23 September 2026. Sesi diskusi juga mengundang sejarawan feminis Ita Fatia Nadia. FOTO/Kalyanamitra

diajeng.id - Pada hari Rabu, 23 September 2026, Kalyanamitra dan Komunitas Bambu menggelar diskusi buku Kuntilanak Wangi (The Perfumed Nightmare) karya Saskia E. Wieringa di Jakarta.

Pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sekitar tiga dekade silam, karya tulis tersebut kini diterbitkan ulang oleh Kalyanamitra dan Komunitas Bambu sebagai ajakan kepada publik untuk terus merawat ingatan tentang gerakan perempuan progresif yang pernah tumbuh subur di Indonesia sebelum akhirnya digilas oleh rezim pasca-1965.

Sesi diskusi yang diikuti secara daring oleh Saskia dari Belanda ini dibuka dengan penuturan Saskia tentang minatnya dalam mempelajari gerakan perempuan di Indonesia sejak dia menjadi mahasiswa di Amsterdam pada dekade 1970-an.

Saskia kemudian menetap di Solo selama satu tahun, persisnya pada 1977, untuk melakukan penelitian untuk tesisnya mengenai motif batik. Namun, Saskia tidak menemukan organisasi perempuan yang dapat diajak berdiskusi tentang temuannya mengenai kesejahteraan buruh batik yang memprihatinkan.

Seiring itu, Saskia mulai mengobservasi kegiatan perempuan di sekitarnya dengan mengikuti kegiatan ibu-ibu arisan atau PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Saskia juga mempelajari berbagai aktivitas dalam perkumpulan istri pegawai pemerintah/tentara (Dharma Wanita/Dharma Pertiwi).

Saskia mulai menulis naskah yang kelak menjadi buku Kuntilanak Wangi pada awal dekade 1980-an, tak lama setelah dia berjumpa dengan Sudjinah, jurnalis sekaligus tokoh organisasi perempuan progresif Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang meringkuk di kamp tahanan Bukit Duri selama 16 tahun.

Saskia terkejut mendengarkan penuturan Sudjinah tentang kejamnya fitnah alias hoaks yang dilayangkan oleh rezim Orde Baru terhadap Gerwani pada peristiwa Lubang Buaya.

Dalam bukunya, Saskia mengulas bagaimana tubuh serta seksualitas perempuan menjadi sasaran utama pembungkaman oleh rezim pasca-1965 dan bagaimana negara militeristik kala itu berupaya memberangus perempuan-perempuan pemberani di balik Gerwani sekaligus mematikan daya pemikiran progresif yang mereka advokasikan dalam gerakan yang jumlah anggotanya pernah menembus satu juta orang.

Sesi diskusi ini turut mengundang Ita Fatia Nadia, sejarawan feminis sekaligus ketua Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan (RUAS) yang melakukan riset tentang sejarah Gerwani.

Ita menceritakan bagaimana feminisme masih dianggap sebagai topik yang tabu ketika organisasi feminis Kalyanamitra didirikan pada 1985. Publikasi mereka, Mitra Media, sempat tersendat peredarannya, karena mengangkat isu-isu kritis terkait pentingnya membangun kepekaan dan kesadaran gender di kalangan perempuan, keluarga, dan masyarakat pada masa itu.

“Organisasi yang bisa menjadi referensi kita adalah Gerwani,” ucap Ita tentang semangat yang melatari kerja-kerja Kalyanamitra.

Kesejahteraan buruh dan petani perempuan menjadi perhatian utama Gerwani. Kader-kader Gerwani aktif mendatangi perempuan di kawasan pedesaan atau pegunungan yang sulit dijangkau untuk mengajarkan baca-tulis. Mereka mendirikan tempat-tempat penitipan anak dan lantang menentang praktik poligami, prostitusi, hingga pernikahan paksa. Mereka juga mengorganisasi aksi-aksi demonstrasi terhadap pemerintah terkait kenaikan harga-harga komoditas, yang dampaknya langsung dirasakan oleh kaum ibu di dapur.

Represi Orde Baru terhadap gerakan perempuan progresif seperti Gerwani pun berdampak pada perubahan posisi dan ruang gerak organisasi perempuan setelah peristiwa 1965. Riset Saskia mengungkap bahwa organisasi-organisasi perempuan setelah 1965 tidak lagi independen atau mandiri dengan daya kritis yang melempem.

Dharma Wanita dan Dharma Pertiwi, misalnya, bergerak dalam kerangka yang sejalan dengan struktur dan ideologi Orde Baru yang patriarki; menegaskan kedudukan perempuan sebagai istri yang mendampingi suami dalam rangka mendukung kerja-kerja mereka untuk pembangunan negara.

“Sampai sekarang, masih tersisa fitnah Orde Baru yang diciptakan oleh Suharto terhadap organisasi-organisasi pergerakan perempuan dan otonomi perempuan itu sendiri. Oleh karena itu, saya senang Kalyanamitra dan Komunitas Bambu sudah menerjemahkan artikel saya ke Bahasa Indonesia, dengan harapan hal serupa tidak lagi terjadi kepada perempuan-perempuan di masa kini,” ujar Saskia.

Ita juga menerangkan mengapa Saskia menggunakan istilah “kuntilanak” sebagai judul karya tulisnya. Ternyata, koran-koran yang terbit setelah 1965 menyebut aktivis Gerwani dengan istilah “kuntilanak“ dalam berbagai liputan pemberitaan tentang "kekejaman" Gerwani.

Dialita, kelompok paduan suara yang beranggotakan para perempuan penyintas tragedi 1965 dan keluarga tahanan politik, ikut memeriahkan diskusi buku dengan membawakan lagu Ujian. Lagu tersebut ditulis oleh salah satu tahanan perempuan di penjara Bukit Duri, Sri Yuswati, untuk menyemangati sesama perempuan yang ditahan di sana tanpa alasan.

Menurut kesaksian penyanyi Dialita yang berusia 21 tahun saat ditahan, Utati, beberapa tahanan perempuan lainnya masih berusia belasan tahun.

Di tengah kondisi kelaparan karena keterbatasan bahan pangan, Utati bercerita, para tahanan berupaya menguatkan satu sama lain lewat kegiatan paduan suara.

Tahanan perempuan di Bukit Duri saat itu dilarang memiliki alat tulis, sehingga lagu yang dinyanyikan tersebut diajarkan secara lisan.

Dialita juga menyanyikan Lagu Untuk Anakku yang menyuarakan kerinduan para perempuan tahanan kepada anak-anak mereka. Liriknya ditulis oleh Heryani Busono di kamp tahanan Ambarawa.

Diskusi buku Kuntilanak Wangi menjadi pengingat bahwa penindasan penguasa terhadap gerakan perempuan tidak boleh dilupakan.

Mengingat sejarah kelam pergerakan perempuan memang rentan dianggap tak lagi relevan dengan masa kini. Namun, mengingatnya kembali tetaplah penting untuk memahami bagaimana pengalaman masa lalu ikut membentuk kesadaran kita tentang kepekaan gender dan kemandirian gerakan-gerakan perempuan pada hari ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih & Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih & Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih