diajeng.id - Artikel ini adalah bagian pertama dari Serial Diskusi dengan dr. Rizni yang membahas topik "Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Bercita-Cita Menjadi Dokter". Selamat membaca!
Coba, apa ingat dulu waktu kecil, hampir selalu ada masa-masa ketika kita menyerukan cita-cita jadi dokter?
Kita biasanya terinspirasi dari pengalaman sehari-hari setelah berjumpa dengan sosok tenaga medis atau tenaga kesehatan yang pernah membantu keluarga. Selain itu, dari paparan media dan cerita orang, mungkin kita terdorong untuk menjadi penyelamat dan penolong bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Meski orang tua kita dan para orang dewasa di sekitar kita terdengar senang dengan semangat anak kecil jadi dokter, faktanya, tidak semua langsung merasa yakin. Apalagi, di dalam keluarga tidak ada yang memiliki latar belakang di dunia kesehatan.
Bagi sebagian orang tua, terutama yang kondisi ekonominya biasa dan menengah, keinginan anak untuk menempuh pendidikan kedokteran bisa terasa berat.
Biaya pendidikan kedokteran yang tinggi dan bayang-bayang sulitnya materi pembelajaran kerap menimbulkan kekhawatiran. Di sisi lain, orang tua yang tidak punya dasar keilmuan dokter bisa jadi merasa kurang percaya diri dalam mendampingi proses belajar anak.
Menariknya, keraguan tidak hanya datang dari orang tua yang tidak memiliki latar belakang medis.
Bahkan di kalangan dokter sendiri, ada yang merasa ragu mendorong anaknya mengikuti jejak yang sama.
Salah satu di antaranya adalah Brennan David Kruszewski, MD yang tumbuh dalam keluarga dokter dan sangat memahami dunia medis dari dekat.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam ini, kondisi profesi dokter saat ini telah banyak berubah dan tidak selalu seideal yang dibayangkan.
Perubahan sistem layanan kesehatan, berkurangnya kemandirian dokter dalam praktik, hingga beban utang pendidikan yang tinggi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi.
"Dunia kedokteran saat ini hampir tidak menyerupai kondisi ketika saya geluti pada tahun 90-an," tulis Dr. Kruszewski.
Meski begitu, ia tetap mengakui bahwa makna dan kepuasan menjadi dokter masih ada. Alih-alih melarang, ia memilih untuk tidak memaksakan dan masih tetap membuka jalan jika anaknya benar-benar ingin menekuni profesi tersebut.
"Hal-hal terbaik tentang kedokteran masih ada di luar sana untuk ditemukan, bagi kita yang mencarinya. Sensasi ketika berhasil menegakkan diagnosis yang akurat tetaplah sama, begitu pula kepuasan dalam menjalin hubungan jangka panjang dengan pasien," terangnya.
Penjelasan lainnya datang dari penuturan dokter lulusan UCLA, Stanford Oncology David Chan, MD yang telah dipublikasikan ulang oleh HuffPost pada 2016 lalu.
Dr. Chan menegaskan bahwa keraguan dukungan untuk anak menjadi dokter tersebut bukan karena profesi dokter kehilangan makna. Penyebabnya lebih berkorelasi dengan kondisi sistem yang semakin kompleks.
Banyak dokter harus berhadapan dengan tekanan administratif, keterbatasan kendali atas praktik, dan jalur pendidikan yang panjang serta mahal.
"Dunia kedokteran telah banyak berubah selama 15 tahun terakhir. Semuanya menjadi sangat diatur dan saat ini terlalu banyak waktu dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak berkaitan dengan perawatan pasien. Beban administrasi sangat besar," tulis Dr. Chan.
"Mustahil untuk mengikuti peraturan yang terus bertambah setiap tahun. Dokter sekarang harus bergabung dengan grup lebih besar untuk mendapatkan bantuan regulasi dan administrasi yang diperlukan," lanjut Dr. Chan.
Di balik berbagai tantangan yang ada, kemauan anak untuk menjadi dokter perlu diapresiasi oleh orang tua dan keluarganya. Dukungan inilah yang sangat berarti bagi dr. Rizni Fitriana, M.Biomed.
Dokter dan dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta ini bercerita bahwa dirinya adalah dokter pertama di keluarga. Meski dibesarkan dalam lingkungan keluarga nonmedis, ketertarikannya pada profesi dokter tumbuh secara alami sejak kecil.
"Dari kecil memang sudah punya minat untuk menjadi seorang dokter, walaupun waktu masih SD belum tahu profesi dokter itu sebenarnya seperti apa, tapi melihat gambaran-gambaran umum dari dokter itu sudah mulai tertarik. Sampai akhirnya ketika SMA sudah mulai memutuskan mau sekolah kedokteran," kisahnya kepada Diajeng belum lama ini.
"Pada waktu itu, sudah berusaha untuk ikut les, belajar yang cukup," lanjut dr. Rizni, "tapi keadaan waktu itu ternyata tidak memungkinkan saya untuk langsung jadi mahasiswa kedokteran,"
Akhirnya, dr. Rizni memilih jeda untuk menunda pendidikan atau istilahnya “gap year”. Waktu tersebut dimanfaatkannya dengan kuliah di jurusan Biologi sebagai strategi untuk memperkuat dasar keilmuan sebelum kembali mencoba masuk ke sekolah kedokteran.
Baik pihak keluarga dan dr. Rizni sendiri tidak menampik betapa beratnya tantangan selama menempuh pendidikan kedokteran. Meski tidak memiliki latar belakang medis, orang tuanya tetap berusaha memberikan dukungan dan pengertian.
"Semua itu bisa dilewati dengan pengertian orang tua yang cukup dan juga sangat suportif," imbuh dr. Rizni.
Nantikan artikel selanjutnya berisi saran-saran praktis dari dr. Rizni untuk orang tua yang ingin mendukung cita-cita anaknya jadi dokter!
Editor: Sekar Kinasih