diajeng.id - Di tengah semangat-semangatnya bercerita pada orang-orang di sekitarmu, kamu tiba-tiba tertegun, “Kok, jadi kebablasan, ya?"
Itulah yang disebut overshare atau oversharing, ketika kita tanpa sadar membagikan sesuatu yang terlalu personal pada waktu, tempat, atau orang yang belum tentu tepat.
Padahal, setiap hubungan punya batas kenyamanan masing-masing dalam konteks keterbukaan.
Menceritakan urusan atau konflik personal bisa terasa melegakan jika melibatkan orang-orang yang tepat, seperti teman dekat, pasangan, atau keluarga. Namun, jika cerita tersebut dibagikan kepada orang yang belum cukup dekat, risikonya akan menimbulkan ketidaknyamanan, baik pada kita yang telanjur bercerita maupun orang yang telah mendengarkan cerita kita.
Di era digital, overshare jadi semakin mudah dilakukan via media sosial. Reaksi orang lain, baik yang kita kenal maupun tidak, terhadap cerita kita, akan lebih beragam, bahkan bisa berada di luar kontrol kita.
Kerumitan yang muncul dari sini pun berisiko memicu penilaian negatif dan berdampak pada kesehatan mental diri kita sendiri.
Mengapa Kita Overshare?
Kebiasaan overshare bisa muncul karena berbagai faktor. Berikut beberapa alasan mengapa kita punya kecenderungan melakukan overshare.
1. Ilusi kedekatan
Situasi-situasi yang menuntut kepercayaan, seperti kerja kelompok di sekolah, diskusi kantor, atau bahkan saat kamu creambath, facial, atau manicure-pedicure di salon, sangat mungkin menimbulkan rasa akrab.
Percakapan yang berlangsung cukup lama dengan rekan kerja atau terapis dapat membuatmu merasa lebih dekat dari kenyataannya, sehingga tanpa sadar kamu terbawa suasana dan menjadi terlalu terbuka.
2. Mencari perhatian atau validasi
Bagi sebagian orang, overshare dilakukan untuk mencari perhatian, pengakuan, atau bahkan memperkuat basis follower atau pengikut di media sosial. Dalam konteks ini, overshare sering dianggap sebagai cara untuk menarik engagement dan membangun personal branding.
3. Nyaman dengan orang asing
Di ruang tunggu klinik atau di tengah perjalanan wisata, kita sering merasa lebih "lepas" karena merasa memiliki kemungkinan kecil untuk berjumpa lagi dengan orang-orang yang kita temui. Minimnya konsekuensi sosial jangka panjang ini bisa membuat kita jadi overshare.
4. Sulit memahami batasan
Pada orang-orang yang kesulitan mengenali batasan sosial, overshare bisa terjadi tanpa disadari. Hal ini sering dipengaruhi oleh kebiasaan atau pola asuh sejak kecil.
5. Ingin membuat orang lain nyaman
Ini bisa terjadi ketika kamu bertemu dengan orang yang lebih dulu membuka diri. Dari situlah, kamu mungkin merasa perlu membalas dengan cerita pribadi agar mereka juga merasa nyaman telah mengajakmu ngobrol mendalam.
6. Ingin mempercepat kedekatan
Apabila kamu ingin cepat akrab dengan orang yang kamu ajak bicara tersebut, overshare bisa jadi salah satu caramu untukmembangun koneksi emosional secara instan.
7. Kondisi mental
Beberapa karakteristik seperti narsistik, ekstroversi, kecerdasan emosional yang rendah, atau kondisi seperti ADHD dan autisme dapat membuat seseorang lebih rentan overshare. Hal ini berkaitan dengan kesulitan membaca situasi sosial, memahami batas, atau mengontrol dorongan impulsif.
Tanda-tanda Kita Overshare
Tidak semua orang sadar saat dirinya mulai overshare lantaran kejadiannya tidak sengaja atau terjadi terlalu cepat. Lalu, bagaimana cara mengenali tanda-tanda kita sudah overshare? Coba kenali pola berikut dan mulai refleksikan langkah untuk menavigasinya.
1. Terlalu sering meminta pendapat orang lain
Terlalu sering meminta masukan, bahkan untuk urusan-urusan sepele atau tidak penting, bisa jadi pintu yang membuka overshare. Hal ini juga membuat orang lain merasa harus terlibat dalam urusan yang sebenarnya bisa kamu tangani sendiri.
2. Media sosial
Perhatikan seberapa sering kamu membagikan hal-hal pribadi di media sosial, apalagi jika tidak semua pengikutmu adalah orang dekat. Kalau kamu terlalu sering membagikan hal-hal yang tidak perlu diungkapkan di medsos, orang-orang bisa menarik jarak dari kamu.
3. Merasa harus mengisi setiap keheningan
Kamu mudah merasa gelisah dan canggung ketika suasana sepi atau hening. Akibatnya, kamu jadi terdorong membicarakan hal-hal yang terlalu pribadi dan tidak sesuai dengan situasi.
4. Teman dan keluarga jadi “terapis”
Apabila obrolan sering berubah jadi ajang curhat satu arah darimu sampai orang lain sulit ikut bicara, bisa jadi kamu mulai overshare. Sebenarnya, mencari dukungan dari teman atau keluarga memang wajar-wajar saja, tetapi percakapan yang tidak seimbang lama-lama bisa membuat lelah dan membebani lawan bicara.
5. Sulit menjaga privasi
Kalau kamu pernah membagikan rahasia orang lain demi merasa terhubung dengan lawan bicaramu, ini juga termasuk overshare. Perilaku ini bisa merusak kepercayaan dan bikin orang lain malah enggan terbuka denganmu.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih