Menuju konten utama

Goblintimacy: Tren Kencan yang Mengajak Kita Tampil Apa Adanya

Tren ini muncul sebagai reaksi atas rasa lelah terhadap budaya aplikasi kencan yang kerap dikritik sarat kepalsuan dan foto-foto terlalu sempurna.

Goblintimacy: Tren Kencan yang Mengajak Kita Tampil Apa Adanya
Header diajeng Goblintimacy. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Jika kamu melihat sebuah hubungan ideal adalah yang menampilkan kesempurnaan dari masing-masing pasangan, maka goblintimacy berbeda.

Dalam konteks goblintimacy, hubungan terbaik tidak harus selalu menunjukkan sosokmu yang sempurna, tetapi akan lebih bermakna jika kamu dapat menunjukkan dirimu apa adanya, termasuk kekurangan, ketidaksempurnaan, atau kejelekan—seperti goblin yang buruk rupa.

Goblintimacy adalah platform sekaligus gerakan digital yang fokus utamanya membangun hubungan autentik dan koneksi antarmanusia yang lebih tulus, baik dalam kehidupan pribadi maupun secara profesional.

Gerakan ini bukan melarang kita untuk membangun citra sempurna di mata dunia, tetapi mengimbau kita agar merangkul aspek-aspek "kekacauan" atau "berantakan" di dalam diri yang membuat setiap orang jadi autentik dan unik.

Melalui beragam konten inspiratif, kegiatan komunitas, dan aktivitas yang interaktif, gerakan goblintimacy ingin membantu orang-orang yang berminat untuk mengembangkan kesadaran diri dalam menjalin hubungan lebih tulus dan dekat dengan sesama.

Salah satu caranya dengan mengikuti kuis goblintimacy, yang dirancang untuk membantu kita mengenali tingkat goblintimacy dalam diri.

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bisa diakses di situs resmi goblintimicay, kita bisa mengukur mengukur seberapa nyamannya kita menjadi diri sendiri, seberapa terbukanya kita dalam membangun hubungan dengan pihak lain, dan bagaimana pula cara kita untuk merasa terhubung dengan orang lain.

Kuis ini di antaranya menanyakan apa yang kamu lakukan untuk persiapan kencan pertama (berdandan serapi mungkin, tampil santai sehari-hari pakai baju apa adanya, langsung curhat tentang hobimu yang nyentrik), bagaimana kamu bereaksi kalau teman kencanmu mendapati koleksi lagumu yang memalukan (berkilah, membela lagu-lagu tersebut, meminta teman kencan untuk mendengarkan lagu tersebut), apa yang kamu lakukan setelah tidak sengaja mengirimkan selfie ke teman kencan (minta maaf, kirim selfie yang lebih bagus lagi).

Hasil kuis ini pun bukan untuk melabeli pilihan kita benar atau salah, melainkan sebagai cerminan dalam memahami diri sendiri dan seberapa besar kita bisa terkoneksi dengan orang lain.

Sekali lagi, goblintimacy mengingatkan bahwa hubungan yang berharga itu tidak selalu perlu dibangun atas dasar kesempurnaan. Kita juga bisa memulai relasi yang bermakna dengan menunjukkan diri secara apa adanya sejak pertemuan pertama.

Tren goblintimacy muncul sebagai reaksi atas rasa lelah terhadap budaya aplikasi kencan yang kerap dikritik karena sarat kepalsuan dan foto-foto yang terlalu sempurna.

Hal-Hal yang Bisa Disorot dari Goblintimacy

Lantas, apa yang dapat kita maknai setelah menerima skor atau angka dari kuis goblintimacy?

Sistem skor numerik yang muncul sebagai hasil kuis ini sekilas memang bisa dilihat sebagai indikator untuk mengukur tingkat keterbukaan diri kita.

Namun begitu, secara konseptual, semakin tinggi poin yang kita peroleh atau semakin sering kita mempraktikkan prinsip-prinsip keterbukaan ala goblintimacy, semakin kita menolak norma sosial dan standar kesopanan umum demi kejujuran yang terbuka.

Dalam laman Psychology Today disebutkan beberapa sisi penting yang perlu diperhatikan dari tren kencan goblintimacy:

Menghemat Waktu

Dengan menunjukkan sisi "brutal" yang kamu miliki sejak awal kencan, maka kamu sudah bisa menyaring orang-orang yang tidak cocok denganmu dari awal pertemuan. Apabila ada yang bertahan setelah tahu sisi terburukmu, kemungkinan besar hubungan kalian bisa berjalan sehat ke depannya.

Mengurangi Tekanan

Penampilan yang apa adanya cenderung membuat kita jadi lebih rileks lantaran tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi. Kadang-kadang, kamu malah jadi kelihatan lebih menarik dan mudah didekati.

Dapat Menemukan Pasangan yang Klik

Seperti mencari pakaian dalam, kecocokan bukan hanya soal kekuatan, tapi juga apakah "letaknya" berada di tempat yang tepat bagi satu sama lain.

Risiko Oversharing

Meski goblintimacy menekankan kejujuran, ada juga sisi minusnya. Pasalnya, tidak semua orang merasa "aman" dan nyaman setelah mendengarkan kebenaran pahit dalam bentuk "potongan informasi" di awal kencan. Misalnya, menceritakan masalah trauma keluarga atau kecanduan di awal tanpa membangun rasa percaya terlebih dahulu bisa membuat orang lain merasa terbebani.

Bukan Keintiman yang Sejati

Keintiman didefinisikan sebagai kemampuan untuk berbagi hidup secara aman. Menerapkan prinsip-prinsip goblintimacy secara ekstrem berisiko menciptakan trauma bonding, yaitu ikatan berdasarkan luka emosional yang sering kali disalahartikan sebagai keintiman sejati.

Bisa Menjadi Tidak Sopan

Ada batasan antara menjadi diri sendiri dengan menjadi tidak hormat. "Goblin mode" yang berlebihan, seperti datang sangat terlambat, tidak menjaga kebersihan, atau hanya mengeluh sepanjang kencan, bisa bikin orang lain merasa tidak dihargai.

Haruskah Kita Tampil Apa Adanya?

Pertanyan selanjutnya, apakah sebaiknya kita perlu menampilkan diri apa adanya ke teman kencan sejak awal pertemuan, atau perlu memberikan impresi dan penampilan terbaik?

Pada dasarnya, menjadi diri sendiri bukan berarti kita mengumbar segala versi diri kita, terutama pada pertemuan-pertemuan pertama.

Perjalanan mengenal calon pasangan itu cukup panjang. Dalam proses ini, kita tidak diharuskan untuk mengungkap segala isi kepala, kerasahan diri, hingga kesalahan di masa lalu, demi mendapatkan semacam pengakuan atau pengampunan dari orang yang baru saja dikenal.

Biarkan saja orang lain mengenal kita berdasarkan apa yang mereka pikirkan. Yang penting, kita sudah berupaya memberikan kesan yang baik dan sopan, tanpa perlu sampai memalsukan diri.

Autentisitas itu penting, selama itu tidak berubah menjadi sikap tidak hormat yang membuat orang lain tidak nyaman sebelum sempat mengenal siapa diri kita sebenarnya. Sebab, perkenalan dan keakraban itu pun butuh proses.

Simak juga artikel terkait relationship di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih